
“Gue gak nyuruh lo ngerampok, gue nyuruh lo ambil uangnya,” ucap Nathan ketus, Nathan kesal melihat Vanessa tidak mau mengikuti ucapannya.
Vanessa berdiri dan melihat sebuah gitar, “Wih ada gitar,” ucap Vanessa senang dan mengambil gitarnya.
“Astaga, sekarang dia mau ngapain,” batin Nathan.
Vanessa duduk di sofa dengan gitar di tangannya, “Lo bisa main gitar?” tanya Nathan merasa penasaran, sebab Nathan tidak pernah mendengar Vanessa bernyanyi atau memegang gitar.
Vanessa melirik Nathan sebentar dan fokus pada gitar dipangkuannya.
Nathan tersenyum saat Vanessa mulai memainkan gitarnya dan mulai bernyanyi, “Ketikaku mendengar bahwa, kini kau tak lagi dengannya, dalam benakku timbul tanya,” Vanessa menatap Nathan sebentar dan kembali fokus pada gitarnya.
“Masihkah ada dia, dihatimu bertahta, ataukah ini saat bagiku untuk singgah dihatimu, namun siapkah kau tuk jatuh cinta lagi,” Vanessa mengedipkan matanya menggoda Nathan sambil fokus bernyanyi.
Nathan diam tidak merespon Vanessa yang menggodanya, mencoba menikmati lagu yang Vanessa bawakan.
Vanessa menatap Nathan lama sambil bernyanyi, “Meski bibir ini tak berkata bukan berartiku tak merasa ada yang berbeda di antara kita.”
Senyum Nathan tidak luput dari perhatian Vanessa, “Ganteng banget,” batin Vanessa.
__ADS_1
Nathan senang dengan permainan gitar Vanessa, meski Nathan tidak tau lagu apa yang dibawakan Vanessa tapi cukup membuat Nathan terpesona pada Vanessa.
“Dan tak mungkinku melewatkan mu hanya karena diriku tak mampu bicara bahwa aku … ingin kan kau ada dihidupku,” Vanessa menatap jendela besar diruangan itu sambil tersenyum senang.
“Sayang sekali aku tidak punya uang receh,” Ledek Nathan.
Vanessa tersenyum menyeringai kearah Nathan, “Aku tidak butuh uang receh mu,” ujar Vanessa dengan rasa bangga karena bisa menjawab ucapan Nathan.
Terdengar suara pintu yang terbuka dan langkah kakinya menuju keruangan ini, Vanessa takut bukan main dia takut ketauan, “Bagaimana ini?” tanya Vanessa berbisik pada Natha.
“Tadi jelas ko aku denger ada suara gitar dari dalam, tapi kok sekarang gak ada yah, masuk jangan yah, tapi takut nyonya marah,” Vanessa mendengar suara perempuan itu di depan pintu ruangan ini.
“Bodoh banget sih lo Nes, udah tau ini lagi ngerampok pake main gitar segala,” Vanessa meruntuki kebodohannya.
“Bagaimana bisa lo seyakin itu?” tanya Vanessa sambil mencari tempat sembunyi dia tidak ingin ketahuan apalagi harus masuk penjara, “Tidak-tidak.”
Langkah kaki itu tiba-tiba terdengar menjauh, “Cepat ambil uangnya! Kita pergi dari sini,” perintah Nathan.
Karena ketakutan Vanessa dengan cepat mengikuti perintah Nathan mengambil uang tersebut dan dimasukan kedalam tasnya tanpa menghitungnya dulu, Vanessa tidak peduli berapa uang yang ia ambil yang penting dia bisa cepat-cepat keluar dari rumah ini.
__ADS_1
Vanesa mengunci kembali brangkasnya dan membuka pintu perlahan memastikan keadaan, “Aman,” gumam Vanessa.
“Cepat lari!”
Vanessa berlari kejendela saat akan keluar dari jendela terdengar suara seseorang yang bicara didepan pintu.
Vanessa langsung lompat dan berjongkok di bawah jendela, terdengar suara hendel pintu dibuka, “Untung gak ketauan.”
Pembantu tadi kembali dengan Nyonya pemilik rumah dan masuk ke dalam kamar, “Mana bi?”
Perempuan yang di panggil Nyonya mencoba membuka pintu ruang kerja anaknya, “Di kunci ko bi.”
“Bener ko nyonya tadi ada suara yang bermain gitar di dalam ruang kerja tuan,” ucap pembatu tersebut dengan sangat yakin.
“Mungkin bibi salah dengar … Bi ko jendela kamarnya kebuka sih, gimana kalau ada maling.”
Jantung Vanessa berdetak lebih cepat saat mendengar suara lagkah kaki yang mendekat kearanya.
Vanessa mengatur nafasnya yang memburu, tubuhnya terasa lemas.
__ADS_1
“Jangan sampe ketauan,” batin Vanessa sambil menggigit kecil bibir bawahnya.
“Aduh gimana ini, gue gak mungkin lari … bisa-bisa gue ketahuan kalau langsung naik ke pagar, Nathan mana lagi pake ngilang segala ah,” batin Vanessa dengan jantung yang terus berdetak kecang perasaannya gelisah dia takut ketahuan ngerampok.