Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 72 (Membatalkan Pernikahan)


__ADS_3

Pernikahannya akan di selenggarakan satu minggu lagi, Vanessa tidak pernah bertemu dengan Nathan. Sudah tiga kali Vanessa ke ruangan Nathan tapi kata sekertarisnya Nathan sedang pergi, sedang ada tamu lah banyak alasan yang di terima Vanessa saat ingin menemui Nathan. Siang ini dia mencoba menemui Nathan lagi dan seperti biasa sekertarisnya Nathan sudah menghadangnya, “Maaf bu Tuan Nathan sedang ada tamu,” ucap Sekertaris Nathan dengan nada dingin seperti biasa.


“Tidak ada alasan lain apa, sedang ada tamu terus … sebentar lagi saya akan menikah dengan tuan kamu dan saya harus berbicara dengan calon suami saya.” Vanessa sudah muak dengan alasan yang di berikan sekertarisnya Nathan. Sudah dua minggu Nathan tidak pernah menghubunginya sama sekali.


Vanessa menerobos masuk dan membuka pintu ruangan Nathan dengan kasar. Benar dugaannya sekertaris Nathan berbohong kepadanya di ruangan itu kosong tidak ada tamu dan hanya ada Nathan yang duduk di meja kerjanya.


Dengan langkah kesalnya Vanessa mendekati Nathan, amarahnya sudah tidak bisa dia bendung lagi. Dia menggebrak meja kerja Nathan, “Sebenarnya yang mau menikah denganku itu mami atau kamu?” ucap Vanessa setengah berteriak mengeluarkan emosinya. Semua koordinasi tentang pernikahannya hanya mami dan Vanessa yang mengurus setiap dia bertanya Nathan ke mana mami selalu memberi alasan kalau Nathan sedang sibuk mengurusi pekerjaannya sebelum mengambil cuti.


Nathan menghela nafasnya kasar, “Kita batalkan pernikahan ini,” ucap Nathan sambil membuang mukanya dari Vanessa.


Emosinya sudah naik ke ubun-ubun mendengar ucapan Nathan yang ingin membatalkan pernikahannya. Vanessa menampakan senyum sinisnya, “Harusnya dari awal saya sadar kalau anda hanya ingin mempermainkan saya!”


Vanessa membalikan tubuhnya dia tidak ingin menangis di depan Nathan, dia berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan Nathan. Sesampainya di kubikelnya Vanessa menelungkupkan kepalanya di atas meja. Airmatanya turun begitu deras tanpa suara isakan, hatinya hancur mendengar Nathan ingin membatalkan pernikahnnya. Selama ini dia berusaha untuk meyakinkan dirinya kalau suaminya itu memang sedang sibuk dan tidak bisa menemaninya merancang pernikahan yang indah. Bahkan saat memilih Kartu udangan Vanessa hanya di temani Niko karena mami sedang ada urusan.


Kegelisahan hatinya terjawab sudah, Nathan memang tidak menginginkan pernikahan ini, “Lalu untuk apa dia melamarku?” batin Vanessa. Air matanya semakin deras membasahi lengan blazer yang di pakainya.

__ADS_1


Suara langkah kaki yang mendekati kubikelnya membuat Vanessa harus mengakhiri sesi patah hatinya. Dia menghapus airmatanya dan tersenyum pada Niko yang berdiri di hadapannya. “Ikut ke ruangan saya!”


Tanpa banyak bicara Vanessa mengikuti Niko ke ruangannya, Vanessa duduk kursi tepat di hadapan Niko. “Apa yang di lakukan adikku sampai kamu menangis?” tanya Niko.


Vanessa diam, air matanya sudah memenuhi pelupuk matanya kembali. Vanessa tidak bisa menahan air matanya yang jatuh di hadapan orang lain. Dia menghapusnya dengan cepat, Vanessa tidak pernah ingin menampakan sisi lemahnya pada orang lain.


“Saya rasa ini urusan pribadi, bapak tidak berhak ikut campur,” ucap Vanessa dan bangkit dari duduknya.


Melihat Vanessa yang hendak pergi Niko menarik tangan Vanessa, “Duduk!” perintah Niko sambil menatap Vanessa tajam.


“Apa Nathan membatalkan pernikahannya?” tanya Niko dengan nada serius.


“Saya rasa bapak sebagai abangnya lebih tau jawabannya.” Vanessa rasanya ingin pulang saja dia ingin menangis sejadi-jadinya mengeluarkan rasa sesaknya, tapi sepertinya Pak Niko tidak semudah itu membiarkannya pulang.


“Saya tau,” jawab Niko santai.

__ADS_1


“Kalau sudah tau buat apa tanya, permisi pak saya mau pamit pulang,” ucap Vanessa dan berlari keluar ruangan Niko menuju kubikelnya dan mengambil tasnya. Dia memesan ojek online agar cepat sampai ke kosannya.


Setelah sampai di kosan Vanessa membuka blazer nya dia duduk di tempat tidur dengan memeluk lututnya, air mata yang sudah di tahannya sejak tadi mengalir begitu deras. Tidak ada seorang wanita pun yang ingin di permainkan oleh laki-laki, apalagi Vanessa mencintai Nathan tapi kenapa pria itu malah mengkhianatinya. Membatalkan pernikahan secara sepihak sementara acara pernikahannya sudah berjalan 95%, dan itu semua Vanessa yang menyiapkannya dengan Mami Nathan.


“Apa salahku tuhan,” ucap Vanessa di sela-sela isak tangisnya. Hatinya sakit bagaikan di tusuk belati karena perbuatan orang yang di cintainya, Vanessa tidak habis pikir kenapa Nathan sejahat itu padanya padahal dia sudah membantu Nathan agar bisa kembali ke raganya. Dia hampir kehilangan nyawanya demi mencari pembunuh Nathan, tapi apa yang dia dapat hanya rasa sakit dan kecewa yang di berikan oleh pria itu.


“Kenapa aku terlalu bodoh … harusnya aku tidak perlu menerima lamaramu jika akan berakhir seperti ini,” maki Vanessa pada dirinya sendiri. Dia menyesal karena telah menerima lamaran Nathan, dia menyesal karena gegabah dalam mengambil keputusan. Harusnya dia memikirkannya matang-matang sebelum menerima lamaran Nathan, “Kamu bodoh Vanessa,” tangisnya semakin menjadi.


Orang yang berlalu lalang di depan kosan mendengar tangisan pilu milik Vanessa, merka bisa merasakan sakit hati yang Vanessa rasakan meskipun tidak tau permasalahan yang menimpa pemiliknya.


 *** 


Vanessa yang sabar ya, author sebenarnya gak tega buat kamu menangis tapi nanti gak seru ceritanya kalau gak ada konflik 🙏


Tolong dong kalau ada yang punya tisu di kasih Vanessanya biar tangisnya berhenti.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author terus yah lewat vote, like dan komentarnya ❤️


__ADS_2