
Seminggu berlalu Nathan sudah memulai bekerja kembali di kantornya, dia menatap layar komputernya melihat rekaman CCTV di ruangan Vanessa. Terlihat Vanessa yang rambutnya tampak acak-acakan karena terus dia garuk saat merasa prustasi.
Nathan tersenyum melihat Vanessa yang sibuk dengan kalkulator dan berkas di mejanya, mungkin dia sedang menghitung laporan bulannya. Nathan mengambil gagang telponnya, “Ada apa?” tanya Niko.
“Suruh Vanessa kemari,” ucap Nathan dan langsung mematikan sambungan tanpa menunggu jawaban Niko.
Nathan memperhatikan Niko yang berjalan ke kubikel Vanessa, terlihat Vanessa menganggukan kepalanya. Setelah kepergian Niko Vanessa merapikan rambutnya dan memakai lipstick sebelum berjalan keluar.
“Wanita itu selalu saja merapikan penampilannya sebelum bertemu denganku,” ucap Nathan dengan senyum mengembangnya.
***
Vanessa berjalan mendekari ruangan Nathan terlihat sekertaris Nathan sedang membaca berkas di mejanya, “Tuan Nathan ada pak?” tanya Vanessa.
Setelah bekerja di sana Vanessa tau jabatan Nathan yang dia dapat dari informasi di internet, dan beberapa kali dia mendengar para pekerja di sana memanggil Nathan dengan sebutan Tuan membuat Vanessa mengikuti saja tanpa banyak bertanya.
Sekertaris Nathan menatap Vanessa sebentar lalu menjawab, “Ada.”
Vanessa mengetuk pintu ruangan Nathan, setelah mendengar Nathan menyuruhnya masuk Vanessa berjalan memasuki ruangan Nathan, “Ada apa Tuan memanggil saya?” tanya Vanessa sambil tersenyum.
Ada perasaan bahagia melihat Vanessa yang memperdulikan penampilannya untuk bertemu dengan Nathan, “Kan aku sudah bilang kalau berdua jangan panggil tuan,” ucap Nathan tidak suka.
__ADS_1
Vanessa mengulum senyumnya melihat Nathan yang terlihat semakin tampan karena wajah kesalnya, “Iya sayang ada apa?” tanya Vanessa, dia sudah terbiasa memanggil Nathan sayang karena permintaan Nathan di rumah sakit sebagai balas budi karena sudah menolong Vanessa. Awalnya Vanessa menolak tapi Nathan malah memunggunginya dan tidak mau berbicara dengannya, tidak sulit pikir Vanessa menyebut Nathan sayang karena hatinya sudah jatuh pada pria itu. awalnya memang canggung, tapi Nathan pun memanggilnya sayang membuat Vanessa sedikit terbiasa meskipun sering di tertawai oleh Putri karena menurutnya terlalu berlebihan di jaman sekarang memanggil sayang sayang pada pacar tapi Vanessa mencoba acuh setiap Putri meledeknya.
Nathan terlihat mengambil sesuatu dari laci mejanya, dia mengelurkan kotak berwarna merah dan di taruhnya di atas meja. Vanessa mengrenyitkan dahinya tidak mengerti, “Apa itu tanya Vanessa?”
Nathan mendorong kotak itu ke hadapan Vanessa, Vanessa yang masih berdiri memilih duduk di kursi tepat di hadapan Nathan. Vanessa menatap kotak yang berisi cincin yang terlihat simple di dalam kotak itu, “Cincin untuk apa?” tanya Vanessa dia tidak bisa menutupi rasa penasarannya.
“Aku memang tidak bisa romantis seperti pria di luaran sana, aku juga tidak bisa membuat kata-kata indah untuk melamar wanita … kamu mau menikah denganku?”
Ucapan terakhir Nathan membuat Vanessa tekejut, dia membulatkan matanya tidak percaya. Rasanya senang mendengar Nathan melamarnya meskipun acara lamaran ini tidak seromantis bayangannya. Setelah satu bulan mengenal Nathan Vanessa tau satu hal pria itu memang tidak romantis dan sedikit lebay.
Wajah Nathan terlihat kesal melihat Vanessa yang malah diam bukan menjawab pertanyaannya.
Vanessa tersenyum prianya itu memang mudah marah dan terkesan tidak sabaran. “Jawab bukan diam saja,” ketus Nathan.
Vanessa mendorong kotak tersebut ke hadapan Nathan, “Mana ada wanita yang mau menikah dengan mu kalau ketus begitu.”
“Ya terus kenapa diam saja, sudah tau aku tidak suka menunggu sayang,” ucap Nathan dengan menekan kata sayang agar Vanessa mengerti.
“Gak ada makan malam romantis gitu dengan hiasan bunga?”
“Kamu mau?” Nathan balik bertanya.
__ADS_1
Vanessa menganggukan kepalanya dengan antusis, “Tapi jawab dulu mau engga menikah denganku?”
Mendengar pertanyaan Nathan membuat Vanessa kesal, di amblinya berkas yang ada di meja Natan lalu dia pakai untuk memukul lengan Nathan, “Sayang kan nanti di jawabnya saat makan malam romantis biar ada moment spesialnya,” ucap Vanessa dengan nada sedikit kesal namun berusaha tidak terlalu menampakannya.
“Tapi aku mau jawabannya sekarang sayang?”
Mendengar suara Nathan yang terdengar memohon dengan puppy eyesnya membuat Vanessa menjadi tidak tega, sepertinya Nathan sudah tau kelemahannya.
Vanessa kembali diam memikirkan jawaban yang akan diberikan pada Nathan, ini memang terlalu cepat dan mendadak tapi entah kenapa Vanessa merasa yakin untuk menjawab pertanyaan Nathan. “Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan pernikahan dalam waktu dekat, tapi aku mau menikah dengamu.”
“Panggilan sayangnya mana?”
Vanessa membulatkan matanya tidak percaya dengan ucapan menyebalkan yang keluar dari mulut Nathan soal panggilan. “Sudah ah aku sedang sibuk, nanti kalau laporanku tidak beres bisa-bisa di marahi Niko lagi.” Vanessa beridi dari duduknya untuk keluar dari ruangan Nathan.
Namun langkahnya terhenti saat merasakan Nathan yang memeluknya dari belakang, “Terimakasih sudah mau menikah dengaku, nanti malam akan ku buat makan malam romantis untukmu sayang,” ucap Nathan setengah berbisik tepat di telinga Vanessa.
***
Siapa yang mau ikutan makan malam romantis sama Nathan dan Vanessa?
Sebagai pengganti libur kemarin author kasih bonus nih buat kalian
__ADS_1
Doain ya mudah-mudahan suami author di terima kerja di tangerang biar bisa pindah rumah dan gak banyak aktifitas seperti sekarang, biar bisa up lebih banyak buat kalian.
Jangan lupa dukung author ya, love u all ❤️