
Setelah memesan makanan Niko menghampiri Vanessa yang duduk di pojokan. Melihat kedatangannya Vanessa melirik Niko sebentar lalu membuang mukanya.
Niko duduk di kursinya menatap Vanessa, “Harusnya saya yang marah sama kamu, kenapa kamu yang malah terlihat kesal pada saya.”
Vanessa menatap Niko, “Saya tau saya salah pak telah membuat adik bapa masuk rumah sakit, tapi tadi tuh saya gak sengaja pak. Jadi tolong maafkan saya jangan menghalangi saya untuk bertemu dengan Nathan,” ucap Vanessa memohon.
Melihat Niko yang diam dan malah menatapnya membuat Vanessa risih dan memilih berjalan meninggalkan Niko sendirian. Dia sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Nathan, dengan langkah tergesa-gesa Vanessa kembali keruang UGD dari pintu ada seorang suster yang baru saja keluar.
“Sus pasien Nathan masih ada di dalam?” Vanessa memastikan terlebih dulu sebelum masuk.
“Sudah di pindahkan ke ruang rawatVIP,” jawab suster sambil tersenyum pada Vanessa.
Setelah mendapat informasi tentang ruangan Nathan Vanessa bergegas pergi untuk menemui Nathan. Vanessa diam di depan pintu ruangan Nathan yang di tunjukan suster, ada perasaan malu untuk masuk ke sana tapi dia juga harus bertanggung jawab atas kecerobohannya.
“Kalau Cuma mau jadi patung tolong minggir saya mau lewat jangan menghalangi jalan.”
Mendengar suara Niko yang ketus lagi membuat Vanessa menyingkir dari jalan Niko tanpa bersuara. “Kamu mau masuk atau berdiri di situ?”
Mendengar pertanyaan Niko dengan cepat Vanessa menganggukan kepalanya dan mengekor di belakang Niko.
__ADS_1
Nathan yang melihat Vanessa berdiri di belakang Niko seperti sedang bersembunyi membuatnya kesal, “Sayang ngapain di situ, kemari!” perintah Nathan.
Mendengar suara Nathan Vanessa berjalan dengan pelan menghampiri Nathan yang terbaring dengan selang infuse. Vanessa mendundukan kepalanya, entah kenapa dia sedang tidak percaya diri hari ini. Dia merasa ini bukan dirinya yang seperti biasa, situasi ini terlalu akward apalagi ini pertama kalinya Vanessa bertemu dengan mami Nathan dan lagi Niko sikap Niko yang seperti menyalahkannya membuat Vanessa kehilangan percaya dirinya.
Lewat tatapan matanya Nathan meminta maminya untuk mengajak Niko keluar, dia ingin berbicara berdua dengan Vanessa.
Vanessa masih menundukan kepalanya, meski Niko dan Mami Nathan berpamitan keluar sebentar.
“Sayang kamu kenapa?” tanya Nathan karena Vanessa masih diam mematung di tempatnya.
“Maafkan aku,” ucap Vanessa lirih.
“Kamu tidak perlu meminta maaf,” ucap Nathan sambil meraih tangan Vanessa untuk di gengamnya.
Nathan mengelus tangan Vanessa, “Aku senang bisa menjaga kamu.”
“Tapi kecerobohanku akan membahayakan kamu,” ucap Vanessa tidak peraya diri.
“Semalam itu aku bermimpi … mimpi itu terasa nyata sekali, di mimpi itu aku melihat kamu tertabrak persis seperti tadi. Makanya aku berlari aku takut mimpi ku menjadi kenyataan … tadi kamu kenapa malah diam padahal mobil itu terus membunyikan klaksonnya?” Nathan tidak bisa menutupi rasa penasarannya karena di dalam mimpinya Vanessa tidak mendengar panggilannya juga.
__ADS_1
“A-aku,” ucap Vanessa gugup. Dia mengambil nafas terlebih dahulu sebelum menceritakan semuanya pada Nathan.
“Tadi itu aku … aku melihat seperti wujud laki-laki yang sedang menatap ku, aku seperti terhipnotis aku mendengar bunyi klakson itu tapi aku tidak bisa menggerakan tubuhku semuanya terasa kaku,” Vanessa mencoba menceritakan apa yang di rasakannya tadi.
“Wujud laki-laki?” tanya Nathan.
“Iya wujud laki-laki yang pernah di lihat Ayu saat aku ke bandung kemarin, kata Ayu wujudnya itu seperti laki-laki bercahaya, namun dia memiliki aura yang berbeda dari mahluk yang biasa dia temui.”
Nathan mengrenyitkan dahinya tidak mengerti penjelasan Vanesssa,“Aura?”
Vanessa mencoba menjelaskan yang Ayu katakana padanya saat di bandung. “Semoga aja mahluk itu pergi, soalnya dulu aku juga pernah mengalami seperti ini. Kalau kata Ayu aku itu memiliki sesuatu yang membuat mereka tertarik untuk berada di sisiku, biasanya manusia yang ingin mempunyai kekuatan itu seperti dukun akan mempunyai pengawal yang mereka percaya nah mahluk pengawal-pengawal itu seperti tertarik padaku. Namun kata ayu pengawal juga ada yang berbahaya meskipun memang jarang ada.”
Nathan tidak bisa menutupi rasa penasarannya, “Berbahaya bagaimana?”
“Jadi mahluk sejenis pengawal itu memiliki tiga aura, ada yang berwarna putih, hitam dan merah, dan yang paling berbahaya itu yang memiliki aura warna merah apalagi kalau keseluruhan auranya merah itu sangat berbahaya karena bisa mengancam kehidupan seseorang,” Vanessa kembali menjelaskan pengetahuannya yang di berikan oleh Ayu.
“Lalu mahluk yang kamu lihat itu masuk kategori berbahaya atau tidak?”
“Ayu tidak bisa menilai katanya setiap dia memejamkan matanya aura mahluk itu berubah-ubah,” jawaban Vanessa membuat Nathan terdiam memikirkan kejadian hari ini bersama mimpinya.
__ADS_1
Vanessa melirik bubur yang tersimpan di atas meja, “Kamu belum makan?”
Nathan menggelengkan kepalanya, “Yasudah sini aku suapi,” Vanessa membawa satu mangkuk bubur lalu menyuapi Nathan.