Celebrity Husband

Celebrity Husband
Terbayang selalu


__ADS_3

Bab 54.


“Sayang..” panggil Akram setelah mandi dan menghampiri Aruna yang tengah sibuk berkutat didapur.


“Kamu sudah bangun? bagaimana keadaanmu? apa masih tidak enak baan?” balas Aruna seraya memindahkan menu sarapan yang sduah dimasaknya dari pantry kemeja makan, Aruna memang semapat dongkol semalam karena ingin kembali bercinta namun Akram justru tepar tak berdaya tiba tiba.


“Keadaanku sudah lebih baik,” Akram duduk dikursi makan menyantap kopi hangatnya yang masih mengeluarkan asap tipis. Mereka menyantap makanan bersama.“Sepertinya aku terlambat,” Akram menyudahi sarapanya dan berbegegas beranjak dari kursinya.“Aku pergi dulu ya,” tak lupa ia mencium kening dan calon bayinya. Aruna tersenyum mengantar Akram keluar rumah.


***


Siang itu Akram masih berkutat dengan nasakah skenario yang menuntut untuk diperankanya, sampai waktu break tiba.“Loe enggak cari makan?” tanya Akram mengahampiri Rio salah satu rekan krjanya.


“Bnetar, tanggung nih,” sahut Rio yang tampak fokus menatap layar ponselnya.


“Dilanjut nanti aja kali, gue laper nih,” Akram duduk disamping pria itu yang masih tanpak serius menatap layar ponselnya, ekor mata Akram melirik ponsel yang masih dipegang tenmanya itu, ia penasaran apa yang sedang dilihat Rio dipponselnya.


“Gila loe,” seru Akram yang melihat dengan jelas Rio sedang menonton video dewasa diponselnya.


Rio hanya terkekeh.“Mau nonton juga? enggak usah munafik lah, udah gede ini,” sahut Rio menyodorkan ponselnya kearah Akram.


“Nonton sih nonotn tapi enggak siang siang gini, kalau pengen gimana,” Akram mengaruk garuk kepalanya yang tidak gatal namun ikut menonton video berasama. Sedang Rio hanya terkekeh geli dengan ucapan Akram.


Mereka berdua tampak terhanyut dengan video mesum yang meraka tonton siang bolong itu. Akram yang menonton adegan demi adegan vidoe itu justru teringat dengan Aruna, saat mereka bercinta. Aruna sangat mengairahkan dan mendominasi permainan persis seperti divideo membuat Akram tiba tiba merindukan istrinya itu.

__ADS_1


“Udah ah, bahaya, loe sih enak punya istri,” Rio mematikan video yangs sedang diputarnya dan mengajak Akram untuk makan siang bersama.


Waktu break syuting sudah selesai, Akram kembali melanjutkan perkerjaanya. Tapi ada yang aneh dengan dirinya, wajah Aruna saat mereka bercinta terus terbayang dibenaknya.“Aduh jadi kebayang terus nih,” gumam Akram yang risau.


Syutingh hari itu tak berjalan lancar beberapa kali sang sutradara meminta Akram beberapa kali mengulangi adeganya, ia benar benar tak bisa berkonsentrasi mengahfalkan skrip wajah Aruna terus terbayang, tak seperti biasanya.


“Stop ! stop!” seru sang sutradara.“Aduh gimana sih masa salah terus, mending konsen deh hafalin dengan benar skripnya,” keluh sang sutradara pada Akram untuk kesekian kalinya membat kesalahan.


Akram mengangguk, memilih duduk disofa, menyandarkan tubuhnya disana.“ADuh, kenapa sih gue,” keluhnya yang benar benar tidak bisa berkonsentrasi kerena Aruna. Akram mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mencoba menghubungi Aruna.


[Halo sayang, kenapa?” suara lembut Aruna terdengar dari balik telepon.


[Kamu bisa kesini sekarang enggak? ke lokasi syutingku,]


Aruna mengerutkan keningnya.[Ke lokasi syuting? untuk apa?]


Aruna mendadak panik, ia takut Akram kembali tak enak badan.[Baiklah, aku kesana sekarang, kamu tunggu,] Aruna menutup teleponya, ia bergegas mengganti pakianya dan menaiki taksi menuju lokasi syuting Akram.


Beberapa saat kemudaian Aruna tiba ditempat syuting tersebut, temapt itu terletak disebuah aparetemen mewah Aruana meraih ponselnya menghubungi Akram, memberitahu jika ia sudah sampai.“Kemana sih dia?” Aruna memuatar pandanganya mencari Akram yang tak juga menghanpirinya.


Aruna terlonjak kaget saat tangan kananya tiba tiba ditarik seseorang.“Sayang?” Aruna bingung karena Akram tiba tiba menuntunya kesuatu tempat.“Kita mau kemana?” Aruna terus mengikuti kaki Akram melangkah.


Mereka melewati lorong panjang dengan, dengan lorong berwarna gold yang mendominasi. Akram menarik tangan Aruna, menyudutkan tubuhnya didinding sebauh lorong yang sepi.“Sayang, nagpain sih kita kesini?” Aruna semakin tak mengerti dengan gelagat aneh Akram.

__ADS_1


“Aku rindu kamu, ingin kamu,” bisik Akram seraya mencium telinga dan sisi leher Aruna, bahkan tangan nakalnya sudah menyingkap dress selutut yang dikenkanya.


“Sayang, sadar, ini tempat umum,” Aruna meraih tangan Akra yang sudah menjalar nakal, Aruna berfikir Akram mungkin sakit jadi ia buru buru datang kesini, tapi ia salah ternyata Akram menyuruhnya datang hanya ingin bercinta denganya, benar benar konyol.“Jadi kamu menyuruhku datang jauh jauh hanya untuk melayanimu?” Aruna merasa gemas dengan tingkah suamiya itu.


“Maaf, tapi aku benar benar tidak bisa berkonsentrasi saat syuting, aku terus terbayang saat kita bercinta,” ujar Akram dengan wajah frustasinya.


Sontak saja ucapan Akram membuat Aruna terkekeh geli mendengarnya.“Benar seperti itu?” Aruna menatap tak percaya masih dengan tawanya.


Akram terpaku dengan senyum manis sang istri, tanpa aba aba ia menagkup wajah Aruna, menududukan dan memiringkan kepalanya, menyentuh dan ******* bibir ranum sang istri. Bibir Aruna yang semula terkatup perlahan terbuka, merespon ciuman hangat itu, mereka berpangutan mesra, Aruna tak keberatan saat sebelah tangan Akram memeluk dan meraba tengkuknya, ia rasa itu lebih baik dari pada Akram membayangkan dan ingin bercinta dengan wanita lain.


Tak jauh dari tempat mereka bercumbu tanpa mereka sadari ada seoarang pria yang sedari tadi memperhatikan mereka, Arga yang berniat untuk menemui Hellena di cafe dekat lokasi tanpa sengaja melihat Aruna, tak disangaka niatnya untuk membunti Aruna justru kini harus menyaksikan keduanya bercumbu mesra, membuat hatinya terbakar cemburu.


“Mereka benar benar memuakan!” desis Arga kesal memalingkan wajahnya.


Sampai tiba tiba ada yang menarik sebelah tanganya, memegang bahu dan menciumnya tanpa ijin.


Hellena!


Arga terbelalak kaget saat Hellena mencium bibirnya tanpa permisi, bibir seksinya, meyentuh permukaan bibir Arga yang lembab yang bahkan masih terkatup, Arga mendorong kasar tubuh Hellena agar menjauh darinya.


“Apa yang kau lakukan?” Arga menatap kesal Hellena yang telah lancang menciumnya tiba tiba.


“Aku hanya tak ingin kamu menghabisakan waktumu untuk melihat mereka bercumbu,” balas Hellena dengan wajah tenangnya.

__ADS_1


Arga tersenyum kecut.“Itu bukan urusanmu,” tegasnya.“Dan seharusanya kamu menjaga harga dirimu sebagai wanita, prilakumu benar benar seperti wanita murahan, aku bukan pelangganmu.” ketus Arga.


Perkataan Arga seketika membuat wajah Hellena yang terlihat tenang menjadi sendu dengan mata yang berkaca kaca ia menatap pria angkuh yang berdiri dihadapanya itu, perkataan Arga benar benar sangat menusuk untuknya.“Ya, aku memang wanita murahan.” Hellena tersenyun lirih dan melenggang pergi meninggalkan Arga.


__ADS_2