Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 49 (Beda Tipis)


__ADS_3

“Saya bukan Nathan! Perkenalkan saya Nicholas, dosen pembingbing skripsi kamu selama bu Dita cuti melahirkan.”


“Beneran bukan Nathan ternyata, tapi kok mirip yah?” tanya Vanessa di hatinya.


Vanessa kembali memperhatikan dosennya, “Pak Niko punya kembaran?” pertanyaan itu langsung dia lontarkan.


Mendapat tatapan tajam milik dosennya, keberanian Vanessa semakin menciut, “Pak Niko menakutkan, kalau Nathan dingin ketus tapi masih ada ganteng-gantengnya,” gerutu Vanessa di hatinya.


“Saya tidak suka membahas masalah pribadi!” ucap Nicholas tegas.


Vanessa mendundukan kepalanya dia tidak punya keberanian untuk menatap dosennya, “Maaf Pak,” ucap Vanessa lirih.


“Kenapa kamu cuti? Bukannya sebentar lagi skipsi mu beres.”


“Kamu tidak ingin lulus tahun ini?”


Vanessa diam di tempatnya, “Aduh jawab apa ya, si Bapak nanya sekaligus lagi, jawab yang mana dulu yah,” ucap Vanessa di dalam hati dia sibuk dengan pikirannya.


“Jawab! Saya tidak suka menunggu.”


“Aduh galak gini si Bapak,” batin Vanessa.


Dengan cepat Vanessa menjawab alasan yang masuk akal baginya, “Saya gak punya uang untuk bayar kuliah semester terakhir ini Pak.”


“Bukannya uang di ATM mu masih banyak?”


Deg, “Eh si bapak kok tau soal ATM yah, aduh jawab gimana yah.”


“Ah bapak so tau,” ketus Vanessa. Setelah mengucapkan kalimatnya barusan dia menyesal mejawab itu, di liriknya Pak Niko yang menatapnya tajam, “Aduh alamat kena semprot ini mah,” batinnya.


“Tidak usah banyak alasan. Pokoknya kamu harus lulus tahun ini, saya tidak ingin nama saya jelek karena tidak becus mengurus satu mahasiswi seperti kamu.”


Di lihatnya Pak Niko merobek surat cuti milik Vanessa, “Aduh di robek lagi,” batin Vanessa kesal.


“Tapi pak saya kan udah gak masuk seminggu ini, banyak pelajaran yang tertinggal,” Vanessa mencoba memberi alasan. Rasnya dia malas bertemu dengan dosen satu ini, kalau aja Nathan yang jadi dosennya mungkin Vanessa akan menurut.


“Ya kamu kejar pelajaran yang ketinggalannya! Pokoknya sabtu depan kita mulai bimbingan, siapkan skripsi kamu. Saya tidak suka mendengar alasan apapun yang keluar dari mulut kamu,” ucap Niko tegas dan berdiri dari duduknya lalu meninggalkan ruangan dosen.


Vanessa menatap punggung dosennya yang meninggalkan dirinya sendirian di ruangan, ternyata bu Indri sudah tidak ada di mejanya. Vanessa memijat pelipisnya, “Aduh ini mah PR, satu minggu lagi yang ketinggalannya. Belum harus ngerjain skripsi lagi buat setor sabtu depan.”

__ADS_1


“Itu mah fix bukan Nathan, bukan kembarannya juga. Nathan mah tidak semenyebalkan itu,” gumam Vanessa dan menghela nafasnya sebelum berdiri menghampiri Putri.


Putri berdiri dari duduknya saat melihat Vanessa keluar dari ruangan dosen, “Kenapa muka lo kusut gitu?” tanya Putri penasaran.


“Dosen yang lo sebut ganteng itu gak ada apa-apanya di bandingin Nathan,” ketus Vanessa.


“Maksud lo Pak Niko? Yang mirip sama Nathan.”


Vanessa menganggukan kepalanya, “Iya, surat cuti gue di robek sama diang dong, kampret banget emang. Mana dia gebrak-gebrak meja lagi karena gue telat jawab,” Vanessa meluapkan emosinya yang sudah tidak tertahan lagi.


“Ah mending pa Niko yang masih hidup, Nathan mah udah di kebumikan gak bisa di apa-apain percuma. Kalau pak Niko kan masih bisa di pandangin, di peluk kaya tadi juga bisa,” ucap Putri menggoda Vanessa.


“Ah siapa juga yang mau sama cowok kasar kaya gitu, bossy banget tau. Gue mah ogah!” Vanessa masih kesal pada Niko, rasanya kalau dia bukan dosennya sudah ingin dia layangkan ucapan pedas, biar dia tau rasanya tidak bisa berkutik saat di perlakukan seperti itu.


“Awas ogah-ogah nanti lo malah suka lagi. Benci dan cinta itu beda tipis Vanessa,” ucap Putri sambil mengikuti Vanessa yang berjalan meninggalkannya.


“Engga berminat, buat lo aja,” jawab Vanessa santai.


***


Sore itu Vanessa sedang duduk di meja belajarnya, dengan beberapa buku yang terbuka dia sedang mengerjakan tugas yang tertinggal. Di liriknya Putri yang tengah asik melihat video tik-tik di ponselnya, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.


“Ogah ah, kan lo yang punya kamar buka aja sendiri,” ucap Putri tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya.


Vanessa menghentak-hentakan kakinya kesal dengan wajah cemberut. Saat di buka pintunya Madam pemilik kosan yang mengetuk pintunya sedang berdiri dengan kotak yang cukup besar di tangannya, “Eh Madam,” sapa Vanessa.


“Kamu sudah punya pengagum rahasia sepertinya,” ucap Madam sambil tersenyum menggoda Vanessa.


“Maksud Madam?” tanya Vanessa tidak mengerti.


“Ini kamu dapet paket lagi, kemarin bunga sekarang kotak ini, dari siapa?” tanya Madam.


“Bunga itu gak ada nama pengirimnya, saya gak tau dari siapa Madam. Madam tau siapa yang mengirim bunga itu?” tanya Vanessa.


“Madam gak tau, soalnya kurirnya gak bilang apa-apa.”


“Oh gitu ya Madam. Kalau ini dari siapa?”


Madam memberikan kotak itu pada Vanessa, “Madam juga gak tau Nes, kurirnya gak bilang siapa pengirimnya.”

__ADS_1


Vanessa menerima kotaknya, “Makasih ya Madam."


“Awas bulan depan jangan telat lagi bayarnya,” Madam mengingatkan soal pembayaran uang kosan.


“Siap Madam, Nesa pastikan onetime yah,” Vanessa tersenyum pada Madam. Setelah Madam pergi dari depan kamarnya Vanessa langsung masuk dan menyimpan kotak berwarna silver berukuran 50x40 di samping Putri.


“Ini apaan Nes?” tanya Putri penasaran.


“Gue gak tau,” jawab Vanessa dan kembali ke meja belajarnya untuk mengerjakan tugas-tugasnya.


“Gue buka yah.” Putri meminta ijin pada sang pemiliknya.


“Hmmm,” Vanessa hanya menjawab dengan deheman. Dia tidak terlalu tertarik dengan kotak yang tidak jelas siapa pengirimnya.


Dengan antusias Putri membuka kotaknya dan terkejut melihat isinya, “Nes lo dapet bunga lagi, tapi ini mah bunga palsu.” Putri mengangkat bunganya agar Vanessa bisa melihat.



Vanessa hanya melirik sebentar melihat Putri yang mengangkat bunganya, merasa tidak tertatik Vanessa kembali mengerjakan tugasnya.


Putri melihat di dalam kotak itu masih ada kotak kecil, di bukanya kotak berwarna putrih itu, “Vanessa ini mah ada gelangnya lucu, liat nih,” ucap Putri semangat sambil menunjukan gelang nya.



Vanessa malas untuk melihat ke arah Putri, “Ada nama pengirimnya gak?” tanya Vanessa tetap fokus pada tugasnya.


Putri mencari-cari petunjuk nama pengirimnya namun kali ini tidak ada ucapan apapun seperti bunga kemarin, “Gak ada Nes,” jawab Putri masih sibuk membolak-balikan kotaknya.


“Simpen lagi, siapa tau salah alamat Put,” jawab Vanessa cuek.


“Iya nanti yah, gue pinjem bunganya dulu buat bikin video tik-tik.”


Diliriknya Putri yang sedang sibuk membuat video tik-tik dengan bunga yang di peganya. Vanessa tidak melanjutkan tugasnya konsentrasinya buyar saat otaknya malah memikirkan pengirim kotak barusan, “Siapa yah yang kirim bunga lagi? Meskipun bunganya palsu tapi itu bukan gelang murahan. Apa salah alamat ya.”


***


Eh dapet bunga sama gelang juga, siapa yang kasih yah?


Author kembali untuk kalian, karena dukungan yang kalian kasih lewat Vote bikin rangkingnya naik. Author jadi semangat buat up, makasih yah buat votenya 😘

__ADS_1


Jangan lupa dukung author terus yah lewat vote, like dan komentarnya biar tambah semangat nulisnya ya ❤️


__ADS_2