Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 75 (Belum Menemukan Titik Terang)


__ADS_3

Sesampainya di Bandung, Vanessa membeli masker agar tidak ada orang yang mengenalinya. Mereka berjalan ke rumah Ayu, namun belum sampai di rumah Ayu Vanessa menghentikan langkahnya, “Lo aja yang ke rumah Ayu sendiri, gue takut ketauan,” ucap Vanessa sambil menarik lengan Putri agar menghentikan langkahnya.


“Loh kok jadi gue!” Putri memajukan bibirnya, masalahnya dia tidak mengenal Ayu sama sekali.


“Gue takut ketauan Put … lo bilang aja temennya Ayu mau ketemu Ayu gitu ada urusan penting, terus lo ajak Ayu ke sini,” ucap Vanessa memberi arahan.


“Kalau dia gak mau karena gak ngenalin gue gimana?”


“Lo bisikin aja kalau gue lagi nunggu dia di sini, butuh kepastian tentang mahluk yang selalu ngikutin gue, dia pasti ngerti ko.”


Dengan berat hati Putri menganggukan kepalanya dan berjalan menuju rumah yang di tunjuk Vanessa. Putri menarik nafas sebanyak-banyaknya sebelum mengetuk pintu rumah Ayu, “Permisi,” ucap Putri sambil mengetuk pintu.


Tidak lama pintu terbuka tampak ibu-ibu paruh baya yang membuka pintu sambil tersenyum lebar pada Putri, “Cari siapa neng?”


“Itu bu saya cari Ayu, kalau gak salah ini rumahnya?” tanya Putri.


Ibu itu mengangguk, “Iya betul ini rumah Ayu, neng siapa yah?” tanya ibu itu penasaran karena belum pernah melihat Putri.


“Saya teman sekolahnya Ayu bu, Ayunya ada?”


“Oh teman sekolahnya, neng gak tau yah kalau Ayu kerja keluar kota baru dua minggu dia berangkat,” jawab ibu.


“Aduh saya gak tau bu, kalau boleh saya mau minta nomor Ayu soalnya ini penting.” Untung Putri pintar dia ingat kalau Vanessa tidak punya nomor ponsel Ayu.


“Oh boleh neng sebentar yah,” ucap Ibu itu sebelum masuk ke dalam rumahnya.


Tidak lama ibu itu keluar dengan membawa ponsel di tangannya, “Ini neng nomornya,” ibu memberikan ponselnya pada Putri.


Dengan cepat Putri menyimpan nomor Ayu di ponselnya, “Sudah bu terimakasih yah, maaf sudah menganggu,” ucap Putri berpamitan.


Setelah melihat ibu itu menganggukan kepalanya dan tersenyum Putri langsung pergi meninggalkan rumah Ayu.


Vanessa mengrenyitkan dahinya melihat Putri yang berjalan sendirian, “Kok lo sendiri Ayunya mana?” tanya Vanessa tidak sabaran.


“Ayunya gak ada kerja keluar kota katanya,” jawab Putri.

__ADS_1


“Lah terus gimana dong?” tanya Vanessa, dia tidak mungkin bisa meyakinkan Nathan kalau belum memastikan mahluk itu masih ada atau tidak.


“Lo tenang aja gue udah dapet nomor ponselnya, nih.” Putri menunjukan layar ponselnya pada Vanessa.


Setidaknya Vanessa bisa bernafas lega, “Yaudah nanti kita coba telpon aja.”


“Gue laper belum sarapan,” keluh Putri sambil memegangi perutnya yang keroncongan.


“Yaudah, yu sarapan dulu gue juga laper,” ajak Vanessa.


“Bukan sarapan ini namanya makan siang, mana ada sarapan jam sebelas,” protes Putri, dia tidak terima mendengar ucapan Vanessa.


“Yaudah iya makan siang … ayok!” Vanessa berjalan mendahului Putri.


Mereka mampir ke warung nasi padang terdekat, karena perut mereka terus berbunyi.


Vanessa langsung memesan makanan, “Dua porsi ya Uni, yang satu ayam bakar, satunya lagi ikan bakar aja.”


“Kuahnya lengkap? … pakai lalapan?” tanya Uni.


Putri yang baru selesai dari kamar mandi menghampiri Vanessa, “Gue di pesenin apa?” tanya Putri.


“Kesukaan lo ayam bakarkan?” tanya Vanessa.


“Wah lo emang the bast deh jadi sahabat gue,” ucap Putri sambil merangkul Vanessa, dia bangga mempunyai sahabat yang cuek namun sangat perhatian padanya.


Pesanannya sudah datang, mereka langsung melahapnya tanpa bersuara. Setelah menghabiskan nasinya Vanessa meneguk minumannya, “Eh mana nomor Ayu gue coba telpon.”


Putri yang masih menikmati Ayam bakarnya memberikan ponsel miliknya pada Vanessa.


Vanessa menerima ponsel Putri dan lasung menelponnya, namun bukan Ayu suara yang dia dengar melainkan suara oprator, “Kampret ponsel lo gak ada pulsanya,” ucap Vanessa kesal sambil melayangkan tatapan kesalnya.


“Yak gak papa lah, buat apa punya pulsa tapi gak bisa aktif di media social,” elak Putri. 


Vanessa hanya memajukan bibirnya, di pandangi nomor Ayu ternyata nomornya juga memili WA. Karena Vanessa juga tidak memiliki pulsa dia mencoba mengirim pesan lewat aplikasi WA kepada Ayu, “Ayu ini gue Vanessa.”

__ADS_1


“Eh ini nomor kamu Nes?” balas Ayu.


“Bukan ini nomor temen gue,” jawab Vanessa.


“Aya naon?” (Ada apa?)


Vanessa memilih melakukan panggilan video call, dan Ayu langsung mengangkatnya.


“Ayu lo masih inget mahluk yang ngikutin gue pas di Bandung?”


Tampak ayu menganggukan kepalanya, “Inget yang auranya tiga warna itu kan?” tanya Ayu memastikan.


Vanessa mencoba menceritakan kejadian yang di alaminya, dia juga menceritakan bahwa Nathan bermimpi tentang Vanessa meninggal.


“Jadi maksudnya calon suami kamu mimpi gitu sebelum kejadian kamu hampir tertabrak itu?” tanya Ayu.


Vanesa menganggukan kepalanya, “Iya dan sekarang dia juga mimpi lagi, tapi di mimpinya itu kejadiannya setelah pernikahan kita, lalu gue kecelakan dan meninggal.”


Di layar ponsel Vanessa tampak melihat Ayu yang sedang berpikir, “Kayanya mahluk itu bahaya deh kalau bisa sampai ngehipnotis kamu.”


“Terus mahluk itu masih ngikutin gue gak?” tanya Vanessa.


Ayu tampak memperhatikan layar ponselnya, dia menggelengkan kepalanya, “Gak keliatan, coba lo arahin ke semua penjuru pelan-pelan tapi,” perintah Ayu.


Vanessa mulai mengarahkan ponsel Putri ke setiap penjuru, dia tidak peduli dengan tatapan bingung yang di berikan uni pemilik warung nasi padang.


“Gak ada apa-apa, apa emang gak bisa keliatan yah kalau lewat kamera,” ucap Ayu.


Ayu tidak bisa melihat mahluk itu, namun mahluk itu tampak tersenyum penuh kemenangan tepat di samping Vanessa.


 ***


Ada yang punya nomor mbah Dukun gak? Author minta dong buat ngusir mahluk yang ngikutin Vanessa, lama-lama menyebalkan juga ternyata mahluk itu


Dukung author terus yah jangan lupa, love u all ❤️

__ADS_1


__ADS_2