
Pria itu mendorong tubuh Vanessa agar melepaskan pelukannya, “Saya bukan Nathan,” ucap Pria itu tegas.
Vanessa menyipitkan matanya meneliti wajah pria di depannya, “Eh iya alis nya berbeda, gaya rambut nya juga beda dengan Nathan,” batin Vanessa.
Putri mendekati Vanessa, “Maaf pak teman saya lagi halu.” Putri tersenyum pada dosen itu lalu menarik tubuh Vanessa pergi dari sana.
“Lepas Put sakit,” keluh Vanessa.
“Vanessa please itu dosen baru bukan Nathan.” Putri tidak habis pikir bagaimana bisa Vanessa tiba-tiba berani meluk-meluk dosen di tempat umun, bahkan banyak pasang mata yang menatap sinis karena kelakuan sahabatnya.
“Iya tadi gue pikir itu Nathan, saking kesenengannya gue langsung meluk lupa untuk meneliti lebih dulu. Ternyata hampir mirip tapi berbeda,” ucap Vanessa sambil membandingkan Nathan dan Pria yang barusan dia peluk.
“Jadi Nathan seganteng dosen itu? ... mereka mirip, jangan-jangan mereka kembar lagi ... lo tau kalau Nathan punya kembaran?” Putri terus berbicara tanpa henti, namun di lihatnya wajah Vanessa yang ketakutan.
“Lo kenapa Nes, kok liatin gue kaya gitu?” Putri menatap wajah Vanessa yang diam saja.
“Kita ke Pak Andi yuk, gue udah gak kuat liat cewe di belakang lo ngikutin kita terus,” ucap Vanessa datar.
Seketika bulu kuduk Putri berdiri, dia menggosok belakang lehernya, mulutnya berkomat-kamit merapalkan doa namun tidak hilang begitu saja rasa takutnya. Dia menarik Vanessa untuk mengikutinya keluar dari kampus, “Ini mah harus segera di selesaikan,” Pikir Putri.
Di dalam taxi online yang Putri pesan Vanessa hanya memejamkan matanya sepanjang perjalanan. Sampai di rumah Pak Andi beberapa kali Putri melihat wajah Vanessa yang ketakutan. Putri melihat wajah tenang Vanessa setelah di tutup kembali mata batinnya oleh Pak Andi.
“Memang berat neng saat di buka mata batin itu, semua yang tidak pernah kita liat ada di depan kita dengan sangat jelas,” ucap Pak Andi memberi penjelasan.
“Iya Pak saya gak kuat, apalagi kalau ada yang ngikutin,” ucap Vanessa mencoba mengeluarkan unek-uneknya.
“Biasanya mereka itu ingin berinteraksi neng, kalau manusia mah istilahnya mau curhat,” ucap Pak Andi sambil tersenyum pada Vanessa.
“Bukannya saya gak mau di ajak curhat Pak, tapi saya gak kuat liat kondisi mereka kebanyakan serem-serem,” Vanessa bergidik ngeri saat terbayang pria yang saat di jalan tiba-tiba muncul mengagetkannya.
“Iya neng kebanyakan yang menjadi arwah itu orang yang matinya tidak wajar, apalagi kalau kecelakan biasanya suka banyak di jalan, tempat mereka terjadi kecelakaan.”
“Tapi pak tadi tuh saya liat darah banyak banget di pinggir jalan, itu apa Pak?” tanya Vanessa penasaran.
“Oh itu mah paling yang jail aja, pingin ngerjain.”
“Terimakasih yah Pak, ini ada sedikit uang buat makan siang Pak,” Vanessa memberikan uang seratus ribu pada Pak Andi.
“Makasih banyak ya neng,” ucap Pak Andi sambil tersenyum pada Vanessa.
“Sama-sama Pak, kalau begitu saya dan teman saya pamit dulu,” ucap Vanessa dan berjalan meninggalkan rumah Pak Andi bersama Putri.
“Eh ngomong-ngomong kemarin ngasih berapa ke Pak Andi?” tanya Vanessa dia teringat saat Putri memberikan amplop.
“Gak banyak, kata si Ucup kasih tiga ratus ribu aja,” ujar Putri santai.
“Oh ini,” Vanessa memberikan uang pada Putri.
__ADS_1
“Kok banyak amat Nes,” ucap Putri setelah menghitung uang pemberian Vanessa ada lima ratus ribu.
“Kan tiga ratusnya buat gantiin bayar Pak Andi, sisanya buat ongkos taxi online.”
“Hehe makasih yah … eh ngomong-ngomong kok duit lo banyak sih?” tanya Putri penasaran setaunya uang pemberian Papanya Vanessa pas-pasan.
“Ini kan uang Nathan, gue pake dulu nanti kalau udah kerja gue ganti,” jawab Vanessa santai.
“Emangnya uang Nathan banyak yah?” tanya Putri kembali.
“Lumayan ada delapan puluh juta.” Vanessa mencoba mengingat-ingat saldo di ATMnya, “Tapi kayanya tinggal lima puluh jutaan lagi.”
Putri membulatkan matanya terkejut, “Apa delapan puluh juta? … lo gak salah ngambil uang sebanyak itu?”
Vanessa tersnyum menampilkan deretan giginya, “Waktu itu hampir ketahuan pembantunya Nathan, Gue asal ambil aja terus masukin ke tas tanpa di hitung dulu.”
“Gue gak bisa bayangin muka lo ketakuannya gimana, haha.”
“Justru itu si Nathan pake ninggalin gue lagi! keselkan gue jadinya,” ketus Vanessa.
“Eh beneran tadi itu lo gak liat Nathan di kampus?” tanya Putri mengalihkan pembicaraan.
“Liat, tadi cowo yang gue peluk itu Nathan,” ucap Vanessa yakin.
“Eh … itu mah dosen baru di kampus, jangan di deketin gebetan gue tau!” Putri mengancam Vanessa, “Awas aja lo berani deketin.”
“Dosen baru?” tanya Vanessa. Melihat anggukan kepala Putri, dia kembali bertanya, “Baru berapa lama?”
Vanessa salut pada Putri, “Berguna juga lo jadi biang gossip di kampus, hihi.”
“Kalau cowo yang ganteng di kampus mah gue hapal semuanya, temasuk mahasiswa baru di kelas lo guanteng banget jir.”
Vanessa hanya geleng-geleng kepala melihat Putri yang senyum-senyum gak jelas, “Udah ah halu aja lo.”
***
Sesampainya di kampus Vanessa berjalan beriringan dengan Putri, “Put lo beneran gak ada kelas hari ini?”
“Harusnya ada, Cuma minta pindah jadwal jadi besok,” Jawab Putri sambil celingak-celinguk.
“Temenin gue ketemu dosen yah?” pinta Vanessa, namun Putri tidak mendengarkan ucapannya. Di senggolnya lengan Putri oleh Vanessa, “Put nyari siapa sih?” tanya Vanessa dengan nada kesal.
Putri tersentak karena senggolan Vanessa, “Eh sorry, lo ngomong apa barusan?”
“Temenin gue ke ruang dosen, lo nyari siapa sih?” tanya Vanessa penasaran saat melihat Putri kembali melihat ke lapangan basket.
“Biasanya tuh ada cowok ganteng duduk-duduk di pinggir lapangan sambil baca buku,” jawab Putri.
__ADS_1
Harusnya Vanessa tau kalau otak temannya tuh hanya berisi cowok-cowok ganteng doang. Pintu ruang dosen terbuka baru satu langkah masuk di lihatnya Putri malah keluar lagi, dengan terpaksa Vanessa mengikuti Putri, “Kenapa?” tanya Vanessa.
“Lo aja yang masuk sendiri yah. Itu ada bu Indri gue belum ngumpulin tugas hihi.”
“Makanya otak tuh di pake buat belajar, bukan malah mikirin cowok ganteng mulu,” ketus Vanessa.
“Iya … iya bu Dosen, udah sanah masuk di tunggu Pak Dosen tuh,” ucap Putri sambil mendorong tubuh Vanessa masuk.
Di ruang dosen itu hanya ada bu Indri dan pria yang mirip dengan Nathan, Vanessa kebingungan dia lupa bertanya siapa dosen yang memintanya bertemu. Saat sibuk dengan pikirannya terdengar pria yang mirip dengan Nathan memanggilnya, “Kamu Vanessa?”
Vanessa mengganggukan kepalanya, “I-iya Pak,” jawab Vanessa gugup. “Aduh kok jadi dag dig dug gini,” batin Vanessa.
“Sini saya mau bicara dengan kamu!”
Vanessa menghela nafasnya sebelum berjalan mendekat ke meja pria yang mirip dengan Nathan, “Ada apa Pak?” tanya Vanessa.
“Duduk!”
Vanessa mengikuti perintah pria di depannya, duduk berhadapan dengan pria itu membuat Vanessa panas dingin, “Vanessa sadar ini bukan Nathan, gak usah gugup kaya gini,” ucap Vanessa di dalam hatinya.
“Ini surat cutimu?” tanya Pria itu sambil menunjuk kertas cuti yang ada di atas meja.
“Iya Pak,” jawab Vanessa singkat, di tatapnya pria di hadapannya.
“Bukannya ini semester terakhirmu, kenapa mengambil cuti?”
Bukannya menjawab pertanyaan pria di depannya Vanessa malah memperatikan wajahnya.
Merasa risih di perhatikan seintens itu oleh mahasiswinya, pria itu menggebrak meja sampai Vanessa terlonjak kaget hampir jatuh dari kursinya.
“Berani sekali kamu memperhatikan saya seperti itu!”
Ucapan pria di hadapan Vanessa terdengar sangat tegas, “Aduh ini mah gue cari mati namanya,” batin Vanessa. “Ma-maaf Pak,” ucap Vanessa gugup.
“Sudah saya bilang saya bukan pria yang kamu sebut tadi, kamu memanggil saya dengan sebutan apa tadi?” ucap dosen dengan nada ketus.
“Na-nathan.”
“Saya bukan Nathan! Perkenalkan saya Nicholas, dosen pembingbing skripsi kamu selama bu Dita cuti melahirkan.”
***
Eh ternyata Nicholas namanya teman-teman, bukan Nathan 😔
“Author up yang banyak,” komentar Readers.
Author jawab, “Maaf ya authornya sedikit sibuk, tapi kalau liat Vote, Like dan komentar kalian suka author usahakan up dua bab.”
__ADS_1
Jangan lupa dukung author ya lewat Vote, like dan komentarnya supaya author semangat up dua bab sehari.
Sampai jumpa di bab selanjutnya ❤️