
Pagi itu seperti pagi-pagi sebelumnya Vanessa memasak untuk sarapan. Papanya dari tadi duduk di meja makan fokus pada layar laptopnya, “Pa,” panggil Vanessa.
Papa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop, di lihatnya Vanessa yang sudah duduk di sebelahnya, “Kenapa teh?”
“Teteh mau kembali ke ibu kota boleh?”
Papa malah senyum-senyum melihat Vanessa, “Kenapa udah rindu sama si aa Nathan?”
“Eh kok malah bawa-bawa Nathan … teteh mau ke ibu kota mau cari pengalaman kerjaan di sana pa,” ucap Vanessa dengan nada serius.
“Satu tahun tapi yah, setelah dapet pengalaman lanjut kerja di Bandung aja,” ucap papa sebelum kembali melihat layar laptop.
“Asiiik makasih pa,” ucap Vanessa senang karena mendapat ijin dari papa, semalaman dia gelisah karena takut tidak di ijinkan oleh papa.
“Tapi inget ya jaga diri, jangan sampe kebawa-bawa orang yang gak bener.”
Vanessa mengacungkan jempolnya, “Siap pa, kalau gitu teteh mau siap-siap dulu.”
“Naik apa ke sananya, di jemput Aa?”
Vanessa menggelengkan kepalanya, “Teteh sendiri naik bus aja ah.”
“Yaudah gih jangan terlalu siang berangkatnya panas, papa berangkat duluan ya teh. Sebelum berangkat si ade di bangunin dulu yah.”
“Siap bapak bos,” ucap Vanessa sambil hormat seperti saat upacara sekolah.
Papa mengusap rambut Vanessa pelan, “Hati-hati yah, uang jajannya nanti papa transfer kalau udah dapet komisi.”
“Teteh masih punya tabungan kok pa, gak usah buru-buru takut si ade lebih perlu,” ucap Vanessa sambil tersenyum dan melangkah pergi dari dapur menuju kamarnya.
***
Siang itu Vanessa berjalan menuju kosannya, seperti biasa halaman kosan tampak sepi karena di sana penghuninya lebih banyak mahasiswi apalagi sekarang sudah memasuki liburan semester. Vanessa membuka kunci pintu kamar kosannya, masuk dan langsung menutup pintu. Saat berjalan ke meja belajar dia masih menyimpan kotak berisi bunga dan gelang yang di kirim tanpa nama pengirim, rasa penasaran itu muncul, Vanessa mendekat dan membuka kotak itu. Bunganya masih bersih tanpa debu karena ada di dalam kotak, di ambilnya gelang yang ada di kotak putih dan Vanessa mencoba memakainya. “Lucu juga ternyata,” komentar Vanessa pada gelang yang melingkar di tangan kanannya.
__ADS_1
Siang itu Vanessa lebih memilih membersihkan kamarnya yang sudah mulai berdebu. Beberapa barang yang sudah tidak di gunakannya dia pisahkan begipun kertas-kertas yang menumpuk di mejanya Vanessa pisahkan yang tidak pentingnya.
Vanessa menatap puas pada kamarnya yang lebih rapi bersih dan enak di lihat, di liriknya jam di dinding ternyata sudah pukul enam sore pantasa saja perutnya sudah terasa sakit karena melewatkan jam makan siangnya. Vanessa mengirim pesan pada abang-abang penjual nasi goreng di depan, “Satu nasi goreng ya bang.”
Setelah mengirimkan pesan Vanessa memilih membersihkan tubuhnya yang terasa lengket sambil menunggu nasi goreng di antar ke kamarnya. Vanessa mengeringkan rambutnya dia jadi teringat saat Nathan membantunya mengeringkan rambutnya, senyum Vanessa menghiasi bibirnya. Dia merasa senang karena semua keinginannya terkabul dia bisa melihat Nathan dan bersamanya di dunia yang sama tanpa melupakannya.
Ponselnya bordering tanda pesan masuk, Vanessa menyimpan pengering rambut dan melihat ponselnya ternyata Nathan yang mengirim pesan. “Kamu kapan kembali? Aku sudah sangat merindukanmu,” Vanessa membaca isi pesan Nathan dengan pelan. Hatinya berbunga-bunga medapat kiriman pesan dari Nathan yang merindukannya.
Suara ketukan di pintu membuat Vanessa dengan cepat bangkit dan membuka pintu. Abang penjual nasi goreng memberikan kantung kresek berisi pesannya, “Ini neng nasi gorengnya.”
Vanessa menerimanya lalu menyerahkan uang pada abang penjualnya, “Makasih ya bang.” Setelah memastikan abang penjual meninggalkan kosan Vanessa menutup pintu dan duduk di meja belajarnya. Dibukanya nasi goreng yang masih mengeluarkan uap panas, di ambilnya piring dan menuangkan nasi gorengnya. Vanessa menghabiskan makannya dengan cepat, setelah menghabiskan minumnya ponsel Vanessa berdering tanda panggilan masuk. Saat melihat layar ponselnya ternathan Nathan yang menelpon dengan panggilan video, “Aduh Nathan minta video call lagi,” dengan cepat Vanessa merapikan rambutnya dan mengoleskan lipstick ke bibirnya setelah memastikan penampilannya Vanessa mengangkat telpon Nathan.
Setelah menekan tomboh hijau langsung terlihat wajah Nathan yang tersenyum di layar ponselnya Vanessa, “Hi,” sapa Nathan di sebrang sana.
Ada perasaan senang dapat melihat wajah tampan milik Nathan, “Ada apa telpon?”
Nathan tampak menggelengkan kepalanya, “Cuma pengen liat kamu aja, habis dari mana tumben pake lipstick?” tanya Nathan penasaran karena baru kali ini dia melihat Vanessa memakai lipstick berwarna merah.
Vanessa dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan saat menyadari dirinya memakai lipstick merah, “Mampus salah ambil lipstick lagi … papa Vanessa malu.”
“Emmm itu habis beli nasi goreng,” ucap Vanessa beralasan.
Nathan mengulum senyumnya, alasan Vanessa tidak masuk akal. Meskipun berangkat kuliah Nathan tidak pernah melihatnya menggunakan lipstick merah.
“Tadi tuh aku habis beres-beres terus nemu lipstick merah aku cobain sekalian pamer bibir ke abang penjual nasi goreng,” ucap Vanessa memberi alasan yang lebih spesifik.
“Aku kirain kamu pake lipstick gara-gara mau VC sama aku,” ujar Nathan santai.
“Aduh ketahuan,” batin Vanessa. “Buat apa aku pake lipstick Cuma buat angkat telpon kamu, kurang kerjaan,” ucap Vanessa santai menjaga imagenya di hadapan Nathan.
“Kamu kapan kembali?” tanya Nathan.
Vanessa diam memperhatikan Nathan yang terlihat lelah bersender ke kursi dengan rambut berantakan, “Astaga kenapa keliatan ganteng gitu kalau rambutnya berantakan gitu pak Niko aja kalah,” puji Vanessa di dalam hatinya.
__ADS_1
“Kok bengong?”
Vanessa tersentak karena ucapan Nathan, “Aku gak bengong.”
“Aku tanya kamu kapan kembali kamunya kenapa malah diem aja,” ucap Nathan kesal karena merasa di acuhkan oleh Vanessa.
“Aku udah ada di kosan ko,” jawab Vanessa cepat melihat wajah Nathan yang terlihat kesal.
Vanessa melihat Nathan yang mendekat ke ponselnya, “Kenapa gak ngabarin aku dulu, aku kan bisa jemput.”
“Kamu kan baru pulang, masa ke Bandung lagi Cuma buat jemput aku?” Dari layar ponselnya Vanessa melihat Nathan yang menjauh dari kamera lalu terdiam. “Kamu udah kerja lagi?” tanya Vanessa saat menyadari Nathan yang memakai kemeja.
“Iya aku langsung kerja, kesian Niko.” Ujar Nathan.
“Memangnya kamu udah sembuh?” tanya Vanessa. Namun terdengar suara telpon kantor Nathan bordering, “Sebentar yah,” ucap Nathan. Sepertinya Nathan menyimpan ponselnya, karena yang Vanessa lihat hanya langit-langit ruangan yang berwarna putih.
Sepertinya Nathan telah selesai menerima telpon karena sekarang Vanessa bisa melihat wajah Nathan kembali. “Ada yang harus aku kerjakan, di sambung nanti ya sayang bye.”
Belum sempat Vanessa memberi semangat untuk prianya ternyata panggilannya sudah di tutup oleh Nathan lebih dulu. “Haduh meleh aku di panggil sayang,” gumam Vanessa dengan rona merah yang muncul di pipinya.
Vanessa memilih mengirimkan pesan pada Nathan, “Semangat kerja rodi, jaga kesehatan sayang,” lama Vanessa memandangi isi pesan yang akan di kirimkannya pada Nathan. Pipinya bersemu merah karena memanggil Nathan dengan sebutan sayang, “Kirim jangan yah?” gumam Vanessa bimbang, dia mengetuk-ngetuk layar ponselnya menggunakan jempol sambil berpikir.
Tiba-tiba ada notifikasi masuk ke ponselnya, di lihatnya pesan yang ia ketik sudah terkirim pada Nathan dan pria itu membalasnya, Vanessa membaca pesan singkat yang di kirim Nathan, “Terimakasih.”
Vanessa langsung melompat-lompat di atas kasurnya karena mendapat balasan dari Nathan. “Astaga Vanessa kalau Nathan tau lo sesenang ini dia pasti ngira lagi pacaran sama bocah.” Vanessa langsung diam dia teringat ucapan papanya yang menyebutkan Nathan sudah dewasa, “Harus jaga diri ini mah, takutnya Nathan ilfil lagi … fix kelamaan menjomlo ini mah jadi kaya gini lebay(berlebihan).”
***
Hallo semuanya selamat pagi
Untuk kalian yang masih penasaran tentang Nathan dan Vanessa sodaraan atau bukan, author jelaskan sekarang di sini. Jadi author gak bakal bikin konflik itu, balik lagi ke judul ‘Cinta Beda Dunia’ yang lebih ke fantasi author gak bakal konflik tentang keseharian, kecuali cemburu-cemburu ya dan author pastikan gak akan ada orang ketiga, jadi kalian yang benci pelakor akan merasa tenang membaca cerita ini. Santai aja ya kaya di pantai biarkan cerita ini mengalir sesuai imajinasi author.
Jangan lupa dukung author terus ya lewat vote, like dan komentarnya
__ADS_1
Terima kasih untuk semuanya yang selalu mendukung author, sampai jumpa di bab selanjutnya ❤️