Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 67 (Sepiring Spaghetti)


__ADS_3

Vanessa fokus mengerjakan pekerjaan yang di minta Niko yang hampir selesai, Dia melirik jam di dinding sudah pukul enam tiga puluh. Vanessa mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Nathan, “Aku lembur.”


Tidak lama Nathan membalas pesannya, “Kalau sudah keruanganku.” Vanessa menyimpan kembali ponselnya dan menatap layar komputernya.


Helaan nafas lelah Vanessa menjadi tanda selesai pekerjaanya, dia berdiri dari kubikelnya dan berjalan ke ruangan Niko, Vanessa mengetuk pintu ruangan Niko.


“Masuk,” ucap Niko dari dalam.


Vanessa membuka pintu lalu masuk ke dalam, “Pak laporannya mau saya email atau saya print?” tanya Vanessa.


“Email saja,” jawab Niko tanpa memandang Vanessa.


Melihat Niko yang menjawab tapi tidak melihatnya membuat Vanessa merasa di acuhkan, “Kalau begitu setelah saya emai saya pamit pulang ya Pak,” ucap Vanessa meminta ijin untuk pulang.


“Hmmm,” Niko hanya menjawab dengan deheman.


Vanessa berjalan keluar ruangan Niko dan kembali ke kubikelnya, “Astaga kenapa Pak Niko jadi semenyebalkan ini padahal pas jadi dosen baik banget.”


Setelah selesai mengirimkan emailnya, Vanessa masuk ke kamar mandi yang tersedia diruangannya. Dia mencuci mukanya agar tampak lebih segar, menghadapi angka di depan komputernya rasanya membuat Vanessa pusing, apalagi dia tadi harus kembali mengecek pekerjaanya karena hasilnya tidak balance.


Vanessa kembali ke kubikelnya, mengambil tasnya dia mengeluarkan pelembab, bedak beserta lipstiknya. “Gak boleh malu-maluin masa pacarnya CEO kayak tukang minyak kiloan,” ucap Vanessa sambil memakai bedaknya.


Setelah selesai dengan urusan wajahnya Vanessa membuka ikatan rambut, lalu menyisir rambut panjangnya yang berantakan. Vanessa memandangi wajah nya di cermin, meski terlihat lelah tapi sedikit lebih baik akibat lipstik dan bedak yang dia pakai. Tidak lupa vanessa menyemprotkan parfum supaya bau keringatnya tidak tercium oleh Nathan.

__ADS_1


Vanessa berjalan menuju ruangan Nathan, seperti biasa sekertaris Nathan sedang sibuk membaca berkas di tangannya. Vanessa hanya tersenyum pada sekertaris Nathan dan masuk ke ruangan Nathan tanpa mengetuknya terlebih dahulu, Nathan yang menyuruh Vanessa untuk tidak terlalu formal jika sudah jam pulang kantor.


Nathan yang sedang fokus menatap layar laptopnya mengalihkan perhatiannya pada vanessa yang sudah duduk di hadapannya, “Meskipun terlihat lelah tapi kamu tetap cantik,” puji Nathan.


“Abang mu itu menyebalkan sekali sayang,” keluh Vanessa dengan wajah cemberutnya.


Nathan tersenyum menanggapi ucapan vanessa, “Menyebalkan bagaimana?” tanya Nathan.


“Rencana makan malam romantisnya jadi gagal,” ucap Vanessa.


“Kalau jam kerja itu waktunya kerja bukan bermain ponsel, jadi kerjaannya terbengkalaikan,” ucap Nathan santai.


Vanessa menghela nafasnya kasar, dia sungguh kesal kepada Nathan dan Niko yang membuat moodnya hancur. Makan malam impiannya tidak terlaksanakan dan Nathan malah membela kakanya, Vanessa beranjak dari duduknya namun tangan Nathan menahannya.


“Aku mau pulang capek,” jawab Vanessa ketus.


“Makan malamnya sudah aku siapkan.” Nathan menunjuk sudut ruangannya.


Vanessa melihat sudut ruangan Nathan yang terdapat satu meja makan untuk berdua di atasnya sudah tersaji makanan. “Ini mah bukan makan malam romantis ... gak ada makan malam memakai baju kantor gini,” ucap vanessa sambil memandangi baju kerja yang di pakainya.


“Kamu tetep kelihatan cantik ko,” jawab Nathan sambil menarik Vanessa agar mengikutinya.


Melihat Nathan yang menarik kursi untuk di duduki Vanessa mencoba menghilangkan rasa kesalnya, “Gak papa deh gak seperti hayalan, seenggaknya Nathan sedikit romantis dengan menarik kursi untukku,” batin Vanessa.

__ADS_1


Perutnya yang sudah keroncongan melihat spageti di hadapannya langsung Vanessa menikmati suapan pertamanya, “Gak papa lah meski Cuma spageti seenggaknya perutku gak bakal kelaparan,” batin Vanessa.


Nathan hanya tersenyum melihat vanessa yang bersemangat memakan spageti pesanannya, “Tadi aku lihat kamu asik mamainkan ponselmu, Sedang apa?” Nathan mencoba membuka pembicaraan.


Vanessa menelan spageti di dalam mulutnya sebelum menjawab ucapan Nathan, “Eh kok kamu tau?”


Nathan tersenyum malu, “Iya aku sering memperhatikanmu lewat CCTV yang terpasang di ruangan.”


Vanessa diam tidak menjawab ucapan Nathan dia malu karena selama ini Nathan ternyata sering memperhatikannya saat berkerja.


Nathan berdiri menarik Vanessa agar bangkit dari duduknya, dia berlutut di depan Vanessa sambil menggenggam tangan wanitanya. “Sayang mungkin ini terlalu cepat, tapi aku ingin memilikimu seutuhnya,” ucap Nathan dengan serius.


Ini memang bukan acara lamaran yang romantis namun melihat Nathan yang berlutut di hadapannya membuat Vanessa tersenyum malu-malu, “Sama persis seperti di novel yang ku baca hihi,” batin Vanessa.


“Kalau kamu diam saja berarti jawabannya iya,” ucap Nathan dan memasangkan cincin yang dia tunjukan tadi siang lalu mencium tangan Vanessa.


Perasaannya tidak karuan, hatinya berdegup kencang, pipinya memanas tubuhnya terasa lemas. Ini untuk pertama kalinya Vanessa di lamar oleh seorang pria, rasanya novel yang ia baca barusan khayalan yang menjadi nyata baginya.


Nathan memeluk Vanessa erat, meski ini acara lamaran kedua karena siang tadi gagal tapi Nathan puas melihat ekspresi yang Vanessa tunjukan. Dia yakin wanitanya itu tidak menjawab karena terlalu terkejut saat Nathan berlutut di hadapannya, sebenarnya adegan berlutut untuk melamar itu saran dari Niko, “Yes, berhasil bang,” batin Nathan.


 ***


Gak seindah dan seromantis film-film di tv tapi seenggaknya bisa buat vanessa senang dengan pengalaman pertamanya di lamar Nathan.

__ADS_1


Ada yang mau di lamar Niko gak? Kayanya meski ketus dan menyebalkan si abang satu itu bisa bikin wanita klepek-klepek deh. Siapa yang mau part Niko dan Putri? Tulis di kolom komentar yah


__ADS_2