Celebrity Husband

Celebrity Husband
Hilang semangat


__ADS_3

Bab 65.


Satu minggu kemudian.


Sudah beberapa hari ini Akram kembali kerumah, tapi kondisisnya tak lebih baik, ia masih merasa sakit pada kedua kakinya, bahkan sulit digerakan, dokter menyarankan untuk melakukan terapi membuatnya harus menggunakan kursi roda untuk sementara waktu.“Sayang,” panggil Aruna menghampiri Akram yang sedang duduk termenung dibalkon.“Sarapan dulu, aku sudah memasakn makanan kesukaanmu,” Aruna meletakan nampan yang berisi makanan diatas meja, menyeret kursi dan duduk dihadapan Akram.


“Bagaimana? apa sudah ada kabar dari polisi?” Aruna terdiam saat Akram menayakan hal itu, hampir setiap hari Akram menanyakanya, ia sangat penasaran siapa yang sudah membuatnya seperti ini.


“Belum,” Akram mendesis kesal, beberapa hari ini Aruna tak lagi melihat senyum Akram, ia seperti kehilangan semangat terlebih setelah dokter mengatakan butuh waktu yang tak sebentar untuk menyembuhkan cedera pada kakinya.“Sudahlah, kamu harus sarapan,” Aruna mendekatkan sesuap nasi kebibir Akram. Akram bergeming enggan menyantapnya.“Makan sedikit saja, baby Zea akan sedih jika papanya tak mau makan,” bujuk lembut Aruna. Akram membuka mulutnya, menerima suapan dari Aruna.


Tak lama ponsel Akram berdering, ia segera merogoh saku celenanya menjawab panggilan tersebut.“Oh begitu, baiklah.” Akram menutup teleponya.


“Ada apa? siapa yang menelepon?” tanya Aruna menatap wajah Akram yang seketika menujukan mimik sedih.


“George, dia mengatakan peranku akan digantikan, ia tak bisa menunggu lama,” jelas Akram mengepal telapak tanganya, geram. Wajahnya kini terasa panas tersulut emosi.“Aaarggghh!!” Akram menyingrkan makanan dihadapanya, semuanya jatuh bernatakan membuat Aruna tersentak kaget.


“Tenanglah,” Aruna mencoba menengkan, memegang bahunya namun Akram menipisnya kasar.


“Aku ingin sendiri,” suara Akram terdengar dingin, Aruna tersikap saat Akram memalingkan wajahnya penuh amarah.


“Ada apa ini?” bu Risna dan pak Setya yang mendengar keributan segera menghampiri keduanya.


“Tolong, biarkan aku sendiri,” pinta Akram kembali.


“Tapi,”


“Aruna ayo kita pergi,” bu Risna meraih tangan Aruna menuntunya untuk meninggalkan Akram.


Aruna duduk termenung disofa, matanya sudah memerah menahan tangis.“Minumlah,” bu Risna meletakan segelas air dimeja duduk disisi menantunya itu.


“Apa yang harus aku lakukan?” suara Aruna bergetar, jemarinya buru buru menghapus air matanya yang mulai terjatuh.


“Biarkan dia sendiri dulu, tenaglah semuanya akan segera membaik,” bu Risna mengusap punggung Aruna, ia mengerti Aruna pasti sangat kecewa dengan sikap Akram barusan. Aruna termenung, menghela nafas dalam, ia tak tau apa yang harus dilakuaknya saat ini, semuanya menjadi serba salah, sulit bagi Akram menerima ini.


Malam harinya Aruna masuk kedalam kamar, melihat Akram yang masih tampak termenung disudut ranjang.“Dimakan ya, aku tidak mau kamu sakit,” bujuk Aruna meletakan nampan berisi makan malam diatas nakas.


“Antarkan aku,” ujar Akram dengan suara dinginya.


“Antarkan?” Aruna mengerutkan keningnya.

__ADS_1


“Antarkan aku ke kantor agensi ku, besok.” pintanya. Aruna tertegun, ia mengrti pasti Akram masih beulum terima saat peranya diganti dengan orang lain secara tiba tiba.


Keesokan paginya Aruna tengah bersiap mengantarkan Akram pergi ke kntor agensinya.“Aruna, apa sebaiknya mama ikut menemanimu saja?” ujar ibu Risna menatap khawatir, mnegingat emosi Akram yang kadang tak terkendali akhir akhir ini.


Aruna menggeleng.“Tidak, mama jaga baby Zea saja, aku tidak apa apa,” Aruna mencium kening bayi mungilnya yang tengah tertidur pulas digendongan ibu Risna.“Aku pergi dulu ya,” pamit Aruna.


“Hati hati ya.” pesan bu Risna mengantar Aruna kehalaman depan sudah ada supir pribadi mereka yang sudah menunggu disna.


Tak berapa lama mereka sampai dikantor agensi , Aruna mendorong kursi roda Akram masuk kedalam, tampak beberapa orang disana menyapa Akram. Akram membalasnya datar.“Akram,” sapa George saat Akram memasuki ruangan, tampak beberapa kru tengah sibuk menyiapakan peralatan syuting mereka.“Kenapa tidak bilang mau kesini? bagaimana keadaamu?” tanyanya menghampiri Akram.


“Seperti yang kau lihat,” Akram memperhatikan pria muda yang tengah sibuk membaca naskah skenario ditangangya.


“Itu Antonio, dia yang akan mengantikan peranmu,” jelas George melirik Akram yang tengah memperhatikan aktor barunya.


“Apa aktingnya sangat bagus?” Akram menatap sinis, sebenarnya dirinya cukup kecewa mengapa mereka dengan mudah mencari aktor pengganti untuknya, seakan dengan mudahnya membuang barang yang sudah tidak terpakai.


“Aktingnya tidak jauh lebih bagus darimu, tapi syuting ini tidak bisa ditunda,” George beralasan.


Aruna mengusap pelan bahu Akram, ia tau saat ini Akram pasti sedang memendam rasa kecewanya.“Kita pulang saja,” ucapnya pada Aruna. Aruna mengangguk dan mendorong kursi roda Akram keluar dari tempat tersebut kembali ke rumah. Sepanjang jalan Akram hanya terdiam, tatapan kosongnya memperhatikan jalanan yang tampak lengang siang itu. Aruna dapat melihat jelas gurat kekecewaan diwajah Akram.


***


 Arga mengambil ponsel yang masih dipengang Hellena, menyisir setiap kalimat diberita tersebut. Arga pun baru mengetahuinya.


“Dan peranya digantikan dengan aktor baru itu?” sambung Hellena. Arga melihat foto seoarang aktor pendatang baru yang menggantikan posisi Akram.“Aku akan menjenguknya sore ini,”


“Jangan, kau harus mengerti posisinya,” cegah Arga ia sulit untuk Akram menerima semua ini secara tiba tiba.“Kehadiranmu tak diharapakanya saat ini, biarkan dia sendiri atau bersama keluarganya dulu,”


Hellena mengangguk setuju, Akram pasti sangat terpukul saat ini, disaat karirinya kembali memuncak kini harus terhenti tiba tiba.


Sore itu Hellena mulai merapihkan meja kerjanya, satu email masuk tertera dilayar laptopnya.


[Hellena, bisa kita mengobrol sebentar sore ini,] tulis Yoga.


Hellena menghela nafas, pria itu masih saja berani menganggunya.


[Tidak bisa,] tolak Hellena mentah mentah. Kembali merapihkan meja kerjanya bersiap siap untuk pulang sore itu.


Hellena melangkah beranjak dari meja kerjanya, sekilas matanya melirik meja kerja Akram yang tampak kosong, Hellena memutuskan untuk pulang sendiri. Hellena melwati lorong kantor yang sepi, Hellena terpenjat kaget saat pergelangan tanganya tiba tiba ditarik seseorang.“Kamu?” melihat Yoga yang sudah berdiri dihadapanya.

__ADS_1


“Maaf,” ujar pria itu tiba tiba.


“Maaf?” Hellena mengerutkan keningnya.


“Maaf perkataanku tempo hari, aku tak bermaksud merendahkanmu,” sesal pria itu.“Tapi aku senang kita bisa sekantor,” pria itu tersenyum, meraih tangan Hellena yang masih menatapnya tak mengerti.“Aku ingin mengenalmu lebih dekat, kamu tau aku sudah memperhatikanmu sejak awal kamu berkerja diklub,” pria bernama Yoga itu kini mulai mengutarakan perasaanya.


“Dia milik ku,”


Hellena dan Yoga terpenjat kaget melihat Arga yang tiba tiba datang dan menepis tangan pria itu dari Hellena.“Oh jadi sudah ada yang punya? apa dia sudah memakai jasamu Hellena?” lagi lagi pria itu mengatakan hal yang merendahkan Hellena.


Buuukhh!


Arga yang geram memukul pria itu berulang kali, Hellena mencoba merelainya, Yoga bergegas pergi menantap Arga penuh amarah.“Sudah kukatakan jangan dekati dia!” sentak Arga tiba tiba, tentu saja membuat Hellena terlojak kaget.


“Aku tidak mendekatinya,” bantah Hellena.


“Kalau kau tak mendekatinya, kau tak mungkin membiarkan dia memegang mesra tanganmu,” tuduh Arga dengan penuh amarah, hatinya terasa sangat penas terbakar cemburu terlebih saat melihat pria itu meremas lembut tangan Hellena.


“Tidak, tidak seperti itu,”


“Kau itu sepertinya sangat senang disentuh pria,” ujar Arga dengan entengnya.


“Apa? apa maksudmu?” Hellena menggelengkan kepalanya tak mengerti, belum juga Arga mendengar penjelasanya tapi Arga dengan mudahnya mengatakan hal yang membuat Hellena kecewa.“Sudah kukatakan, aku memang dulu wanita malam, aku melakukan perkerjaan itu tapi apa akan selamanya aku akan terus dicap buruk oleh mu?” suara Hellena kini bergetar, penilain Arga tentang dirinya ternyata belum berubah.


“Aku tak pernah memaksamu untuk mencintaiku, aku sadar siapa diriku, kamu pantas dapat wanita yang lebih baik dariku,” sambung Hellena dengan air matanya yang menetes, perkataan Arga bagai busur panah yang menusuk perasaanya.


“Bukan maksudku seperti itu,” Arga hendak menyeka air mata Hellena, tapi gadis itu dengan cepat menepisnya dan bergegas pergi meninggalkanya.“Hellena, dengarkan aku,” Arga mencoba mengejar langkah kaki Hellena yang setengah berlari menaiki taksi yang melintas didepan area kantor.


Arga segera menuju mobilnya, mengejar taksi tersebut. Arga mengusap kasar wajahnya rasa cemburu membuat emosinya tak terkendali, sambil menyetir Arga berulang kali menghubungi Hellena, berharap gadis itu mendengarkan penjelasanya. Tapi Hellena tak menganggkatnya. Kedua bola mata Arga sesaat fokus pada ponsel yang dipegangnya.“Aaaaakkkhh,” pekikan suara wanita mengangetkan Arga, buru buru ia menginjak rem mobilnya, tapi terlambat, seorang wanita sudah terjatuh, tertabrak oleh mobilnya.“Astaga!” Arga segera keluar dari dalam mobil.


Sudah banyak warga mengerumi wanita yang tampak terluka itu.“Kau harus bertanggung jawab,” seru seorang pria yang ternyata suami wanita itu.


“Saya akan bertanggung jawab, membawanya kerumah sakit,” ujar Arga panik.


“Bawa pria ini kekantor polisi agar dia tidak kabur,” seru pria itu penuh amarah.


“Saya tidak akan kabur,” Arga merasa keberatan.


“Sudah ayo bawa saja dia kekantor polisi, bisa saja dia kabur,” seru seorang warga, yang langsung mengiring Arga kekantor polisi sedang warga yang lain bergegas membawa wanita itu kerumah sakit.

__ADS_1


Arga pun dibawa kekantor polisi, berulang kali Arga mengatakan akan bertanggung jawab saat polisi mengintrogasinya, semuanya terasa alot sampai pihak keluarga wanta tersebut datang dan memilih untuk menyelasaikan secara kekeluargaan dan Arga mengganti rugi dengan apa yang sudah dilakukanya. Sampai pagi hari Arga baru dibebaskan, ini hari yang sangat sial untuknya, kepalanya terasa pusing kerena kelelahan belum lagi memikirkan pertengkaranya dengan Hellena. Dengan langkah gontai Arga hendak keluar dari kantor polisi namun langkah kakinya terhenti saat melihat wajah pria yang tak asing untuknya.“Pria itu?” gumamnya, melihat pria itu seperti hendak menjenguk tahanan disana.


__ADS_2