
Vanessa melepaskan pelukannya saat pintu Nathan terbuka, dia menghapus air matanya.
“Maaf mengganggu tuan, lima menit lagi rapat akan di mulai,” ucap sekertaris Nathana.
Untuk kali ini Vanessa benar-benar tidak ingin di ganggu sekertaris menyebalkan itu, tapi apa daya dia tidak bisa menahan Nathan. Yang Vanessa lakukan adalah menatap punggung Nathan yang meninggalkannya tanpa ucapan sedikitpun.
Vanessa belum ingin beranjak dari sana, masalahnya belum selesai. Dia memilih merebahkan tubuhnya di kursi, rasanya badannya pegal semua karena melakukan perjalan Jakarta – Bandung dalam sehari.
***
Selama rapat berlangsung Nathan sempat tidak fokus karena memikirkan Vanessa yang dia tinggal di ruangannya. Setelah rapat selesai Nathan kembali keruangannya, dia melihat Vanessa yang tertidur di sofa. Nathan melangkah mendekati Vanessa, di teliti wajah wanitanya terlihat lelah dan matanya sedikit bengkak.
“Untuk apa aku bisa hidup kalau harus melihat mu pergi meninggalkan aku sendiri di sini,” gumam Nathan sebelum beranjak keluar ruangannya.
Dia menghampiri meja sekertarisnya, “Kalau sudah dua jam nona belum bangun, bangunkan saja dia.”
Sekertatisnya mengangguk patuh, “Baik tuan.”
Nathan melajukan mobilnya untuk pulang, sampai di rumahnya dia memilih masuk ke kamarnya. Mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.
Nathan memijat pelipisnya yang terasa nyeri, “Jangan pernah menangis,” gumam Nathan. Pikirannya kembali mengingat Vanessa yang memeluknya dan memohon kepadanya.
Suara pintu yang terbuka membuat Nathan menghentikan aktifitas memijat pelipisnya, “Ada apa mam?”
“Kamu kok tumben udah pulang?” tanya mami sambil duduk di sebelah Nathan.
__ADS_1
“Lagi capek aja pengen istirahat,” jawab Nathan.
“Kan mami udah bilang kamu gak usah kerja dulu, kan gak lucu kalau pas hari pernikahan kamu drof,” ucap mami khawatir melihat wajah Nathan yang terlihat lelah.
“Kayanya pernikahan Nathan di batalin aja mam.”
Mami membulatkan matanya, dia terkejut mendengar ucapan anaknya, “Di batalin gimana Nathan apa kamu gak mikirin perasaan Vanessa dan keluarganya?”
Nathan diam menundukan kepalanya menerima omelan maminya.
“Pernikahan kalian tinggal menghitung hari, apa nanti kata orang … kamu mau Vanessa mendapat cemoohan dari orang-orang karena gagal menikah!” maminya tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya, memangnya membatalkan pernikahan itu mudah.
“Apa alasan kamu ingin membatalkan pernikahan ini?” mami menatap anaknya tajam.
Nathan menghela nafasnya kasar, dia tidak mungkin menceritakan mimpinya, mami tidak akan pernah percaya dengan bunga tidur.
Telponnya berbunyi tanda pesan masuk, Nathan melihat pesan dari sekertarisnya, “Nona sudah pulang tuan.” Setelah melihat isi pesannya Nathan memilih membersihkan tubuhnya, sepertinya dia butuh berendam di bathup.
***
Sudah dua hari dia tidak datang ke kantor, dan pernikahannya akan di selenggarakan tiga hari lagi. Selama berdiam di rumah Nathan mencoba mengerjakan pekerjaan kantor, dia belum ingin bertemu dengan wanitanya. Pesan dan panggilan dari Vanessa ia coba abaikan, bahkan sekertarisnya itu sering melapor bahwa calon istrinya itu sering keruangan menanyakan keberadaanku.
Aku memang sengaja menghindar dari Vanessa, bukan tidak menginginkan pernikahan ini hanya saja mimpi buruk itu terlalu menakutkan. Apalagi mempi Vanessa tertabrak benar-benar terjadi, Nathan tidah bisa membayangkan mimpi buruknya setelah pernikahan terjadi begitu saja, “Apa salah jika aku takut kehilanganmu? Aku ingin bersamamu tapi tidak untuk waktu yang sebentar … aku ingin selamanya,” lirih Nathan sambil memandangi foto Vanessa yang diam-diam dia cetak dari akun media sosialnya.
__ADS_1
Di foto itu Vanessa terlihat cantik dengan riasan sederhana di wajahnya, begitupun gaya rambutnya yang sangat berbeda, bahkan Nathan belum pernah melihat Vanessa menggunakan gaya rambut seperti itu. Selama ke kantor Vanessa hanya mengikat rambutnya menjadi satu, terkesan simple memang tapi tetap terlihat cantik di mata Nathan.
Nathan tersenyum melihat bibir seksi milik Vanessa, bibir yang pernah bengkak akibat kenakalannya sendiri, “Aku merindukanmu,” gumam Nathan sambil meraba bibir Vanessa di foto itu.
***
Umpatan demi umpatan terus keluar dari mulutnya Vanessa kesal pada calon suaminya yang seperti menghindar darinya. Di hari terakhir kerja sebum dia mengambil cuti pun pria pengecut itu belum juga muncul. Vanessa berjalan tergesa ke ruangan Niko, dia mengetuk pintu dengan tidak sabaran. Setelah mendapat ijin masuk tanpa membuang watku Vanessa langsung masuk dan duduk di hadapan Niko yang sedang menatap layar komputernya.
“Ngapain balik lagi? … bukannya kamu sudah pamit pulanh?” tanya Niko tanpa mengalihkan perhatiannya.
“Adih bapak itu kenapa menyebalkan sekali,” keluh Vanessa.
“Dari dulu adik saya memang menyebalkan,” ucap Niko sambil menatap Vanessa.
“Saya ingin bicara dengan adik bapak.”
“Ya tinggal temui dia,” jawab Niko santai sambil tersenyum tipis.
Vanessa memajukan bibirnya, “Dari kemarin-kemarin juga saya sudah cari adik bapak tapi dia sembunyi terus kaya kura-kura dalem cangkak, payah.” Vanessa sudah tidak bisa membendung rasa kesalnya.
“Suruh dia keluar dari cangkaknya!”
Vanessa membulatkan matanya, “Susah ngomong sama bapak, mening saya pulang,” ketus Vanessa sambil berdiri hendak meninggalkan ruangan Niko.
“Ayo saya antar, menemui kura-kura payahmu,” ucap Niko sambil mendahului Vanessa.
__ADS_1
***
Follow akun author ya, nanti author follback oke