Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 33 (Keselamatan Vanessa)


__ADS_3

Vanessa merasakan lehernya tercekik, dia sampai kesulitan bernafas.


“Cepat kembalikan ke semula bonekanya,” teriak Nathan khawatir karena melihat Vanessa yang kesulitan bernafas akibat cekikan wanita itu.


Vanessa tau ini akibat dia tidak mau mendengarkan ucapan Nathan, meskipun cekikan di lehernya semakin kuat Vanessa mencoba jongkok meraih boneka itu dengan perlahan. Dia mengembalikan boneka itu ke tempat semula.


“Lepaskan!” teriak Nathan.


Tidak lama Vanessa merasakan cekikan itu lepas, tubuhnya lemas kejadian barusan benar-benar baru dia alami. Meskipun dia penyuka novel horror tapi baru kali ini dia merasakannya. 


Nathan menghampiri Vanessa duduk tepat di samping Vanessa, “Atur nafas mu,” ucap Nathan melihat nafas Vanessa yang tersegal-segal. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Vanessa. 


Mencoba mengikuti intruksi Nathan akhirnya Vanessa bisa kembali bernafas seperti biasa, rasanya tubuhnya lemas sekali. “Untung saja aku tidak pingsan,” gumam Vanessa.


Nathan mengelus pipi Vanessa pelan, “Lebih baik kita pulang.”


“Tidak Nathan, kita sudah terlanjur di sini, ayo lanjutkan aku sudah merasa baikan,” tolak Vanessa.


“Kita pulang,” ucap Nathan tegas.


Vanessa tetap bersikuku untuk melanjutkan pencarian, dia harus menemukan petunjuk. “Untuk apa aku sampai kelelahan apalagi di cekik mahluk halus kalau tidak mendapatkan hasil apa-apa,” ketus Vanessa sambil berusaha bangkit dan berjalan meninggalkan Nathan.


Nathan menghela nafasnya, “Kalau tau akan seperti ini aku tidak  akan meminta mu menemukan orang yang sudah membunuhku, apalagi sampai membahayakan keselamatanmu,” lirih Nathan sambil berjalan mengikuti Vanessa.



Vanessa menatap anak tangga di depannya, “Aku harus lebih berhati-hati jangan sampai kejadian barusan terulang kembali,” batin Vanessa. Perlahan dia menaiki anak tangga dengan sangat hati-hati. Sampailah Vanessa di lantai dua dia mengedarkan pandangannya. Matanya menangkap sebuah kursi roda yang Nampak bersih di sudut ruangan, entah bisikan dari mana tubuh Vanessa tiba-tiba mengikuti arahan perintah seseorang yang menyuruhnya duduk di sana.

__ADS_1


Melihat gelagat aneh milik Vanessa Nathan menyentuh bahu Vanessa, “Fokus Vanessa jangan dengarkan bisikan mereka.”


Vanessa tersentak kaget saat Nathan menepuk bahunya, “Kenapa aku seperti ini?” tanya Vanessa sambil menatap Nathan.


“Mereka menyukai dirimu, kamu terlalu mudah untuk mereka kendalikan. Jangan biarkan pikiranmu kosong sebentar saja, jangan terlalu lama menatap sesuatu yang membuat tubuhmu tertarik. Mereka sedang berusaha mengendalikan tubuhmu,” jawab Nathan, matanya menatap satu persatu sosok yang mengelilingi tubuh Vanessa.


Hari sudah mulai gelap tapi Vanessa tidak menemukan apa-apa di gedung itu. Dia sudah mengunjungi setiap sudut ruangan di gedung tua itu, “Di sini tidak ada apa-apa Nathan,” ujar Vanessa.


Nathan diam di tempatnya Nampak sedang berpikir.


“Coba ingat-ingat kembali kejadian itu siapa tau ada sebuah pentunjuk,” ucap Vanessa. 


“Jasadku di buang ke sungai.”


“Ke sungai?” tanya Vanessa.


“Yaudah kita coba ke sana,” Vanessa bergegas meninggalkan bangunan tua itu. mengikuti arahan Nathan untuk sampai di sungai yang Nathan maksud.


Kegelapan mulai menyelimuti langkah mereka, Vanessa mengeluarkan senter dari dalam tasnya untuk menerangi jalannya. Setibanya di sungai tempat Nathan di buang Vanessa memperhatikan sungai itu dengan seksama, dia mencoba naik ke jembatan sungai itu. 


Suara hewan malam menemani perjalanan mereka, Vanessa mencoba menyingkirkan rasa takutnya, yang terpenting sekarang adalah bagaimana dia bisa menemukan pembunuh Nathan, sementara dia tidak mendapatkan petunjuk apa pun dari hasil pencariannya.


Nathan berdiri di samping Vanessa, mengikuti arah pandang Vanessa yang menatap lurus sungai yang memiliki arus deras di depannya. “Dia sangat rapi dalam melakukan pembunuhan ini,” ujar Nathan.


Vanessa menatap lekat mata Nathan, “Kita tidak boleh menyerah, besok kita kembali lagi,” usul Vanessa.


“Lebih baik kita akhiri saja pencarian ini,” tandas Nathan.

__ADS_1


“Tidak Nathan, besok kita kembali lagi.”


Vanessa berjalan meninggalkan Nathan, namun jembatan berlumut itu membuat Vanessa terpeleset dan jatuh ke sungai. Sungai deras itu dengan mudah membawa tubuh kecil Vanessa.


Nathan terkejut melihat Vanessa yang terbawa arus, Vanessa berkali-kali mencari pegangan ranting, namun sia-sia arusnya terlalu deras. 


...Flashback on...


Nathan meringis kesakitan sambil memegangi dadanya yang teramat sakit.


“Lemparkan dia,” ucap seorang pria yang terdengar jelas di telinga Nathan.


“Tidak, jangan ku mohon,” ucapannya tidak mereka dengar, rasa sakit Nathan bertambah saat dia merasakan tubuhnya terlempar di udara dan mendarat di air. Dia tidak bisa berenang rasa sesak dan sakit di hidungnya menambah penderitaanya.


“Tolong,” teriak Nathan lirih.


Namun mereka malah menertawakan Nathan tanpa berniat membantunya, Nathan berusaha sekuat tenanganya untuk menepi ke sisi sungai namun kesadarannya hilang bersama rasa sakit di tubuhnya.


...Flashback off...


Rasa takut itu meyelimuti hati Nathan, dia hanya bisa berlari di pinggir sungai mengikuti tubuh Vanessa yang terbawa arus.


“Nathan tolong aku,” teriakan Vanessa membuat tubuh Nathan lemas.


Nathan rasa ini bukan saatnya mengingat kejadian itu, meskipun dia tidak bisa berenang namun Nathan harus membantu Vanessa. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada Vanessa. Nathan melopat ke sungai dia menarik tangan Vanessa dan memeluknya dengan sebelah tangan. Nathan berusaha meraih akar pohon namun derasnya arus sungai menyeret tubuhnya dengan cepat.


Nathan melihat Vanessa yang memejamkan matanya, tubuh vanessa lemas sepertinya dia kehilangan kesadaran. “Tuhan bantu aku,” teriak Nathan prustasi. Derasnya arus sungai terus menyeret tubuh lemah vanessa.

__ADS_1


__ADS_2