Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 56 (Aura)


__ADS_3

udah lengkap dengan translate yah kalau masih bingung bisa tulis di kolom komentar kata yang tidak mengertinya.


selamat membaca❤️


****


Vanessa sedang fokus pada layar laptop di depannya, dia sedang membaca isi laporan prakerin milik adiknya. Namun teriakan seseorang menghancurkan konsentrasinya.


“Vanessaaaa,” teriak seorang wanita dengan membawa satu kantung kresek di tangan kanannya.


Vanessa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop, “Eh lo Ayu, apa kabar?” tanya Vanessa dan bangkit dari duduknya lalu memeluk sahabat sejak kecilnya.


“Alhamdulillah sehat, meni panggil lo sama aku teh ih. Kelamaan jadi orang kota kaya gitu jadinya.”


“Hehe maaf atuh, lama teu ka bandung jadi rada poho kana bahasa sunda,(Hehe maaf ya, udah lama gak ke Bandung jadi lupa sama bahasa Sunda)” jawab Vanessa mencoba berbicara bahasa sunda.


“Ari Mang ka mana, ie aya titipan ti bapa?(kalau Paman ke mana, ini ada titipan dari bapak)” Ayu memberikan kresek yang di bawanya.


“Kaluar ceuk si Riko mah,(Kata Riko lagi keluar)” Vanessa menerima kantung kresek yang di berikan Ayu.


“Oh titip atuh jang si Mang nya.(Titip buat Paman yah)”


“Kadie atuh kalebet hela,(Sini masuk dulu)” Vanessa menawari Ayu untuk mampir.


“Siap asal aya nu tiis-tiis, haus ie tikoro,(Boleh tapi harus ada yang dingin-dingin, tenggorokan kering)” ucap Ayu sambil memegang tenggorokannya.


“Aya lah, hayu.(Ada kok, ayo masuk)”


Ayu menatap layar laptop yang masih menyala, “Kamu teh lain ges lulus, naha ngerjaken tugas keneh?(Kamu bukannya udah lulus, kenapa masih ngerjain tugas?)”


Vanessa tersenyum pada Ayu, “Eta nu si Riko, menta di bantuan ngerjaken laporan.(Ini punya Riko, minta di bantuin ngerjain laporan)” Vanessa berjalan menuju dapur dan membuatkan minuman dingin untuk sahabatnya.


Ayu mengambil buku yang ada di samping laptop dan membuatnya jadi alternatif kipas, agar tidak terlalu gerah.


“Ges timana kitu Yu?(Udah dari mana Ayu)” tanya Vanessa menyimpan minuman untuk Ayu.


“Eta ti warung ce engkom, meni panas kie aduh,(Dari toko ibu Engkom, panas gini yah)” keluh Ayu dan mengusap keringat yang ada di dahinya.


“Mangga atuh di minum.(Silahkan di minum)”


Tanpa berbicara Ayu langsung menghabiskan satu gelas minuman dingin yang dibuat Vanessa, “Nuhunnya,(terima kasih)” ucap Ayu berterimakasih.


“Sawangsulna,(Sama-sama)” Jawab Vanessa.


Ayu terus memperhatikan Vanessa yang sedang melihatnya.


“Kunaon Yu?(Kenapa Ayu)” tanya Vanessa merasa risih di perhatikan Ayu.

__ADS_1


“Nes ges ti dukun mana?(Udah dari orang pintar mana)” tanya Ayu.


“Dukun?(orang pintar)” Vanessa mengrenyitkan dahinya tidak mengerti.


“Eta aya nu ngingilu wae,(itu ada yang ngikutin kamu terus)” Ayu menunjuk samping Vanessa.


Vanessa melirik ke sampingnya, dia melihat Ayu yang terus memperhatikan sebelah kanannya. Sahabat sekaligus sodaranya ini memang mempunya penglihatan pada mahluk yang tidak bisa di lihat manusia kebanyakan. “Bahaya teu? … titadi nuturken wae?(bahaya gak? ... dari tadi ngikutin terus?)” tanya Vanessa.


“Aneh ie mah, (gak seperti biasanya)” ujar Ayu tanpa mengalihkan perhatiannya.


“Aneh kumaha?(gak biasa gimana?)” Vanessa semakin penasaran.


“Jiga dekengan, tapi nahanya wujudna jiga jelema,(kaya penjaga, tapi kenapa yah berwujud seperti manusia)” ucap Ayu dan menatap Vanessa.


“Ges ti dukun mana?( udah dari orang pintar mana)” Ayu kembali bertanya.


Vanessa teringat saat dia menemui Pak Andi yang membuka mata batinnya, “Abi pernah nyobaan di buka mata batin,(aku pernah mencoba membuka mata batin)” ucap Vanessa.


“Wani emang? (berani memangnya?)” Ayu menatap Vanessa tidak percaya.


“Teu wani kur kuat dua poe (Gak sanggup, Cuma dua hari).”


“Naha atuh bet wawanian, ngenta di jagaan emang?(kenapa atuh pake berani segala, minta di jagain memangnya)” tanya Ayu kembali.


Vanessa menggelengkan kepalanya, “Hente, kur ngenta di buka hungkul.(engga, cuma mintab di buka aja)”


“Kumaha kitu?(gimana memangnya)” Vanessa tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


“Tina kepala ka beheng aurana warna bodas, tinu beheng ka beteng warna na berem, tinu beteng ka suku warna na hideng,(dari kepala ke leher mempunyai aura berwarna putih, dari leher ke perut warna auranya merah, dari perut sampai kaki warna auranya hitam)” ucap Ayu sambil terus memperhatikan mahluk di sebelah Vanessa.


“Bahaya teu?(bahaya enggak)”


“Teu apal, biasana anu lebih dominan warna beremna itu bahaya.(enggak tau, biasanya kalau warna nya lebih dominan warna merah itu baru bahaya)”


Vanessa melihat Ayu yang tampak memejamkan matanya sebentar lalu membukanya kembali, “Warna na ganti-ganti. Teu bisa di kira-kira bahaya hentena,(warna nya terus berganti-ganti. Gak bisa di prediksi bahaya enggaknya)” ucap Ayu.


“Tapi bisa lengit te?(bisa hilang gak?)” tanya Vanessa.


“Bisa meren, sugan we indit sorangan. Eh abi balik hela ah poho di tungguan si bapak, (Kayanya bisa, mudah-mudahan pergi sendiri. aku pulang dulu yah lupa di tungguin bapak)” pamit Ayu.


Vanessa berdiri dan mengantarkan Ayu sampai depan rumahnya. Vanessa tidak mengambil pusing ucapan Ayu barusan, memang sejak dulu Ayu selalu melihat ada yang mengikuti  Vanessa tapi biasanya suka pergi sendiri setelah beberapa hari. Jadi tidak perlu ada yang dia khawatirkan tetang mahluk yang Ayu sebutkan.


Setelah kepergian Ayu, aura mahluk yang berdiri di samping Vanessa berubah warna menjadi merah seluruhnya.


Vanessa berjalan masuk kembali ke rumahnya dan kembali duduk lesehan di karpet. Tidak lama terdengar notif dari ponselnya, tenyata Nathan yang menanyakan alamat rumah Vanessa. Dengan cepat Vanessa membalasnya, “Ngapain tanya alamat aku di bandung?”


Muncul balasan dari Nathan, “Cepat beritau!”

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Vanessa memberi tau Nathan alamat rumahnya lengkap. Vanessa kembali membaca laporan di layar laptop adiknya.


Vanessa melirik kearah pintu yang terbuka, sudah hampir satu jam tapi adiknya belum muncul juga, “Lama banget si Riko,” ucap Vanessa kesal. Dia sudah sangat kelaparan, tapi adiknya belum datang juga.


Tidak lama Riko datang dengan tergesa-gesa memberikan pesanan Vanessa, “Teteh udah belum?” tanya Riko.


“Udah,” jawab Vanessa dan mengambil seblak yang di berikan Riko.


“Punten ih pang matiin laptopnya (tolong matiin laptopnya), aku mau siap-siap acara ketemunya di majukan ini,” ucap Riko sambil berjalan ke kamarnya di lantai dua.


“Kamu mah nyuruh-nyuruh ke teteh teh ih!” meskipun kesal karena tidak jadi memakan seblaknya. Vanessa menyimpan seblak di tangannya dan mematikan laptop milik adiknya.


Adiknya sudah siap dan berjalan menghampiri Vanessa lalu memasukan laptop serta beberapa buku miliknya, “Teteh ade berangkat yah, bilang sama Papa gak lama da,” pamit Riko pada Vanessa.


Vanessa menganggukan kepalanya, dia sudah tidak sabar memakan seblak kesukaannya. Asli khas Bandung ini mah beda dari yang lain, Vanessa menyalakan televisi dan menikmati seblaknya sambil menonton acara drama ikan terbang di siang bolong.


Suara ketukan pintu membuat Vanessa mengalihkan perhatiannya dari layar televisi, “Ngapain ke sini?” tanya Vanessa saat melihat Nathan yang berdiri di ambang pintu.


Vanessa berdiri dan menghampiri Nathan, “Masuk,” ucap Vanessa ramah.


Nathan hanya tersenyum dan mengikuti Vanessa yang duduk lesehan di karpet, “Sebentar ya aku ambilkan minum,” Nathan hanya menganggukan kepalanya.


Vanessa kembali dengan satu gelas es jeruk yang di buatnya, “Minum,” Vanessa menaruh gelasnya di hadapan Nathan.


Nathan meminumnya sedikit dan menyimpannya kembali, “Itu apa?” tanya Nathan sambil menunjuk mangkuk plastic yang di pegang Vanessa.


“Oh ini seblak, mau?”


“Aku tidak suka pedas,” jawab Nathan.


“Ini ada kue cubit manis kaya aku … gak pedes ini mah,” Vanessa membuka kotak kue cubit yang dibelikan adiknya.


Nathan hanya tersenyum mendengar ucapan Vanessa yang memuji dirinya sendiri. Tertarik dengan kue berwarna hijau dan di atasnya penuh dengan keju, membuat air liurnya rasanya mau menetes. Nathan mengambil satu potong dan memakannya rasa manis, dan asin meleleh di inda perasanya, “Rasa apa ini?” tanya Nathan penasaran.


“Oh itu rasa green tea,” Vanessa mengambil kue cubit yang berwarna putih namun di atasnya ada coklat lumer yang sangat menggiurkan, “Ini yang paling aku suka, cobain deh.”


Nathan menerima suapan yang di berikan Vanessa, dan rasanya sungguh luar biasa coklatnya lumer di mulutnya, “Hmmm iya enak.”


“Waduh gaya suap-suapan segala.”


 ***


Terciduk mereka oleh Papanya Vanessa hihi 😁


Setuju gak kalau visual Nathan author pilih PARK HAE JIN ?


Jangan lupa dukung author lewat vote, like dan komentarnya ya 

__ADS_1


Sampai jumpa di bab selanjutnya ❤️


__ADS_2