Celebrity Husband

Celebrity Husband
Tak diakui


__ADS_3

Bab 8.


“Aruna, dari mana saja kamu?” tanya pak Setya yang tak melihat menantunya itu selama beberapa hari.


“Aku..”


“Kami baru saja pulang berlibur, aku mengajaknya menginap diapartemen, iya kan sayang?” Sela Akram sebelum Aruna menjawab, sebelah tanganya merangkul sang istri, sedikit mencengkram lenganya, memberi isyarat agar Aruna mengikuti kebohonganya.


“I..iya, tuan Akram mengajak ku berlibur,”


“Oia? baguslah, teruslah bersikap baik pada istrimu,” pak Setya menepuk bahu putranya, senang dan berlalu pergi.


“Jangan pernah mengatakan hal yang macam macam,” ancam Akram, berbisik penuh penekanan.


***


Malam yang larut ini menemani kesendirian seorang pria yang tengah menikmati kopi hangatnya. Arga masih mengingat jelas raut wajah Aruna yang penuh ketakutan pada majikanya itu.“Apa hidupnya baik baik saja?” batin Arga menerka nerka.


Arga memicingkan matanya, melihat sesuatu dilayar televisinya.“Pria itu?” terlihat pria berparas tampan yang tengah berakting dilacar kaca.“Bukankah itu majikan Aruna?” Arga memang tak begitu mnghafal wajah artis dan aktor yang seliwiran dilacar kaca.“Akram Nicole? dia seorang aktor?” Arga tersenyum kecut.“Pantas saja dia arogan sekali, aku semakin yakin jika hidupmu tidak baik baik saja.” batin Arga dengan pemikiranya.


***


“Lihatlah ini,” pak Reno meyodorkan majalah kearah Akram.“Film barumu tembus di pasaran, respon mereka sangat bagus terutama cemistry mu dengan Liona,” sambung pak Reno, membaca artikel dalam majalah tersebut.


Akram tersenyum tipis mendengar berita tersebut, kerja kerasnya kali ini tak lagi sia sia, hidupnya semakin jauh dengan kemiskinan seperti dulu.“Penggemarmu sangat berharap kalian menjadi sepasang kekasih didunia nyata,”


Akram tertawa kecil.“Perkataan mu sangat lucu, kau ingin dia menjadi kekasih ku di dunia nyata? bukankah kau yang melarang keras aku berhubungan dengan wanita manapun?” balas Akram mengerti maksud dari ucapan pak Reno.


_“Liona itu aktris yang sangat bertalenta, bahkan namanya sudah melambung sebelum mu, ini hanya strategi untuk semakin melambungkan nama kalian berdua, berpura pura lah menjalin hubungan, akan banyak keuntngan yang kau dapatkan,” tawar pak Reno dengan rencananya.


Akram tak memberi jawaban, satu yang pasti karir yang semakin cemerlang adalah priritasnya saat ini, ia takut kubang kemiskinan kembali menghampirinya.


“Aruna sini,” Aruna yang sedang membersihkan kamar tamunya terlojak kaget saat Desi menarik paksa lenganya, mengikuti langkah kakinya menuju kamar pembantu.“Ada apa?” tanya Aruna, bingung.


“Lihatlah,” Desi menujuk televisi dikamarnya.


Mata Aruna tertuju pada Akram ditelevisi yang bersama seorang gadis cantik disisnya. Aruna tampak terkejut dengan pernyataan yang dibuat suaminya jika dirinya tengah dekat dengan wanita tersebut yang tak lain lawan mainya. Entah kenapa hatinya terasa sakit, melihat Akram yang dengan enteng menyebarlusakan kedekatanya dengan wanita itu sedang istri sahnya justru disembunyikan.

__ADS_1


“Aruna, kau baik baik saja?” tanya Desi dengan nada mengejek melihat Aruna yang membisu dengan raut wajah yang sedih.


“Aruna, berhentilah bermimpi untuk menjadi ratu, walaupun tuan Akram sudah menikahimu, ia tidak akan pernah mengakuimu,” timpal bi Asih yang juga menyaksikan hal tersebut, dua asisten rumah tangga itu tertawa, mengolok Aruna yang langsung bergegas pergi.


Aruna duduk disudut ranjang, meremas tanganya, risau. Apakah pantas dirinya bersedih karena tak di akui? sedangakan itu memang konsekuensi yang harus diterimanya.“Siapa yang mengijinkanmu disini? suara Akram mengagetkanya.


“Tuan Akram?” melihat Akram yang sudah berdiri diambang pintu.


“Apa kau tuli? aku bertanya padamu,” ketusnya.


“Maaf, aku hanya membersihkan kamar ini sebentar.”


“Oh, pergilah ke kamar tamu mu, aku ingin istirahat,” usir Akram, mengibaskan tanganya.”Ada apa lagi?” melihat Aruna yang diam mematung tak kunjung pergi.


“Soal berita ditelevisi itu,” balas Aruna, sedikit tertunduk.


“Berita?” Akram mengerutkan keningnya.


“Apa benar gadis itu sedang dekat denganmu?” tanya Aruna memberanikan diri.


Akram tertawa.“Jadi kau melihat berita itu?” melangkahkan kakinya mendekat ke arah Aruna.“Itu bukan urusanmu,” mencengkram dagu Aruna dan melepasnya kasar. Aruna membeku, bergegas pergi keluar, dirinya memang tak pantas bertanya apapun pada suami yang tak menganggapnya.


***


“Acara? aku tidak punya acara apapun,”


,


“Kalau begitu ikutlah dengan Akram syuting hari ini, setidaknya itu bisa mengobati kebosanmu dirumah,” usul pak Setya.


“Berhantilah berbuat konyol,” ketus Akram.


“Iya pah, berhentilah memanjakan dia,” timpal bu Risna, sinis melirik kearah Aruna.


“Bukankah kemarin katanya kau sudah mengajak istrimu jalan jalan? jika hari ini dia menemanimu syuting itu harusnya tak ada masalah, bukan?” ucap pak Setya dengan nada curiga.


“Aku ingin dirumah saja tuan,” tolak Aruna.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan mengajaknya,” balas Akrama yang enggan berdebat lebih panjang lagi.


Aruna pun akhirnya ikut kelokasi syuting bersama dengan Akram, sampai merekaa tiba dilokasi.“Tunggulah disini, dan jangan mengatakan hal yang macam macam pada orang orang disini,” bisik Akram, lagi lagi dengan nada mengancam.


“Akram kau bawa asisten barumu lagi?” tanya pak Reno melihat kedatangan mereka.


“Oh Iya, yasudah aku ganti pakaian dulu,” balas Akram yang langsung pergi ke ruang ganti. Aruna sedikit menunduk memberi salam yang di respon seulas senyum dari pak Reno.


Hari itu adalah hari yang paling membosankan untuk Aruna, ia hanya terus mengamati Akram dari kejauhan yang tampak sedang beradu akting dengan lawan mainya, sesekali terlihat adegan mesra diantara keduanya bahkan saat syuting sudah selesai kemesraan kembali terlihat saat kamara media menyoroti keduanya, Aruna hanya dapat membuang pandanganya berusaha tak memperdulikan itu.


“Aku lapar, bagaimana kita makan disana dulu,” Liona menujuk restoran sekitar mereka.


“Oh, baiklah,”


“Tuan Akram,” panggil Aruna, mengejar langkah kaki mereka.


“Siapa dia?” Liona menujuk kearah Aruna.


“Dia asisten pribadiku, ikutlah makan bersama kami,” ajak Akram, Aruna tersenyum, syukurlah Akram mengajaknya mengisi perutnya yang sudah keroncongan.“Duduklah disana,” Akram menujuk kursi kosong yang terpisah darinya dan Liona.


Aruana hanya dapat menurut walau hantinya terasa sakit dengan semua perlakuan itu. Aruna lagi lagi hanya dapat menyaksiakan kemesraan keduanya saat kamera media masih saja mengabadikan momen keduanya. “Mungkin karir dan uang lebih berharga untuk orang kota dibanding ikatan sebuah pernikanhan,” batin Aruna, pilu.


“Aruna,”


“Arga?” Aruna tampak terkejut melihat Arga yang tiba tiba ada dihadpanya.


“Kamu sedang apa disini?”


“Oh, aku sedang menemani majikanku,” menujuk ke meja Akram.


“Oh,” sekilas Arga melirik, rasanya muak sekali melihat wajah pria itu.


“Kamu sendiri kenapa disini?”


“Kantor ku didekat sini, boleh aku makan denganmu? kebetulan aku sedang jam makan siang,”


“Tentu boleh,” Aruna tersenum simpul dan memprsilahkan Arga duduk dihadapanya.

__ADS_1


Di sisi lain Akram yang masih menyantap makananya sesekali melirik Aruna yang tampak mngobrol akrab dengan pria di mejanya.“Ternyata gadis desa lebih liar dari perkiraanku.” batin Akram tersenyum kecut melihat pmandangan tersebut.


__ADS_2