
Vanessa sudah menyelesaikan tugas kuliahnya yang sempat tertinggal saat membantu Nathan untuk mencari pembunuhnya. Ada rasa sakit yang memenuhi hatinya saat kembali mengingat Nathan, butuh waktu sebentar untuk jatuh cinta pada Nathan, tapi untuk melupakannya tidak cukup dengan waktu sebentar. Bahkan dia tidak punya kenang-kenangan berupa barang atau sekedar foto dengan Nathan, mengingat pria itu adalah arwah memegang benda pun tidak bisa, bagaimana bisa berfoto menggunakan ponselnya. Semua kenangan bersama Nathan hanya ada di kepala dan memenuhi isi hatinya.
Siang itu Vanessa masuk ke ruang dosen, di sana hanya ada pak Niko yang sedang fokus menatap layar laptopnya. Vanessa diam di ambang pintu memperhatikan wajah dosennya yang Nampak serius, “Kalau Nathan masih ada, mungkin aku bisa memperhatikannya.
Dia pasti akan terlihat lebih tampan seperti Pak Niko, mungkin bibirnya tidak akan pucat seperti dulu.” Vanessa tersenyum malu-malu mengingat adeagan ciumannya dengan Nathan.
“Ngapain kamu berdiri di situ sambil senyum-senyum gak jelas!”
Suara bariton milik Niko menyadarkan Vanessa dari lamunannya, “Eh maaf Pak,” ucap Vanessa lalu berjalan mendekati meja dosennya.
“Duduk!”
Vanessa langsung mengikuti perintah Niko, di keluarkannya skripsi yang sudah dia kerjakan.
“Ada kesulitan?” tanya Niko tegas.
“Saya kurang percaya diri di bab terakhir Pak,” jawab Vanessa sambil menyerahkan skripsi yang sudah dia print.
Vanessa kembali memperhatikan dosennya yang sedang membaca skripsi miliknya, terlintas kembali pikirannya tentang Nathan. Namun dia mencoba menyingkirkannya sebentar, sekarang dia harus fokus pada kuliahnya dulu, “Urusan hati mah nanti aja belakangan,” batin Vanessa.
Pembahasan mengenai skripsi milik Vanessa cukup memakan waktu lama, Vanessa masih asik mencatat setiap ucapan dosennya yang mengkoreksi skripsi miliknya.
“Sepertinya sampai sini dulu,” ucap Niko.
Vanessa melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul tiga, “Tidak terasa sudah dua jam ternyata,” batinnya.
Niko memberikan skripsi yang di peganya pada pemilnya, “Untuk minggu depan, saya Cuma punya waktu pagi atau sore hari.”
“Sore aja Pak supaya lebih santai, kalau pagi kebetulan saya ada kelas,” ucap Vanessa.
“Tapi di atas jam empat, saya ada wakt luangnya kalau sore.”
Vanessa tampak berpikir, “Waduh sore banget,” batinnya.
Melihat Vanessa yang diam saja Niko langsung mengeluarkan suaranya, “Jadi bagaima?”
“Pak Niko gak sabran banget orangnya,” gerutu Vanessa di dalam hatinya, karena merasa terganggu saat akan mengambil keputusan.
__ADS_1
“Vanessa!”
Vanessa menatap malas mendengar Pak Niko yang mulai meninggikan suaranya. “Sore saja,” jawab Vanessa singkat.
“Cuma jawab gitu aja mikirnya lama,” ketus Niko.
Vanessa membulatkan matanya tidak terkejut mendengar ucapan ketus Niko, “Astaga mikir gak sampe satu jam di bilang lama,” batin Vanessa kesal.
“Saya tuh gak punya banyak waktu buat liat kamu diem aja.”
“Eh eh nyolot lagi,” ucap Vanessa di dalam hatinya. Dia sungguh tidak suka melihat sikap dosennya, padahal dia sudah terpesona dengan Niko saat berdiskusi soal skripsinya yang sangat membantunya.
“Maaf Pak, otak saya sudah kepanasaran dengerin ceramah bapak barusan. Makanya loadingnya lama,” ucap Vanessa asal.
“Kamu pikir saya ini sedang tausiyah apa, pake bilang saya ceramah.” Niko menatap Vanessa tajam.
“Aduh salah ngong lagi, Vanessa dia masih muda juga tetep dosen lo. Tolong di hormati!” Vanessa mencoba mengingatkan dirinya sendiri.
“Ini mah harus segera di akhiri Pak, otak saya udah konslet,” ujar Vanessa sambil tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
“Nathan siapa?”
“Maaf pak, saya tidak suka membahas masalah pribadi dengan dosen saya,” ucap Vanessa ramah dengan menampilkan senyum terbaik miliknya.
Vanessa menahan tawanya melihat wajah Niko yang tampak kesal mendengar ucapan Vanessa. “Haha satu sama, memangnya enak aku balas,” batinnya. Vanessa merasa menang karena berhasil membalas rasa kesalnya pada dosen tidak sabaran di depannya.
Tanpa mengucapkan sepata katapun Niko langsung membereskan barang-barang miliknya dengan cepat lalu meninggalkan Vanessa tanpa pamit.
Melihat kepergian dosennya Vanessa tertawa sepuas-puasnya, dia senang karena berhasil membuat Niko kesal. “Vanessa di lawan,” ucap Vanessa bangga.
***
Sore itu Vanessa pulang ke kosan dengan wajah lelahnya, dia menengok ke arah teman kosannya yang memanggil namanya.
“Kenapa Wit?” tanya Vanessa.
“Eh ini tadi ada titipan buat kamu katanya,” Wita memberikan paper bag pada Vanessa.
__ADS_1
“Dari siapa?” tanya Vanessa kembali, dia meneliti paper bag yang di pegannya.
Vanessa merasa heran karena akhir-akhir ini banyak yang mengirim kan barang tanpa nama pengirim kepadanya.
“Gak tau, Madam Cuma bilang ini titip buat Vanessa.”
“Oh makasih ya,” ucap Vanessa dia tidak ingin memusingkan siapa orang yang ngirimnya lagi.
Vanessa duduk di atas tempat tidurnya, membuka paper bag yang di berikanWita. Isinya buku-buku materi untuk skripsi, “Ini siapa yang ngirim buku!”
Bukannya senang Vanessa merasa kesal mendapat kiriman barang yang tidak jelas asal-usulnya. Bunga kiriman pertama sudah Vanessa buang karena layu, sementara kiriman bunga dari kain flannel dan gelang itu masih tersimpan dengan rapi di kotaknya karena Vanessa belum mendapat pencerahan mengenai pengirim bunga itu. belum terbokang siapa pengirimnya Vanessa kembali mendapat kiriman buku-buku, “Apa ini pak Niko yah?” pertanyaan itu muncul di benak Vanessa.
“Eh tapi kan Pak Niko tidak tau alamat rumah ku,” ujar Vanessa menolak keyakinannya.
“Lagian ngapain juga Pak Niko kirim-kirim bunga sama buku gini kurang kerjaan aja kayana. Ini mah fix pengagum rahasia, tapi siapa ya?” Vanessa memikirkan ucapan yang keluar dari mulutnya.
Entah kenapa pikirannya terlintas bahwa Nathan yang mengirim ini semua, “Tapi kan jelas banget itu papan bunga di depan rumahnya yang gue liat gak mungkin salah, Putri juga liat pasti,” lirih vanessa.
Vanessa memejamkan matanya bayangan wajah Nathan yang terlihat sangat tampan dengan halis tebal, hidung mancung dan bibir seksinya muncul di kepala Vanessa. Namun yang membuat Vanessa sedih adalah bayangan Nathan sedang menatapnya dengan air mata yang hampir memenuhi pelupuk matanya. “Kamu merindukan aku tidak?” tanya Vanessa pada bayangan Nathan di depannya.
Namun bayangan di kepalanya berubah menjadi papan bunga bertuliskan “Turut berduka cita atas meninggalnya Tn. Nathan.”
Hatinya sakit mengingat Nathan telah pergi meninggalkannya tanpa sepata katapun. Dia menyesal karena baru sekarang dia merasa sangat kehilangan Nathan, harusnya dia mengikuti ucapan Nathan yang menyuruhnya pulang. Mungkin sekarang dia masih bisa bersama Nathan, menikmati hari-hari bahagianya meskipun hanya arwah Nathan yang selalu berada di sampingnya. Namun pelukan dan ciuman itu terasa sangat nyata. Vanessa ingin memeluk Nathan untuk yang terakhir kalinya, saat itu dia ingin masuk dan memeluk raga Nathan.
Tapi dia sangat malu, dia bukan siapa-siapanya Nathan, banyak orang yang akan mencibirnya dan di pastikan petugas keamanan akan menyeretnya. Maka Vanessa lebih memilih kembali ke ruamahnya, dia juga tidak sanggup melihat Nathan yang terbujuk kaku tanpa bisa memeluk dan menciumnya seperti dulu, “Bukan ini yang aku harapkan … bukan kematian yang aku inginkan setelah perjalanan ini selesai … aku ingin melihat mu tersenyum dan bisa memelukku dengan ragamu.” Air mata Vanessa turun begitu deras dengan isakan kecil yang keluar dari mulutnya.
Vanessa merasa sakit yang teramat di hatinya mengingat semua kejadian bersama Nathan yang terus menerus memenuhi isi kepalanya.
***
Haduh Nathan kamu kemana sih ?
Itu liat Vanessanya nangis gitu, tolong di berikan pelukan erat yang menghangatkan hati hihi
Dingin juga ternyata nulis subuh-subuh gini, ada yang mau peluk author gak? hehe becanda
Makasih ya buat vote nya, author seneng bukan main 😁 dapet dukungan dari kalian.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komentarnya ya biar author makin semangat update 💪
Jangan lupa sarapan pagi untuk menambah energy menghadapi kerasnya kehidupan ‘Semangat’