
Vanessa mendengar jelas suara wanita namun dia tidak bisa berkonsen trasi untuk melihat siapa wanita itu.
“Lepas Yah, dia bisa mati.” Saat tangan Pasusanto lepas dari lehernya tubuh Vanessa ambruk ke lantai. Dia terbatuk-batuk dan berusaha mengatur nafasnya. Nafasnya masih tersegal-segal Vanessa hanya bisa menutup matanya, “Aku kuat Nathan,” batin Vanessa.
“Agung ambilkan tabung oksigen di kamar kak Kevin!” ucap Anatasya pada Agung yang masih berdiri di ambang pintu.
Pasusanto hanya bisa menatap anaknya yang menghampiri Vanessa dan membantu Vanessa untuk naik ke atas tempat tidur.
Agung datang dengan cepat memberikan tabung oksigen pada Anatasya. Dengan telaten Antasya membantu Vanessa memulihkan pernafasannya, “Hirup perlahan,” ucap Anatasya lembut seraya mengusap rambut Vanessa.
Anatasya melirik Agung yang berdiri di sebelahnya, “Agung ambilkan air minum!”
Agung menganggukan kepalanya dan berjalan ke luar kamar Anatasya, ada rasa gembira melihat sikap Nona Antasya.
Anatasya menerima gelas yang di berikan Agung, membatu Vanessa untuk meminumnya. Setelah melihat keadaan Vanessa yang membaik dia berjalan menuju Ayahnya yang sedang duduk di sofa dengan senyum yang mengembang dari bibir Ayahnya.
“Kenapa Ayah tega membunuh Pria itu, dan Ayah hampir membunuh wanita itu dengan tangan Ayah sendiri, Tasya kecewa sama Ayah.”
Vanessa melihat butrian bening meluncur dari pipi Anatasya.
“Karena dia telah membuat putri kesayangan ayah depresi, Ayah tidak rela melihat mu seperti ini karena perbuatannya!” Pasusanto berdiri memeluk Anatasya erat. Ada rasa gembira di hatinya melihat putri kesayangannya kembali normal.
“Aku tidak depresi ayah. Aku malu … aku tidak memiliki kepercayaan diri lagi setelah keperawanan ku hilang. Apalagi ayah selalu menjodohkanku dengan pria pilihan ayah. Mereka tidak tau kalau aku sudah tidak perawan, aku takut di hina ayah … aku takut,” Antasya menangis di pelukan ayahnya mencurahkan semua isi hatinya.
“Tenang sayang, ada ayah di sini. maafkan ayah yang terlalu memaksakan kehendak ayah,” dengan lembut Pasusanto mengelus rambut putrinya.
Vanessa meneteskan air matanya, mendengar ucapan Anatasya yang menyayat hatinya. Dia sebagai wanita bisa merasakan apa yang di rasakan Anatasya. Jika dia ada di posisi Anatasya dia juga pasti kehilangan percaya dirinya, sebagai wanita yang belum menikah namun mahkotanya sudah hilang.
Dia juga tidak membenarkan Nathan. Meskipun saat itu dia dalam keadaan mabuk tetap saja Nathan salah. Apalagi Nathan tidak memiliki itikad baik untuk sekedar meminta maaf, Vanessa memaklumi sikap Pasusanto. Tidak ada orang tua yang rela melihat anaknya di perlakukan seperti itu, apalagi sampai anaknya depresi karena perbuatan bejat Nathan.
Entah kenapa hati Vanessa merasakan bimbang karena mencintai Nathan, setelah apa yang di lakukan Nathan pada Anatasya sungguh tidak mencerminkan pria yang bertanggung jawab. Tapi dia harus tetap mendapatkan permintaan maaf untuk Nathan, dan Vanessa berharap Nathan bisa meminta maaf langsung pada Anatasya karena kesalahannya saat dia sudah sadar dari komanya.
Vanessa hanya diam mematung di tempatnya menyaksikan ayah dan anaknya yang sedang berpelukan. Tidak lama terlihat Anatasya yang melepaskan pelukannya dan menatap Vanessa, dia hanya bisa tersenyum saat di tatap oleh Anatasya.
__ADS_1
Antasya menghampiri Vanessa yang masih duduk di atas tempat tidur, “Maafkan Ayah ya, Nama kamu siapa?”
“Iya nona, nama saya Vanessa,” jawab Vanessa sambil tersenyum.
“Tadi kamu bilang Pria yang memperkosa ku sedang koma?”
Vanessa menganggukan kepalanya, mencoba mencari keberadaan Nathan di kamar itu, tapi Nathan tidak ada di sana, “Kemana dia?” pertanyaan itu muncul di benak Vanessa.
Melihat Vanessa yang diam saja Pasusanto angkat bicara, “Iya dia sedang di rawat,” Pasusanto menatap Vanessa tajam.
Melihat tatapan tajam yang di berikan Pasusanto sedikit membuatnya ketakutan, Vanessa hanya bisa diam tidak berani untuk angkat bicara.
“Apa yang ayah lakukan pada Pria itu?” tanya Anatasya dengan wajah marahnya.
“Ayah hanya menusuk dadanya saja,” jawab Pasusanto santai.
Anatasya menggelengkan kepalanya melihat sikap keterlaluan milik Ayahnya, “Astaga Ayah itu sama saja Ayah membunuhnya. “
“Memang itu tujuan Ayah. Menyingkirkan siapa saja yang berani menyakiti Putri ayah,” Pasusanto membelai lembut rambut Anatasya.
“Ayah akan tetap di sini.” Pasusanto duduk di sofa.
Melihat kelakuan Ayahnya, Anatasya menarik Vanessa keluar dari kamarnya. Anatasya membawa Vanessa ke lantai paling atas di rumah itu. Tempat yang paling Anatasya rindukan.
Vanessa membulatkan matanya takjup pada taman yang Nampak indah dengan bunga-bunga yang bermekaran tersusun rapi. Dia mengikuti Anatasya yang duduk di gazebo, perhatiannya tertuju pada ruangan yang terlihat banyak alat music di sana, menatap gitar yang terlihat sangat elegan, “Mahal pasti,” batin Vanessa.
“Kamu suka main music juga?” tanya Anatasya saat melihat arah pandang Vanessa.
Vanesa menggelengkan kepalanya, “Tidak juga, aku hanya bisa main gitar. Itu pun masih belajar.”
“Jadi apa yang membuat mu ke sini?” tanya Anatasya.
Vanessa mencoba menceritakan semuanya dari awal saat bertemu dengan Nathan di rumah kosong, sampai dia bisa ada di rumah ini.
__ADS_1
Anatasya melihat raut wajah Vanessa yang terlihat sedih saat menceritakan semuanya, “Sepertinya perempuan ini mencintai Nathan,” begitu pikirnya.
“Apa nona mau memaafkan Nathan, agar Nathan bisa kembali ke raganya?” tanya Vanessa setelah mengakhiri ceritanya.
“Aku akan memaafkan Nathan dengan satu syarat,” ucap Anatasya.
“Apa syaratnya nona?” tanya Vanessa tidak sabaran. Dia senang karena sebentar lagi Nathan bisa kembali ke raganya.
“Syaratnya mudah, setelah Nathan sadar dia harus menikahiku.”
Vanessa membulatkan matanya dia sangat terkejut mendengar syarat yang di ajukan Anatasya.
Apa ini akhir dari hubungannya dengan Nathan?
Bagaimana dengan hatiku dan perasaanku, apa boleh aku egois.
Atau Vanessa memilih bersama selamanya dengan arwah Natahan?
Tapi Vanessa juga ingin memihat Nathan sembuh meskipun kemungkinannya hanya 10 %.
“Bagaimana?” tanya Anatasya karena melihat Vanessa yang malah diam saja.
“Mana yang harus aku pilih tuhan,” Vanessa menggigit kecil bibir bawahnya dia tidak bisa memilih salah satu.
***
Hallo selamat malam semuanya ☺️
Kira-kira Vanessa akan mengambil keputusan yang mana yah?
Mana pendukungnya Nathan & Vanessa?
Jangan lupa like, komentar dan votenya ya teman-teman.
__ADS_1
Sampai jumpa di bab selanjutnya bye-bye