
Vanessa menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlan, ini bukan pilihan yang mudah baginya. Dia menatap Antasya yang tengah menatapnya juga, “Iya,” jawab Vanessa.
Anatasya mengreyitkan dahinya mendengar ucapan yang keluar dari mulut Vanessa terlalu mengambang, baginya terdengar tidak pasti jawaban yang di lontarkan Vanessa. “Iya apa?” tanya Anatasya agar lebih jelas.
“Iya nona boleh menikah dengan Nathan setelah dia sadar,” sebetulnya hatinya sakit. Dia tidak ingin mengucapkan itu, tetapi dia juga sudah berjanji akan membantu Nathan agar kembali ke raganya.
Anatasya melihat setetes air mata yang meluncur di pipi Vanessa, namun dengan cepat perempuan itu menghapusnya, “Ini memang pilihan sulit,” ucap Anatasya datar.
Vanessa diam membisu di lihatnya Anatasya berdiri, berjalan mendekati kolam ikan dan jongkok di sana, memasukan tangannya pada kolam ikan yang terlihat jernih dan beberapa ikan berlarian kesana-kemari. Dia masih memperhatikan Anatasya yang tengah bermain air berusaha menangkap ikan itu dengan kedua tangannya.
“Kamu tidak usah serius seperti itu, aku hanya ingin mengujimu,” ucap Anatasya tanpa menoleh pada Vanessa.
Vanessa mencoba mendekati Anatasya dan ikut berjongkok di sampingnya, “Maksud nona?”
Anatasya tersenyum pada Vanessa lalu kembali fokus berusaha menangkap ikan di kolam itu, “Aku hanya ingin tau seberapa cinta kamu pada Nathan, kamu wanita hebat Vanessa. Kalau aku ada di posisimu, mungkin aku lebih memilih arwah Nathan dari pada dia hidup tetapi harus menikah dengan wanita lain.”
“Tapi nona berhak menikah dengan Nathan, karena dia sudah merenggut harta paling berharga milik nona,” ucap Vanessa mengeluarkan alasan kenapa dia mengijikan Anatasya untuk menikah dengan Nathan.
“Mungkin aku berpikir seperti itu dulu, makanya aku memilih pura-pura depresi karena malu.” Anatasya menghela nafasnya perlahan, “Jika takdir membuat ku kehilangan keperawananku, aku yakin takdir juga akan mempertemukanku dengan pria yang mau menerima keadaanku sekarang.”
Vanessa melihat Anatasya yang berhasil menangkap ikan menggunakan kedua tangannya, Anatasya tersenyum pada Vanessa.
“Aku berhasil mendapatkan ikannya, tapi sayang aku tidak ingin memakan ikan hias,” senyum misterius di tunjukan Anatasya sambil melepaskan ikannya.
“Maksud nona?” Vanessa tidak mengerti ucapan Anatasya.
“Keperawananku di ambil Nathan, tapi sayangnya aku tidak ingin menikah dengan pria itu.”
Vanessa memeluk Anatasya rasanya dia terharu dengan sikap dewasa yang di tunjukannya, “Terimakasih nona.”
__ADS_1
Anatasya membalas pelukan Vanessa, “Perjuangkanlah cintamu, aku sudah memaafkannya. Semoga Nathan lekas sembuh.”
Perasaan Vanessa lega setelah mendengar Anatasya memberikan maafnya untuk Nathan.
“Kalau Ayah berharap pria itu mati!” Pasusanto masuk dengan wajah tanpa dosanya dan duduk di samping Anatasya.
“Ayah kok ngomongnya kaya gitu lagi,” protes Anatasya.
Vanessa hanya diam membeku, ada rasa sakit di hatinya mendengar keinginan Pasusanto melihat Nathan mati. Padahal vanessa sudah berjuang mati-matian agar Nathan kembali ke raganya dan bisa sembuh dari komanya.
Melihat Ayahnya yang malah tersenyum membuat Anatasya semakin kesal, “Kalau Ayah masih kaya gini, Tasya mening pergi aja dari rumah, gak mau ketemu lagi sama Ayah. Ayah yang jahat!” ketusnya.
“Jangan dong sayang, melihat kamu depresi 3 bulan saja sudah buat Ayah prustasi, apalagi sampai kamu pergi dari rumah dan tidak ingin bertemu Ayah ... Ayah gak bisa bayangkan,” Pasusanto mengelus rambut Anatasya.
“Ya makanya Ayah jangan jahat lagi!”
“Ayah!” Anatasya menatap Ayahnya tajam.
Terbesit rasa bersalah di hati Pasusanto saat melihat Vanessa yang diam saja, “Mungkin dia masih takut padaku karena kejadian tadi,” pikirnya.
Merasa di perhatikan oleh Pasusanto, Vanessa mencoba tersenyum meskipun dia tidak tau senyum seperti apa yang tampak di wajahnya. Jujur dia masih ketakutan kerena kejadian tadi, mengingat dia hampir kehabisan nafas karena cekikan tangan Pasusanto. Vanessa menghilangkan kejadian tadi dari kepalanya, dia tidak ingin kelihatan ketakutan di hadapan Pasusanto.
“Jadi sekarang kamu mau pilih siapa, Jhon atau Steven?” tanya Pasusanto menggoda anaknya.
“Tuh kan Ayah mulai lagi. Tau gitu tadi aku pura-pura aja terus depresi biar gak di jodohin lagi,” ketus Anatasya.
“Aku mati dong nona, kalau nona masih pura-pura depresi,” lirih Vanessa.
Anatasya tertawa kecil melihat raut wajah sedih milik Vanessa, “Ah iya aku lupa, maaf ya.”
__ADS_1
“Terimakasih ya, karena kamu Anatasya jadi lupa sama aktingnya demi menyelamatkan kamu,” ucap Pasusanto pada Vanessa.
Vanessa hanya menganggukan kepalanya, “Tapi nyawaku hampir melayang tuan,” batin Vanessa.
“Ayah malah terimakasih, minta maaf Ayah! Untung Vanessa masih bisa selamat.”
“Kenapa Ayah harus minta maaf, salah dianya mancing emosi Ayah,” Pasusanto mencoba membela diri, dia tidak terima di salahkan.
“Tuh kan Ayah egois lagi ... Tasya gak suka Ayah!”
Anatasya menarik tangan Vanessa agar mengikutinya, “Ayo kita pergi saja, orang egois tidak layak di temani.”
Vanessa hanya bisa mengikuti Anatasya yang menarik tangannya.
“Aku harus memastikan semuanya sesuai rencana,” batin Pasusanto.
***
Astaga Tuan Pasusanto punya rencana apa lagi?
Selamat malam semuanya 😆
Maafkan author ya yang Cuma bisa up satu bab doang, lagi sibuk soalnya🙈
Terimakasih untuk readers yang sudah berbaik hati memberikan like, vote dan komentarnya.
Jangan bosan berikan author dukungannya ya, soalnya author suka cek setiap hari hihi😁
Sampai jumpa di bab selanjutnya😘
__ADS_1