
Dua hari berlalu setelah kejadian Vanessa yang melarikan diri dari ruangan Nathan karena takut Nathan kembali menciumnya. Vanessa sudah tidak memakai masker lagi, dia di sibukan dengan pekerjaannya. Siang itu ponselnya berdering tanda panggilan masuk, vanessa mengalihkan perhatiannya dan menatap ponselnya, “Untuk apa papa menelpon tumben sekali, ini kan jam kerja.”
Vanessa mengangkat telpon papanya, “Halo pah ada apa?” tanya Vanessa.
“Ini ada orang tua Nathan katanya kamu sudah menerima lamaran Nathan, dan mereka ke sini untuk membicarakan soal pernikahan kalian,” jawab Papanya di sebrang sana.
“Iya memang Nathan melamar teteh tiga hari yang lalu, tapi Nathan tidak bicara sama teteh kalau orang tuanya mau menemui papa ... sebentar atuh yah pah teteh tanya Nathan dulu, nanti teteh telpon lagi.” Ucap Vanessa dan mengakhiri telponya.
Vanessa berjalan dengan tergesa menuju ruangan Nathan, tapi sekertarisnya Nathan tidak ada di tempatnya. Dia mencoba mengetuk pintu Nathan, setelah mendengar Nathan mengijinkan masuk, Vanessa langsung membuka pintu dan berjalan ke hadapan Nathan yang meliriknya sebentar lalu kembali fokus pada berkas yang sedang dia pelajari.
“Kenapa tidak bilang kalau tante ke bandung nemuin papa?” tanya Vanessa to the point ini bukan saatnya berbasa basi.
“Aku tidak tau sayang kalau mami ke bandung,” jawab Nathan sambil memberikan tanda tangan sebelum menutup berkasnya.
“Itu katanya tante mau ngomongin soal pernikahan kita,” ujar Vanessa.
“Iya bagus mami berarti bergerak cepat,” jawab Nathan santai.
Ponsel Vanessa yang di simpan di sakunya kembali berdering tanda panggilan dari papanya, “Hallo pa,” sapa Vanessa.
“Jadi bagaimana kamu mau menikah dengan Nathan?”
Vanessa menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan papanya.
Percakapan Vanessa dan papanya terdengar di telinga Nathan meskipun samar-samar, “Papa tidak akan bisa melihat anggukanmu,” ucap Nathan sambil tersenyum senang.
Vanessa melirik sebentar dan memajukan bibirnya, kesal mendengar ucapan Nathan dia mencoba berjalan menjauh dari Nathan, “Iya pa,” jawab Vanessa.
“Beneran cinta sama Nathan? Katanya tadi pernikahan kalian akan di selenggarakan satu bulan lagi ... kalau teteh keberatan papa batalkan saja.”
__ADS_1
Vanessa menggelengkan kepalanya, “Jangan di batalin atuh pa, memang sih terlalu cepat dan mendadak tapi teteh cinta sama Nathan,” ungkap Vanessa dengan suara pelan dia takut Nathan mendengarnya.
Nathan tersenyum di belakang Vanessa, dia senang Vanessa mengungkapkan perasaan cintanya.
“Ya sudah kalau begitu papa mau ngobrol lagi dengan orang tua Nathan, teteh awas jaga diri sebelum pernikahan yah,” ucap Papa dengan nada khawatir.
“Iya pa,” jawab Vanessa lalu mengakhiri sesi telponnya. Vanessa terlonjak kaget saat membalikan tubuhnya Nathan berdiri tepat di depannya.
Vanessa mendorong dada Nathan agar menjauh, “Kenapa malah di belakangku, nguping yah,” ucap Vanessa kesal.
Nathan menggelengkan kepalanya, “Aku gak nguping,” jawab Nathan sambil mendekati tubuh Vanessa.
Vanessa semakin mundur saat Nathan melangkah mendekatinya, tubuh Vanessa sudah mentok di ujung tembok tapi Nathan masih terus berjalan mendekat, “Jangan cium aku lagi ... aku takut,” gumam vanessa sambil menundukan kepalanya.
Nathan berhenti di hadapan Vanessa dengan jarak lima cm yang, “Siapa yang mau menciummu?” tanya Nathan sambil menaikan satu alisnya.
Vanessa kembali berusaha mendorong tubuh Nathan, “Yaudah sana jangan deket-deket ah,” ucap Vanessa dengan nada memohon.
Vanessa hanya diam mematung saat bibir Nathan menempel di keningnya, rasa takut itu tiba-tiba hilang ada rasa bersalah karena medorong tubuh Nathan, Vanessa memeluk Nathan erat. “Maaf aku Cuma takut kamu mencium aku lagi, bibir aku trauma di cium kasar sama kamu,” Vanessa mengungkapkan ketakutan yang ada di hatinya.
Nathan melepaskan ciuman di kening Vanessa, “Maaf kalau aku terlalu kasar padamu sayang,” ucap Nathan sambil memandang kedua bola mata Vanessa.
Vanessa membalas tatapan Nathan dan menganggukan kepalanya. “Aku sedang banyak pekerjaan, Aku kembali keruanganku yah,” ucap Vanessa.
Nathan menganggukan kepalanya, dan tersenyum pada Vanessa. Setelah vanessa pergi dari ruangannya Nathan merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang tersdia di ruangannya, semalaman dia tidak tenang karena memikirkan bagaimana cara untuk bertemu dengan wanitanya. Perasaanya lega setelah Vanessa masuk ke ruangannya meskipun barusan dia takut dicium oleh Nathan.
Nathan menutup matanya dan pergi ke alam mimpi. Nathan sedang duduk dengan Vanessa di dalam pesawat, wanitanya itu sangat manja kepadanya. Vanessa meminta Nathan mencium keningnya atau sekedar mencium tangannya.
“Aku merasa sangat beruntung bisa menikah denganmu sayang,” ucap Vanessa sambil menatap Nathan.
__ADS_1
“Aku yang beruntung bisa menikah denganmu meskipun sikapmu kadang kekanak-kanakkan,” ucap Nathan memuji sekaligus meledek istrinya.
Vanessa mencubit pinggang suaminya, “Gak usah muji sambil meledek.”
“Aaaw lepas sayang sakit,” ucap Nathan kesakitan sambil berusaha melepaskan tangan Vanessa.
Setelah puas mencubit suaminya Vanessa memilih memalingkan wajahnya karena kesal.
Nathan menarik dagu Vanessa agar menatapnya, “Setelah pulang bulan madu, kamu berhenti bekerja yah,” pinta Nathan.
“Kenapa harus berhenti kerja?” tanya Vanessa dengan wajah cemberutnya.
“Aku ingin kamu fokus di rumah dan menjaga anak-anak kita nanti.”
“Memangnya kamu mau punya anak berapa?” tanya Vanessa.
“Yang baaaaanyak,” ucap Nathan senang. Melihat istrinya yang akan protes Nathan menempelkan bibirnya untuk membungkam mulut istrinya.
Tiba-tiba pesawat yang mereka tumpangi berguncang hebat, melihat wajah panik milik istrinya membuat Nathan memeluk istrinya dengan erat. Namun guncangan itu terlalu hebat Nathan kehilangan kesadarannya, dia bangun melihat kening Vanessa yang berdarah. Dia mencoba mengedarkan pandangannya untuk mencari bantuan, namun yang terlihat percikan api yang terus membesar.
Nathan mencoba menggoyangkan tubuh istrinya, “Sayang bangun.” Namun Vanessa tidak sadar juga, membuat Nathan semakin panik. Dia mencoba mendekatkan jarinya ke hidung Vanessa. Tubuh Nathan lemas karena tidak merasakan hembusan nafas vanessa, dia mengecek nadi vanessa. Tangisnya pecah saat menyadari Vanessa sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya, “Tidaaaaak,” teriak Nathan prustasi.
Saat membuka matanya Nathan langsung bangkit dari tidurnya, “Mimpi aneh macam apa lagi ini, di siang bolong begini,” ucap Nathan sebal, sambil berjalan ke meja kerja nya untuk meneruskan pekerjaanya yang tertunda.
***
Haduh kenapa Nathan mimpi Vanessa meninggal yah ?
Jangan lupa dukung author terus ya, love u all
__ADS_1
Doain ya author lagi crazy update untuk selesai di tanggal 31 biar awal tahun bisa garap cerita baru