Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 62 (Mimpi Buruk)


__ADS_3

Nathan berlari mengejar Vanessa yang tampak meninggalkan halaman kantor, terlihat Vanessa akan menyebrang jalan. Siang itu jalanan cukup lenggang, “Vanessa,” teriak Nathan memanggil wanita yang tampak berada lima meter di depannya. Entah kenapa Vanessa diam mematung tepat di tengah jalan, Nathan menghentikan langkahnya karena melihat Vanessa terdiam.


Bunyi klakson mobil cukup keras memberi tanda untuk menyingkir pada siapa saja, bunyi klakson itu membuat Nathan melihat kearah Vanessa yang diam dan hampir tertabrak oleh mobil itu, “Vanessa awas,” teriak Nathan memperingati namun Vanessa seperti tidak mendengar bunyi klakson dan teriakannya. Nathan berlari menghampri Vanessa berharap bisa menyelamatkan wanitanya.


Bunyi klaskon itu semakin panjang, memberi tanda pada wanita yang hampir tertabrak agar menyingkir karena mobil yang sedang di kendarai supir berkecepatan tinggi, tidak memungkinkannya berhenti secara mendadak.


Langkahnya terhenti melihat kejadian di depan matanya, Nathan hanya bisa membeku di tempatnya dia tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Matanya dengan jelas melihat Vanessa yang terpental cukup jauh karena di tabrak oleh mobil tadi yang memberikan tanda klakson panjang.


Nathan bangun dengan nafas terengah-engah, seperti sudah melakukan marathon berkilo-kilo meter. Dia mencoba mengatur nafas menenagkan dirinya, mimpi barusan terasa sangat nyata. “Kenapa aku harus mimpi buruk tentang Vanessa,” gumam Nathan.


Mengingat nama Vanessa Nathan jadi teringat tentang ucapan Niko yang mengeluh karena bawahannya melakukan resign. “Baru juga gue seneng bisa balik ke pekerjaan gue, eh malah ada yang resign lagi,” keluh Niko semalam pada Nathan.


Nathan mengirim pesan pada Vanessa, “Kalau kamu mau bekerja berasama Niko di bagian keuangan, hari ini Niko menunggu kamu di kantor pusat Adiputra Group.” Setelah memastikan pesannya terkirim Nathan segera bersiap untuk pergi ke kantor.


***


Alaram ponselnya berdering tepat pukul enam pagi, karena semalam Vanessa tidak bisa tidur memikirkan Nathan. Vanessa membuka matanya perlahan, meskipun terasa mengantuk dia harus bangun apalagi teringat ucapan papanya, “Kalau bangunnya siang nanti rezekinya keburu di patok ayam.”


“Aku gak boleh keduluan sama ayam, pokoknya hari ini aku harus cari kerjaan,” gumam Vanessa sambil mengucek matanya.


Terdengar notifikasi dari ponselnya, Vanessa menyipitkan matanya membaca pesan yang di kirim Nathan. “Wah Adiputra group itu banyak saingannya pasti, apalagi aku belum berpengalaman … di terima gak yah?” Vanessa merasa kecil hati mendengar Nathan memberikan informasi pekerjaan di perusahaan yang bergerak di bidang transportasi, banyak info tentang perusahaan itu banyak yang bilang susah lulus tes kerja di sana. Banyak yang melamar ke sana dan harus siap di tolak karena tidak memenuhi standar mereka. “Kalau aku apa kabar? Otak pas-pasan gini,” lirih vanessa.


Lama Vanessa diam memikirkan kemampuannya dalam menangani masalah keuangan, “Gak papa lah di coba dulu, siapa tau lolo,” ucap Vanessa menyemangati dirinya.


Vanessa memandangi pantulan dirinya di cermin yang menggunakan rok hitan di bawah lutut, lengkap dengan kemeja putih dengan lengan pendek yang membalut tubuh langsingnya. Dia memperhatikan rambutnya yang ia gerai namun terlihat berantakan, Vanessa mencoba mengikatnya menjadi satu, “Ini lebih rapih kayanya. Dia mengecek bibirnya takut salah memakai lipstick seperti semalam, dia tidak mau mempermalukan dirinya lagi.


Vanessa bolak-balik memperhatikan penampilannya, “Udah ah gak terlalu aneh … kita cus pergi sebelum terlambat. Dia mengambil tas dan map yang tadi sudah di siapkannya, lalu berjalan meninggalkan kosan.


Baru sampai gerbang kosan Vanessa merasa ada yang tidak cocok dengan penampilannya. Dia melirik baju yang dia pakai “Rapi kok tidak kusut.” Lalu mencium ketiaknya, “Wangikok.”


Lalu beralih ke bawah. “Astaga kenapa aku masih pake sandal jepit,” ucap Vanessa terkejut. Dengan tergesa-gesa Vanessa kembali ke kamar kosnya untuk mengganti sandal yang ia pakai, “Untung sadar nya masih deket kosan kalau sadar karena di ingatkan HRD bisa langsung di usir dari kantor, cerboh kamu Nes,” batin Vanessa.


Vanessa memakai angkutan umum karena jaraknya tidak terlalu jauh dan dia masih punya waktu satu jam sampai di kantor.


Vanessa lupa mengabari Nathan, dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Nathan bahwa dia mau mencoba melamar di bagian keuangan. Sudah hampir sepu;uh menit Vanessa memandangi layar ponselnya namun dia tidak mendapat balasan dari Nathan.


Sesampainya di kantor pusat Adiputra group Vanessa menatap gedung tinggi di depannya. Perasaanya tidak karuan, ini untuk pertama kalinya Vanessa akan melalukan interview. Dia mengatur nafasnya agar tidak gerogi, dia harus bisa bekerja di gedung ini begitu tekadnya.


Setelah merasa tenang Vanessa langsung memasuki kantor tesebut dan menghampiri meja resepsionis. “Selamat pagi bu,” sapa resepsionis dengan ramah pada Vanessa.


Vanessa tersenyum dan langsung memberikan pertanyaan, “Mbak saya mau bertemu dengan pak Niko untuk melakukan interview … eh pa Niko atau HRD yah.”


Resepsionis itu tampak melihat layar komputer di depannya lalu memperhatikan wajah Vanessa, “Apa betul ibu bernama Vanessa?”


“Iya saya Vanessa.”

__ADS_1


“Pak Niko sudah menunggu di lantai lima, ruangannya tepat di depan lift.”


Vanessa mengangguk mengerti, “Terima kasih ya mbak.”


Vanessa sudah sampai di lantai lima dia keluar dari lift menatap pintu yang ada di depannya. Vanessa mencoba mengetuk pintunya Perlahan, tidak lama seorang pria membuka pintu dan terkejut melihat Vanessa yang beridiri di depan pintu.


“Mau cari siapa mbak?” tanya pria tersebut.


“Saya sedang mencari Pak Niko,” jawab Vanessa sambil tersenyum ramah.


Dahi Pria itu mengrenyit melihat penampilan Vanessa, “Ini bagian keuangan mbak, kalau mau bertemu HRD ada di lantai dua.”


Vanessa mengecek ponselnya, dan menunjukan layar ponselnya pada pria tersebut, “Tadi saya dapet pesan dari teman saya untuk bertemu Pak Niko.”


Pria itu membaca pesan yang di tunjukan Vanessa, “Ini mah bukan orang biasa kayanya,” batinnya.


Melihat pria yang di depannya membuat rasa tidak sabaran Vanessa muncul setelah melirik jam di pergelangannya pukul 08.15. “Mas,” panggil Vanessa.


Pria itu seperti tersentak karena panggilan Vanessa, “Mari mbak saya antar.”


Vanessa mengangguk dan berjalan mengikuti pria itu, saat masuk ke ruangan Vanessa melihat ada empat kubikel di sana dan ada dua kubikel yang kosong. Perhatian Vanessa teralihkan saat pria itu mengetuk sebuah ruangan, lalu terdengar suara Niko yang menyuruh masuk.


Pria itu masuk dengan Vanessa yang masih mengekor di belakangnya, pandangannya langsung fokus pada pa Niko yang sedang duduk di meja kerjanya.


Vanessa melihat Niko yang memberikan kode pada pria di sampingnya untuk keluar. Setelah pria itu keluar Niko menatap Vanessa, “Selamat pagi pak,” sapa Vanessa.


Vanessa duduk di kursi yang ada di depan meja Niko, “Saya akan memberikan jobdesk pekerjaan kamu,” ucap Niko.


“Eh kok langsung bahas jobdesk pa, kan saya belum melakukan interview.”


“Kamu tidak perlu melakukan interview.”


Melihat Vanessa yang tampak kebingungan karena ucapannya, Niko mencoba memberitahu alasannya. “Nathan yang menunjuk kamu sebagai pengganti staf saya. Kamu di panggil ke sini bukan untuk interview karena sudah jelas Nathan yang menunjuk kamu.”


“Memang posisi Nathan apa yah kok bisa seenaknya memasukan aku sebagai staf tanpa interview terlebih dahulu?” pertanyaan itu muncul di benak Vanessa.


Vanessa memperhatikan Niko yang sedang menjelaskan jobdesk yang Vanessa harus kerjakan. Sesi penjelasan itu di akhiri dengan anggukan Vanessa saat Niko bertanya pada Vanessa apa sudah faham dengan penjelasan yang dia berikan.


“Kamu boleh pulang sekarang, besok mulai kerja … saya tidak suka staf saya datang terlambat.”


Vanessa merasa akhir kalimat yang Niko berikan untuk mengingatkan Vanessa agar tidak terlambat seperti barusan, “Orang ini memang on time sekali … padahal aku kan Cuma telat lima belas menit.”


“Baik Pak … emm Pak Niko, saya boleh tidak ketemu Nathan sebentar saja?”


Niko berdiri dari duduknya, “Mari saya antar,” ucapnya dan berjalan keluar dari ruangannya. Seperti biasa Vanessa hanya bisa mengekor di belakang, karena ini tempat yang baru ia kunjungi.

__ADS_1


Saat di dalam lift ada beberapa staf yang menatapnya tidak suka, namun dia berusaha menghiraukannya. Lift berhenti di lantai tujuh melihat pak Niko yang keluar, lagi-lagi dia hanya bisa mengekor di belakang.


“Tuan Nathan ada di dalam?” tanya Niko pada pria yang sedang duduk di mejanya.


“Ada Pak, silahkan masuk.”


Niko masuk tanpa mengetuk pintu, Vanessa tentu tidak ingin tertinggal dia melangkah mengikuti Niko.


Diasana tampak Nathan yang sedang membaca berkas yang di pegangnya. Dia tersenyum saat melihat aku ada di belakang Niko.


“Ada yang ingin bertemu denganmu,” ucap Niko sebelum melangkah pergi meninggalkan Vanessa di ruangan itu hanya bersama Nathan.


“Bagaimana?” tanya Nathan setelah Niko menutup pintu.


“Bagaimana apanya?” tanya Vanessa.


Nathan baru saja ingin menjawab tapi terdengar ketukan di pintu ruangannya, “Masuk,” ucapnya.


Vanessa melihat pria yang di depan ruangan Nathan tadi muncul di ruangan Nathan, “Lima menit lagi rapat akan segera dimulai tuan.”


Nathan menanggukan kepalanya, dan Vanessa melihat pria itu keluar dari ruangannya.


“Kita lanjutkan bicaranya Nanti saja ya … aku ada rapat.”


Vanessa hanya bisa menganggukan kepalanya, hatinya berbunga-bunga saat Nathan menggenggam tangannya. Genggaman itu hanya bertahan sebentar saat di luar ruangan Nathan melepaskan tangannya, ada perasaan kecewa di hatinya namun dia mencoba tersenyum pada Nathan.


“Kamu pulangnya hati-hati yah,” ucap Nathan sebelum berjalan meninggalkan Vanessa.


Vanessa menatap punggung Nathan dan pria tadi yang berjalan meninggalkannya. Vanessa berjalan munuju lift, urusannya di kantor hari ini sudah selesai.


***


Tepat di pintu ruang rapat hatinya berdetak lebih cepat saat ingatan mimpinya sekelebat terbayang di otaknya, “Astaga,” ucap Nathan di hatinya.


Dia berlari menuju lift untuk turun, hatinya terus berkata bahwa dia harus memastikan Vanessa baik-baik saja dan mimpinya itu hanya bunga tidur saja. Di dalam lift Nathan berdiri dengan perasaan gelisah, lift terbuka Nathan berlari keluar di lihatnya Vanessa yang sedang berdiri di tengah jalan persis seperti di mimpinya.


Nathan melihat ke arah mobil yang membunyikan klakson panjang, dia berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan Vanessa, Nathan tidak berteriak memanggil Vanessa seperti di mimpinya dia takut Vanessa tidak bisa mendengar suaranya. “Ayo cepat Nathan,” batinnya sambil terus berlari, dia tidak mungkin membiarkan Vanessa tertabrak seperti di mimpinya.


***


Selamat pagi semuanya, tegang gak?


Author kasih bonus rada panjang ya certinya tapi besok author mau absen dulu sehari hihi 😁. Ngos-ngosan ternyata teman-teman nulis 1500 kata 😅.


Terimakasih atas vote yang kakak berikan, sungguh membuat author terharu dan senang dengan kebaikan hati kakak semuanya

__ADS_1


Sampai jumpa di bab selanjutnya, lusa ya ❤️


__ADS_2