Celebrity Husband

Celebrity Husband
Satu kamar


__ADS_3

Bab 17.


Aruna masuk kembali kekamarnya, melihat Akram yang masih bersandar risau di ranjangnya dengan risau.“Kapan kau akan npulang?” ketus Aruna.


“Kalau kau mau pulang hari ini, kita pulang hari ini,” sahut Akram.


“Aku tidak mau pulang.” tegas Aruna.


“Yasudah, aku yang akan disini,”


“Tapi nanti warga dan ibu akan curiga jika kamu lama disini,” Aruna semakin gemas dengan pria dihadapanya itu.


“Yasudah kalau begitu kamu harus pulang.” sahut Akram tak mau kalah. Aruna mendengus kesal dan bergegas keluar dari kamarnya.


***


“Dimakan nak Akram,” tawar ibu yang sudah menyiapkan makan malam.


“Makasih bu,” Akram tersenyum ramah dan mulai menyantap makan maalamnya.


“Nak Akram masih betah tinggal disini?” tanya ibu disela sela makan malam mereka.


“Ibu keberatan saya tinggal disini?” Akram balik bertanya dengan wajah yang sedikit tersinggung.


“Bukan, bukan seperti itu, maksud ibu keadaan disini kan seperti ini, tentu sangat berbeda dengan dikota, ibu hanya takut nak Akram tidak betah,” ibu mencoba meralat perkataanya pada majikan putrinya itu.


“Aku akan pulang dengan Aruna, kasihan dia jika harus naik bis sendirian,” Akram mencari alasan.

__ADS_1


“Nak Aram ini baik sekali,” puji ibu merasa senang Aruna mempunyai majikan seperhatian Akram.“Aruna, sebaiknya kamu cepat cepat pulang kekota, kasihan majikan mu jika berlama lama disini, ruamahnya disana pasti tidak ada yang mengurus,” titah ibu dengan lembut.


Aruana menuang air putih dalam gelas, dan meminumnya dengan sekali tengguk.“Tapi bu..”


“Aruna, ibu sudah senang kok kamu menyempatkan kesini walau hanya beberapa hari saja, kamu kembali fokus berkerja saja, ibu tidak apa apa,” bujuk ibu.


Aruna menghela nafas gusar.“Baiklah aku akan kembali kekota besok,” jawbnya denngan berat hati dari pada ibu semakin curiga jika Akram berlama lama disini. Akram pun tersenyum puas dalam hatinya.


Keesokan harinya Aruana sudah mempacking semua barang barangnya dan berisiap untuk kemabali kekota.“Aruna pergi dulu ya bu,” pamit Aruna mencium punggung tangan ibunya.


“Hati hati ya sayang,” ibu mengusap lembut pucuk kepala sang putri.


Aruana memeluk ibu, tak bisa lagi membendung air matanya, rasa takut akan perlakuan kasar Akram dirumahnya kembali menyelimuti perasaanya.“Sayang kok nangis?” ibu melepas peluknya, menyeka air mata yang membasahi wajah Aruna.


Aruna menggeleng.“Tidak, Aruna hanya sedih saja harus berpisah dengan ibu,” balasnya mencari alasan, menyembunyikan rasa takutnya.


Tak ada percakapan diantara keduanya selama perjalanan. Arkram yang seakan fokus menyetir dan Aruna yang terus membuang pandanganya. Sampai sore hari mobil itu kembali tiba dikediaman mereka. Akram segera membuka pintu dan mengambil kasar tas besar yang dipegang Aruna.“Tas ku mau dibawa kemana?” dengan wajah bingung Aruna mengikuti kaki Akram melangkah.


Akram melepar tas besar itu keranjang.“Bareskan pakaianmu disana,” Akram menujuk lemari besar dikamarnya.


Aruna tercenung.“Kamar ku disebelah,” segera ia mengambil tasnya, namun Akram dengan cepat menahanya.


“Kamar sebelah pintunya masih rusak, belum aku perbaiki,” ucapnya mengingat pintu tersebut sempat ambruk kerena didobraknya.


“Yasudah tidak apa apa tidak ada pintu juga,” Aruna tetep berusaha menarik tasnya yang diegang Akram.


“Apa kau ingin melihat orang lain melihatm saat berganti pakaian? bagaimanas jika tiba tiba ada tamu?”

__ADS_1


“Yasudah kalau begitu panggil orang untuk memperbaiki pintunya sekarang,” Aruna dengan lugas memerintah pada majikanya itu.


Akram mengeratkan giginya gemas.“Mana ada ornag yang mau dipanggil malam malam begini, sudahlah lakukan perkerjaan mu, rapihkan tempat tidur ini,” Akram menunjuk tempat tidur yang berantakan. Aruna pun pasrah dan meapaihkan ranjang besar itu.“Mandilah, tubuhmu bau,” Akram melemparkan handuk kearah Aruna.


Aruna spontan mengendus aroma tubuhnya, rasanya tak ada bau ditubuhnya itu.“Aku akan mandi dilantai bawah,”


“Lantai bawah kranya rusak,” Akram menhan lenganya. Aruna terdiam bimbang.“Cepat mandi, aroma tubuhmu sangat mengangguku,” ketus Akram.


Aruna pun menurut, ia akan langsung tidur selesai mandi. fikirnya.


Aruana masuk kekamar mandi, menyalahkan shower guyuran air shower seakan memijat tubuh lelahnya, tanganya meraih sabun cair dengan aroma yang menyegarakan dan menggosokan pada tubuhnya itu. Sesaat kemudian Aruna dikagetkan dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka, dengan cepat ia menoleh.“Akram?!” ucapnya setengah berteriak, saat suaminya itu tiba tiba masuk kedalam tanpa ijin.


“Apa kau biasa mandi tidak mengunci pintu?” godanya.


Aruna tak berani membalikan tubuh polosnya tanganya segera meraih handuk yang tergantung didekatnya, namun dengan cepat Akram menahan gerakan tangan mungil itu dan mematikan shower yang masih menyalah. Akram membalikan tubuh Aruna kearahnya. memandangi tubuh polos Aruna yang basah, kulit putih cerah, dengan bagian dada yang sintal dan pucuknya yang berwarna pink kecoklatan, sungguh sangat menggoda untuknya.


“Lepasakan,” ucapnya dengan gemetar dan tertunduk dengan wajah yang merona saat Akram terus memandangi tubuh polosnya, tetap mengunci pergerakan tanganya.


Akram tersenyum, mengangkat dagu Aruna agar manatapnya. Pandangan mereka saling bertemu dalam diam, Akram segera mencium bibir ranum itu, ********** dengan sangat lembut. Aruna sangat pasif ia enggan membalas pangutan Akram dengan bibir yang masih terakatup. Akram mengalihkan bibirnya pada ceruk leher Aruna, membuat beberapa tanda merah disana. Ia mengecup bahu polos Aruna, kulit halus itu sangat memabukan untuknya.“Aku menginginkanya sekarang, layani suamimu,” bisik Akram dengan sensual.


Hebusan nafas Akram terasa memburu melewati daun telinga Aruna. Bibir nakalnya tak tinggal diam, kini ia mengecup bagian dada sintal Aruna yang seakan menantangnya. Ia memilin, dan memyesapnya dengan sangat lembut. Aruan mengigit bibir bawahnya, sekauat tenaga ia menhana desahan yang keluar dari bibirnya.


“Hentikan,” ujar Aruan dengan nafas terengah tak dapat menahan desiran hebat ditubuhnya saat Akram terus menghisap dadanya tanpa ampun. Akram tersenyum samar melihat wajah Aruna yang memerah. Ia segera mengendong tubuh polos itu keluar dari kamar mandi, tak menghiraukan Aruna yang terus memberontak dari gendonganya.


Akram merebahkan tubuh Aruna diranjang, jemarinya merayap meraih selimut tebal disisinya, tapi lagi lagi Akram mehanan gerakanya, melempar selimut tersebut kesembarang arah.“Puaskan aku, aku akan melakukanya dengan lembut.” bisiknya kembali, mengecup daun telinga yang memerah itu.


Taanggung ya.. ****anak**** ku ****keburu**** bangun 😅 makasih ya yang setia nunggu novel ini up.. maaf aku enggak bisa up teratur karena harus cepat nyelesain novel aku di lapak sebelah, mungkin awal bulan aku baru bisa up teratur disini 😊

__ADS_1


__ADS_2