
Jantung Vanessa berdetak lebih cepat, dan pipinya terasa memanas merasakan pelukan Nathan. “Perasaan ini gak pernah berubah, aku mencintai kamu,” ucap Nathan tepat di telinganya. Vanessa hanya bisa tersenyum, lidahnya kelu dia tidak bisa mengeluarkan suaranya karena merasa sangat senang.
“Tong bobogohan didide atuh teh,” ucap Riko kesal di ujung tangga melihat kakanya yang sedang berpelukan.
(Jangan pacaran di sini ka)
Sontak Vanessa melepaskan tangan Nathan yang memeluk pinggangnya, “Si-siapa yang pacaran?” tanya Vanessa gugup.
Riko hanya menaikan satu alisnya dan melemparkan kunci motor dah jatuh tepat di kaki Vanessa, “Momotoran jig! Rerencangan ade rek kerja kelompok di dieu.”
(Jalan-jalan gih! Teman-teman ade mau kerja kelompok di sini)
Vanessa mengambil kunci motor yang di lempar adiknya, “Panas kie di titah momotoran hideung atuh de,” protes Vanessa.
(Lagi panas malah di suruh jalan-jalan jadi item de)
Vanessa melihat adiknya yang berjalan meninggalkannya lalu menghampirinya dengan membawa jaket miliknya, “Yeuh meh teu hideng,” ucap Riko sambil menyodorkan jaket milik kakanya.
Riko melirik Nathan yang sedang memperhatikan interaksi antara dirinya dan kakanya, “Kunaon a teu ngarti? Karunya teing,” ucap Riko sambil menggeleng-gelengkan kepalanya penuh rasa prihatin.
(Kenapa ka gak ngerti? Kesian banget)
Vanessa yang sedang memakai jaket jadi hilang fokus kerena ucapan adiknya yang mengejek Nathan, melihat Nathan yang bertambah kebingungannya membuat Vanessa tertawa, “Hahaha karunya teing.”
Nathan hanya bisa diam memandangi Vanessa dan adiknya yang sedang menertawakannya, “Sekongkol mereka rupanya,” batin Nathan.
Melihat wajah Nathan yang malang membuat Vanessa ingin membawanya pergi jauh dari orang-orang sunda ini, “Ayo,” ajak Vanessa sambil berdiri dari duduknya.
Nathan menghela nafasnya sebelum bangkit dan mengikuti Vanessa namun langkahnya terhenti karena panggilan Riko.
“Nyuhun ken acis a,” ucap Riko santai tanpa rasa bersalah.
(Minta uang ka)
Melihat Nathan yang terlihat kebingungan dengan cepat Riko mentranslate ucapannya, “Ade minta uang jajan.”
“Oh,” jawab Nathan singkat, dia merogoh sakunya dan memberikan uang seratus ribuan sebanyak dua lembar.
“Eh bageur gening si aa, nuhunnya,” ucap Riko gembira.
(Ternyata aa baik, terima kasih)
Nathan hanya menganggukan kepalanya dan menyusul Vanessa, di lihatnya Vanessa yang sedang duduk di motor matic berwarna hitam.
“Bisa bawa motor gak?” tanya Vanessa.
Nathan diam tidak langsung menjawab pertanyaan Vanessa, dia memang bisa tetapi dia tidak punya SIM C.
__ADS_1
Melihat Nathan yang diam saja sudah dapat Vanessa pastikan orang kaya satu ini gak pernah naik motor. Vanessa menyalakan starternya dan memakai helmnya, “Nih pake,” ucap Vanessa sambil menyodorkan helm berwarna hitam pada Nathan.
Nathan menerima helm yang diberikan Vanessa dan memakainya, “Kamu bisa bawa motor emang?” tanya Nathan penasaran.
Vanessa menganggukan kepalanya, “Bisa atuh,” jawab Vanessa bangga.
Nathan duduk di motor Vanessa, sebenarnya gangsi di bonceng wanita tapi dia ingin tau kemampuan wanita miliknya.
Vanessa mulai melajukan motornya, “Kita mau ke mana?” tanya Vanessa.
“Ke alun-alun kota Bandung,” Jawab Nathan.
“Ngapain ke sana gak seru di alun-alun nya juga.”
“Gak papa, aku kan belum pernah.”
Vanessa melajukan motornya ke jalan kosambi, siang menjelang sore itu cukup panas dan sedikit ada kemacetan setelah melewati rel kereta api. Setelahnya berjalan lancar sampai Vanessa memarkirkan motornya.
Nathan mengikuti Vanessa yang berjalan keluar dari parkiran, “Cuma kaya gini da alun-alunya juga,” ucap Vanessa.
Nathan memperhatikan rumput sintetis yang luas dan di sana banyak orang-orang yang duduk juga anak-anak yang sedang bermain. Ada bangunan masjid yang terlihat luas, dan banyak juga yang duduk lesehan di teras depan masjid.
Vanessa menarik tangan Nathan yang sedang memperhatikan keadaan sekitar, “Sini yuk,” ajak Vanessa.
Nathan mengikuti langkah vanessa yang berjalan di trotoar, dan mengajak nya duduk di kursi yang di sediakan. Melihat Vanessa yang terlihat ke gerahan membuat Nathan merasa bersalah karena membiarkan wanitanya mengendarai motor.
Saat melintas penjual minuman Vanessa memanggilnya, “Minumannya kang dua,” ucap Vanessa.
“Minuman teh aja dua,” ucap Vanessa sambil memberikan uangnya.
“Makasih yah neng,” ucap penjual tersebut dan tersenyum ramah pada Vanessa.
“Nih minum,” ucap Vanessa memberikan minumannya pada Nathan.
Nathan menerimanya dan langsung meminumnya, tenggorokannya memang terasa haus meski tidak langsung reda karena minuman yang di beli Vanessa dari penjual asongan tidak dingin.
Nathan memperhatikan Vanessa yang diam memadang kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya, “Nes,” panggil Nathan.
“Hmmm,” Vanessa hanya menjawab dengan deheman tanpa melirik Nathan.
“Aku boleh tanya.”
“Tanya apa?” tanya Vanessa sambil melihat Nathan.
“Aku tidak lihat ibumu, kemana?” tanya Nathan. Melihat wajah Vanessa yang berubah terlihat sedih membuat Nathan merasa bersalah karena lancang bertanya tentang ibunya.
Pertanyaan yang tidak pernah Vanessa dengar dari siapapun tentang ibunya kini pria di hadapannya bertanya soal keberadaan ibunya, Vanessa berusaha tersenyum, “I-ibu.” Vanessa menghela nafasnya saat terasa sesuatu yang menghimpit dadanya, pertahanannya runtuh air mata Vanessa menetes begitu saja. Sebelumnya tidak pernah ada satu orang pun yang bertanya tentang ibunya.
__ADS_1
Nathan menghapus air mata Vanessa, di tariknya tangan Vanessa untuk mengikutinya ke tempat parkir motornya. “Kunci,” ucap Nathan.
Vanessa merogoh sakunya dan memberikannya pada Nathan tanpa berusara. Saat Nathan melajukan motornya tangis Vanessa pecah.
Mendengar isakan perempuan di belakangnya membuat Nathan menarik tangan Vanessa agar memeluknya. “Seharusnya aku tidak bertanya kalau hanya membuatmu menangis, maafkan aku,” ucap Nathan sambil mengelus tangan Vanessa yang melingkar di perutnya.
Cukup lama Vanessa menangis, hingga Vanessa menyimpan dagunya di bahu Nathan.
Flashback
Delapan tahun yang lalu, perempuan memakai seragam putih biru memasuki rumahnya dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Mendengar pertengkaran di kamar milik orang tuanya, gadis itu berjalan menuju lantai dua mencari adiknya, adiknya tengah meringkuk di atas tempat tidur. Mendengar pintu terbuka adiknya langsung menghambur kepelukan kakanya. Perempuan dengan name tag bernama Vanessa memeluk adiknya yang masih memekai seragam putih merah.
“Papa dan ibu kenapa?” tanya Vanessa.
Adiknya hanya bisa menangis tanpa suara sambil menggelengkan kepalanya, “Ade gak tau teh,” jawab nya lirih.
Vanessa mendengar suara Papanya yang berteriak, “Kamu istri saya, seharusnya kamu mendengarkan saya bukan mereka.”
Tetesan air mata terus menerus turun tanpa bisa ia tahan, pelukan pada adiknya semakin erat saat tendengar langkah kaki yang mendekati mereka.
Vanessa bisa melihat air mata yang terus membanjiri wajah ibunya. Dia hanya bisa diam membeku saat ibunya memeluk mereka berdua.
“Ibu pergi dulu, titip Riko ya teh,” ucap ibunya di sela isakannya.
Vanessa hanya diam tanpa menjawab, di lihat wajah adiknya yang memejamkan mata. Vanessa tau adiknya itu sangat ketakutan, sementara ibunya mengecup kepala Vanessa dan adiknya secara bergantian lalu pergi meninggalkan kamar.
Flashback off
“Aku gak tau alasan ibu pergi itu apa, tapi setelah kejadian itu ibu tidak pernah kembali. Papa tidak pernah membahas kepergian ibu, aku dan riko juga tidak pernah bertanya, setelah kepergian ibu Papa terlihat sangat kacau dan banyak pikiran. Beberapa kali aku harus menenangkan Riko yang menangis ingin bertemu ibu, tapi aku selalu berusaha untuk membujuknya dengan mainan atau makanan agar Riko berhenti menangis.”
Nathan mendengar helaan nafas dari Vanessa, “Semua nya sungguh sangat sempurna, banyak kebahagiannya yang terjadi di keluarga kami, tapi semuanya berubah setelah perusahaan papa bangkrut. Kami harus pindah ke rumah kecil dan aku sering mendengar papa bertengkar dengan ibu.”
Tepat setelah mengakhiri ceritanya lampu jalanan berubah menjadi merah, Nathan menghentikan motornya lalu melirik Vanessa yang hidungnya memerah, “Kamu jelek kalau udah nangis gitu,” ejek Nathan.
Vanessa memukul punggung Nathan pelan sebagai bentuk kekesalannya.
“Aw sakit,” keluh Nathan sambil menggosok punggungnya pura-pura menghilangkan rasa sakit, padahal pukulan Vanessa tidak berasa sama sekali.
“Kamu lebay ih, lembek jadi cowo,” ketus Vanessa.
“Kalau kita menikah kamu ingin ibumu ada di pernikahan kita?” tany Nathan sambil melajukan motornya karena lampu jalanan sudah berubah warna.
“Memangnya siapa yang mau menikah sama kamu?” tanya Vanessa sambil memeluk Nathan.
***
Sudah author jawab ya tentang ibunya Vanessa, untuk yang bertanya siapa mahluk yang mengikuti Vanessa nanti author jawabnya di saat yang tepat.
__ADS_1
Jangan lupa dukung author ya lewat vote, like dan komentarnya
Love U all ❤️