Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 45 (Berharap Bisa Bertemu)


__ADS_3

Hallo selamat pagi semuanya, jangan lupa semangat untuk menjalankan aktivitas nya masing-masing 💪


tadi malam sempat terjadi tragedi mewek ibu dan anak, gara-gara ngetik sambil gendong anak, anak author gak mau diem akhirnya 900 kata kehapus semua gak tau apa yang anakku pencet, nyesek sungguh di hati. kami nangis berdua 😭


Untung ada pak suami yang menengahi, dan mencoba mencari jalan agar bisa kembali itu 900 kata yang udah aku ketik. untung laptopnya Autosafe jadi author bisa menemani pagi kalian hari ini, tanpa harus mengetik ulang.


Itulah singkat nya drama kemarin malam.


selamat membaca ❤️


***


Dadanya terasa sakit melihat deretan papan bunga yang terpajang di halaman rumah Nathan. Vanessa menoleh pada Putri yang masih diam di belakangnya, “Kita pulang,” ucapku lirih seraya berjalan meninggalkan rumah Nathan.


Sesampainya di pos taxi online yang ku pesan sudah datang, aku dan Putri tidak bicara sedikitpun kami hanya diam sepanjang perjalanan. Putri pun tidak mengoceh seperti biasanya. Ku singkirkan pikiran ku tentang Nathan, aku tidak ingin menangis di tempat umum. Ku seka mataku jika rasanya ada air mata yang ingin turun, meski rasanya tidak sesakit saat aku kehilangan Anton tapi tetap saja rasa kehilangan sosok Nathan masih terasa di hatiku.


Sesampainya di kos aku langsung masuk ke kamarku, merebahkan tubuh ku di atas tempat tidur.


Putri memandangi pintu kamar Vanessa yang tertutup, dia tau sahabatnya itu membutuhkan waktu untuk sendiri.


Satu tetes air mata turun membasahi pipinya, Vanessa duduk di meja belajarnya mengambil sebuah buku catatan pribadi miliknya. Isinya memang kosong karena dia sudah mengganti isinya dengan yang baru. Buku itu pemberian terakhir Anton, dia selalu mencurahkan perasaannya pada buku itu. Namun setelah kepergian Anton Vanessa membakar isinya, terlalu menyesakan dada jika dia kembali membaca isinya.


Vanessa mengambil pulpen mulai mencurahkan perasaannya.


Aku tertarik saat melihatmu di rumah itu


Masih ku ingat wajah dinginmu


Ucapan ketusmu


Tapi debaran di hatiku, membuatku ingin memilikimu


Merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya, setelah kepergian dia


Vanessa meneteskan air matanya saat mengingat moment pertama saat bertemu Nathan. Masih teringat jelas saat Nathan mengerjai Vanessa dengan bilang “Itu lo ileran.” Itu adalah moment pertama saat Nathan tiba-tiba memeluknya, Vanessa tersenyum bersamaan dengan butiran Kristal bening jatuh mengenai buku, di ikuti dengan butiran lainnya yang seakan saling berkejaran.


Aku merindukan pelukanmu yang terasa hangat


Andai saja aku bisa memelukmu lagi

__ADS_1


Aku ingin egois


Aku tidak akan melepaskan pelukan itu


Aku tidak mau kehilanganmu


Aku ingin bersamamu


Aku merindukan mu Nathan


Vanessa tidak bisa menahan sesak didanya, rasanya sangat sakit. Isakan dari mulutnya mengambarkan perasaat sakit yang di rasakannya. Di tutupnya buku berisi curahan hatinya, Vanessa tidak ingin buku itu basah oleh air matanya yang tidak berhenti. Vanessa menelungkupkan tangannya di atas meja untuk membenamkan wajahnya.


Isakan tangis Vanessa terdengar sangat memilukan, Putri tidak kuasa menahan gejolak yang ada di hatinya. Air matanya turun bersamaan dengan tangis Vanessa, tubuhnya melorot dengan perlahan dia duduk dengan menutup mulutnya. Dia tidak ingin Vanessa tau jika dirinya masih berada di depan kamar Vanessa, sahabatnya itu tidak suka jika ada orang yang tau saat dia sedang menangis, Putri memilih pergi ke kamarnya dia sudah tidak kuasa mendengar tangis Vanessa.


***


Siang berganti malam, Putri menghampiri kamar Vanessa mencoba menempelkan telinganya. Namun tidak ada suara di dalam sana, dia mencoba mengetuk pintu kamar Vanessa perlahan. Tapi tidak kunjung di buka dia mencoba mengetuknya lebih keras, “Vanessa,” panggil Putri. Tidak lama pintu terbuka tampak wajah Vanessa yang sembab, dia langsung masuk dan duduk di meja belajar Vanessa.


“Lo udah makan?” tanya Putri.


Vanessa hanya menggelengkan kepalanya dan duduk di atas kasur dengan ponsel yang di genggamnya.


Vanessa melirik satu bungkus nasi yang di berikan Putri, “Makasih yah,” ucap Vanessa dengan suara serak.


Mereka berdua menikmati nasi padang yang di bawa Putri dengan diam, seperti biasa tidak ada yang membuka pembicaraan. Sesekali Putri melirik Vanessa yang makan sambil bermain ponsel menggunakan tangan kirinya.


“Rumah Nathan besar juga yah,” ujar Putri.


“Hmmm …,” Vanessa hanya menjawab dengan deheman.


“Kayanya dia orang kaya, rumahnya mewah gitu.”


“Iya,” ucap Vanessa singkat.


“Lo bisa jadi nyonya kalau nikah sama Nathan.” Putri mencoba menggoda Vanessa.


“Ya kalau dia masih hidup gue mau, kalau udah meninggal gini mau jadi nyonya gimana?” tanya Vanesasa sambil melipat kertas nasi yang sudah habis dan membuangnya ke tempat sampah.


“Kalau aja gue punya tongkat ajaib yang bisa bangunin orang mati, pasti gue lakuin buat lo,” Putri kembali menghayal, namanya Putri tapi dia tidak punya tongkat ajaib.

__ADS_1


Vanessa memberikan satu gelas air minum pada Putri, “Halu aja lo.”


“Eh gue ada ide,” ucap Putri tersenyum misterius pada Vanessa.


“Ide apaan?”


“Lo masih inget si Ucup?” tanya Putri.


“Hmm, terus kenapa?”


“Dia itu buka mata batin biar bisa liat dunia lain, buat dia jadiin konten utub.”


“Gue gak minat jadi utubers,” ketus Vanessa, dia kesal pada Putri.


Putri menyenggol lengan Vanessa dengan sikunya, “Gue gak nyuruh lo jadi utuber!”


“Iya terus apa, gak usah bertele-tele gue lagi gak mood ngegosip.”


“Eh ini bukan gossip,” Putri melirik Vanessa kesal.


“Nathan kan baru meninggal kata orang-orang kalau yang baru meninggal tuh punya waktu beberapa hari di dunia. Lo buka aja tuh mata batin lo, siapa tau bisa liat Nathan,” usul Putri.


“Buat apa?” tanya Vanessa cuek.


“Ya buat perpisahan terakhir sebelum dia bener-bener pergi,” jawab Putri.


“Emang di sini ada yang bisa buka mata batin gitu?” tanya Vanessa penasaran. Jika memang bisa Vanessa ingin bertemu Nathan untuk yang terakhir kalinya.


“Kata si Ucup sih ada, deket-deket sini da gak jauh, ini si Ucup ngasih lokasinya,” Putri menunjukan pesan yang di kirim si Ucup.


“Beneran itu kan, gak tipu-tipu?” Vanessa sebenarnya ragu, tapi rasa rindunya harus dia tuntaskan. Siapa tau ucapan Putri benar dia bisa bertemu Nathan, setidaknya dia bisa mengobrol dengan Nathan.


“Bener itu si Ucup hasilnya bisa liat sampe sekarang,” jawab Putri yakin.


Vanessa mengambil tasnya, “Yaudah yuk sekarang!” ajak Vanessa dengan nada penuh semangat.


Putri menepuk bahu Vanessa, “Nah gitu dong semangat, ini baru temen gue. Cie mau ketemu pujaan hati … awas nanti jangan main cium-cium yah,” ucap Putri menggoda Vanessa.


“Ayo buruan!,” ucap Vanessa sambil berjalan mendahului Putri dengan perasaan gembira akan bertemu Nathan.

__ADS_1


Putri berjalan mengikuti Vanessa yang terlihat sangat antusias.


__ADS_2