
Vanessa masih memikirkan posisi Nathan di kantor itu, “Sepertinya Nathan bukan orang biasa deh,” lirihnya. Ruangan Nathan yang luas saat Vanessa dan Niko masuk bahkan setengahnya dari ruangan staf keuangan Niko. Vanessa hanya bisa menghela nafas, “Kalau Nathan beneran orang kaya gimana yah.” Pikirannya melayang pada drama yang dia tonton di bandung, sorang upik abu yang jatuh cinta pada tuannya dan berakhir di tending oleh ibu dari tuannya.
Helaan nafas terdengar dari mulut Vanessa, “Gak lucu kalau jalan ceritaku sama kaya drama tv.” Stelah lift terbuka Vanessa berjalan keluar dari kantor, tepat di tempat penyebrangan Vanessa sudah memastikan aman untuk menyebrang, hanya ada satu mobil yang terlihat masih jauh.
Vanessa menyebrang dengan santai namun langkahnya terhenti melihat pemandangan yang baru di lihatnya. Dia hanya bisa diam membeku melihat tubuh manusia yang bersinar dan memiliki tiga warna persis seperti yang di ucapkan Ayu.
“Kenapa aku bisa melihatnya juga? … kenapa dia ada di sini?” pertanyaan itu muncul saat Vanessa melihat bayangan itu seperti sedang menatapnya.
“Astaga mahluk apa lagi ini?” gumam Vanessa.
Tubuhnya terasa di dorong dan Vanessa jatuh ke trotoar jalanan bersamaan orang yang mendorongnya. Vanessa membuka matanya yang terpejam, yang pertama kali dia lihat adalah wajah Nathan yang tampak pucat, “Kamu gak papa?” tanya Nathan.
Mobil itu berhenti satu meter dari Vanessa dan Nathan, “Kalau mau bunuh diri jangan di jalanan, sana di rel kereta api,” ucap supir dengan nada berapi-api sebelum kembali menjalankan mobilnya.
Vanessa hanya menggelengkan kepalanya, kejadian barusan terlalu mengejutkan untuknya. Vanessa bangkit di bantu oleh Nathan. Vanessa baru sadar kalau Nathan terlihat kesulitan bernafas, “Astaga kamu berlari?” tanya Vanessa.
Nathan hanya mengangguk sebelum tubuhnya ambuk di samping Vanessa. Dia yang terkejut langsung berjongkok, “Astaga apa yang harus aku lakukan?” tanya Vanessa pada dirinya sendiri. Saat mengingat Niko dengan cepat Vanessa merogoh ponselnya dan menelpon Niko.
“Ada apa telpon saya?”
Vanessa tidak menjawab ucapan Niko, “Pak tolong ini Nathan pingsan di jalan.”
“Bukannya dia sedang rapat?”
“Gak tau pokonya buruan kesini saya ada di trotoar depan kantor tepat di penyebrangan.”
Mendengar suara bergetar milik Vanessa Niko mematikan telponnya dan berjalan menuju lift dengan tergesa-gesa. Niko keluar dari kantor melihat ada beberapa orang yang melingkar di sebrang, “Apa yang terjadi sebenarnya?”
Niko melihat Nathan yang sedang di pangku kepalanya oleh Vanessa, “Pak tolong bantu angkat adik saya!”
Perasaan Vanessa tidak karuan melihat Nathan yang terlihat lemah di bawa oleh Niko dan beberapa orang ke mobil Niko yang kebetulan terparkir di depan. “Pak saya boleh ikut?” tanya Vanessa pada Niko yang akan naik ke mobilnya.
__ADS_1
“Temani Nathan di belakang.”
Vanessa dengan cepat membuka pintu penumpang, Nathan tampah di rebahkan di sana. Dia mengangkat kepala Nathan, menjadikan pahanya sebagai bantalan. Di usapnya bibir Nathan yang terlihat pucat sekali. Air mata Vanessa menetes tepat di kening Nathan, Vanessa menutup mulutnya agar tidak ada isakan yang keluar.
Perasaannya hancur ini pertama kalinya Vanessa melihat Nathan pucat, seperti arwah Nathan yang dulu bersamanya, “Kamu harus bertahan sayang,” ucap Vanessa di dalam hatinya sambil mengelus rambut Nathan.
Niko melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak peduli pada suara klakson yang mengumpatnya karena mengambil jalan mereka. Niko baru bisa bernafas lega setelah Nathan masuk ke ruang UGD. Di liriknya Vanessa yang duduk dengan menutup wajahnya, dia berjalan menghampiri wanita itu.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Niko pada Vanessa.
Mendengar suara Niko yang bertanya kepadanya, Vanessa menghapus air matanya dia berdiri untuk menatap Niko. Vanessa jadi teringat saat Nathan bertanya tentang keberadaanya dengan nafas tersegal-segal, “Sepertinya Nathan berlari untuk menyelamatkan saya Pak,” ucap Vanessa.
“Menyelamatkan kamu?” tanya Nathan.
“Ta-tadi saya hampir tertabrak,” ucap Vanessa gugup karena tatapan tajam milik Niko.
“Ceroboh … Nathan itu tidak boleh berlari atau berolah raga!” ucap Niko setengah berteriak.
Vanessa terus menatap pintu ruang UGD, “Nathan ada di sana karena kecerobohanku,” air mata Vanessa kembali turun. “Bodoh kamu Nes,” Vanessa mengumpat untuk dirinya sendiri. Terdengar suara dua langkah kaki yang berjalan mendekatinya. Dengan cepat Vanessa menghapus sisa air matanya, di lihatnya Niko berjalan dengan seorang perempuan di sampingnya. Perempuan itu terlihat sangat khawatir, Vanessa hanya bisa menundukan kepalanya dia tidak punya keberanian untuk menatap siapapun setelah kecerobohannya yang membuat Nathan masuk rumah sakit.
“Perkenalkan Mam ini kekasih Nathan,” ucap Niko pada ibunya.
Vanessa yang terkejut langsung melihat Niko, “Kenapa Pak Niko berbicara seperti itu?” tanya Vanessa pada Niko melalui tatapannya.
Niko hanya diam melihat tatapan Vanessa, dia berusaha untuk tidak memperdulikannya.
Mami Nathan berjalan mendekati Vanessa, sementara Vanessa semakin menundukan kepalanya. Dia takut ibunya Nathan akan marah kepadanya, Vanessa merasakan usapan di lengan atasnya.
“Kamu tidak kenapa-napa sayang … apa ada yang terluka?” tanya Mami Nathan sambil memperhatikan tubuh Vanessa.
“Aku tidak kenapa-napa tante … maaf karena kecerobohan ku Nathan jadi masuk rumah sakit,” ucap Vanessa pelan.
__ADS_1
“Tidak apa-apa sayang, ini kecelakan bukan kesalahanmu. Wajar Nathan ingin menyelamatkan wanita yang di cintainya,” ucap Mami Nathan sambil menggoda Vanessa. Dia bukan tidak khawatir dengan keadaan Nathan tapi melihat muka Vanessa yang penuh perasaan bersalah membuat kemarahannya hilang begitu saja. Dia hanya bisa berdoa untuk keselamatan anaknya, ini untuk pertama kalinya dia bisa melihat wanita yang di cintai Nathan.
Perasaan bersalah itu semakin menyeruak di hatinya, karena kebodohannya Nathan bisa sampai drof dan lihat wajah khawatir milik Maminya membuat Vanessa tidak percaya diri meskipun Maminya Nathan terlihat ingin menggoda Vanessa agar tidak terlalu memikirkan Nathan. Vanessa hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan maminya Nathan.
Pikirannya melayang pada kejadian tadi, “Kenapa aku tidak sadar kalau tadi sedang menyebrang? … kenapa aku seperti terhepnotis padahal mahuk itu hanya beridiri … semoga saja dia segera pergi dari kehidupanku, mungkin ini yang di maksud ayu aura mahluk itu bercampur tapi dia tetap memiliki keinginan untuk membahayakan aku,” ucap Vanessa di dalam hatinya.
Vanessa mencoba berpikir positif, dulu memang pernah ada mahluk seperti yang dia lihat dan warna auranya merah semua, seingatnya dulu mahluk itu bahkan seperti menghipnotisnya untuk terjun ke sungai, untung saja Ayu datang tepat waktu tapi setelah kejadian itu mahluk itu menghilang, “Semoga saja mahluk itu hilang setelah kejadian ini," batin Vanessa.
Pintu ruang UGD terbuka dan dokter menyatakan keadaan Nathan baik-baik saja. Mami, Niko dan Vanessa bisa bernafas lega.
“Niko temani Vanessa makan dulu ini sudah siang, mami takut Vanessa sakit,” titah mami pada Niko.
Niko hanya menganggukan kepalanya, dan menarik tangan Vanessa.
Vanessa meronta minta di lepaskan, “Pak Niko aku mau liat keadaan Nathan dulu.”
“Kamu tidak dengar tadi dokter bilang Nathan baik-baik saja,” ketus Niko tanpa melihat Vanessa.
“Ta-tapi,” Vanessa tidak melanjutkan ucapannya karena Niko menghentikan langkahnya lalu menatapnya tajam.
Melihat tatapan tajam milik Niko Vanessa hanya bisa diam dan mengikuti langkah pria di depannya yang sudah melepaskan genggaman tangannya.
***
Halo semuanya selamat pagi
Sekarang bisa bernafas lega karena Nathan dan Vanessa baik-baik saja. Btw kok Niko ketus gitu yah ada yang tau ?
Jangan lupa dukung author ya lewat like, vote dan komentarnya.
Sampai jumpa di bab selanjutnya ❤️😘
__ADS_1