Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 54 (Drama)


__ADS_3

Nathan mulai melajukan mobilnya, “Kamu mau makan?” tanya Nathan.


“Boleh,” jawab Vanessa.


Melihat Vanessa yang tertawa kecil melihat layar ponselnya membuat Nathan penasaran, “Kenapa senyum-senyum gitu?”


“Ini liat,” Vanessa menunjukan ponselnya pada Nathan.


“Niko dan temanmu?”


“Iya dia gaya banget upload di grup kampus, sampai-sampai banyak yang hujat dia dikiranya itu fake,” ucap Vanessa sambil tersenyum lebar.


“Teman mu suka sama Niko?” tanya Nathan tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan.


“Dia mah sama semua cowok ganteng juga suka. Tapi cowok nya pada gak suka sama kelakuan tengil dia,” ungkap Vanessa.


“Kamu sama Pak Niko kembar beneran?” 


“Hmmm,” Nathan menjawab dengan deheman.


“Yang lahir duluan siapa?” tanya Vanessa lagi.


“Niko,” jawab Nathan singkat.


“Pantes … kamu kelihatan lebih muda yah,” ujar Vanessa.


“Memang lebih tampan aku.”


“Percaya diri anda terlalu tinggi huuuu,” Vanessa teersenyum mengejek Nathan.


“Fakta yah itu! buktinya kamu masih setia sama aku,” ucap Nathan percaya diri.


 Vanessa tersenyum lebar mendengar ungkapan Nathan, “Aku setia sama kamu karena terpaksa,” jawab Vanessa.


“Terpaksa tapi sampai senang begitu melihat aku masih hidup.”


Apa yang di katakana Nathan benar adanya, Vanessa hanya diam memandang jalan di depannya tanpa berniat menjawab ucapan Nathan. Melihat Nathan yang memarkirkan mobilnya di depan penjual sate langganannya Vanessa menatap Nathan, “Mau ngapain ke sini?” tanya Vanessa.


“Ya makan lah, waktu aku jadi arwah aku ngiler liat kalian makan sate di sini,” jawab Nathan santai dan melepas seatbeltnya.


“Jadi kamu penasaran sama apa yang aku makan?” tanya Vanessa dan tersenyum lebar.


“Iya termasuk gorengan dan apa itu yang kamu beli di terminal su apa sih?”


“Surabi?” tanya Vanessa memastikan.


“Nah iya itu, yang kamu kasihin ke si Doni itu,” ketus Vanessa.

__ADS_1


“Kenapa kamu cemburu?” tanya Vanessa dengan senyum meledek.


“Buat apa cemburu, cemburu itu tanda orang tidak mampu,” Nathan menaik-naikan satu alisnya menggoda Vanessa.


“Oh iya lupa… kamu kan sultan yah.”


Nathan tersenyum pada Vanessa dan menggengam tangan Vanessa mendekati gerobak penjula sate.


“Kamu mau sate apa?” tanya Nathan sambil menatap Vanessa.


“Kambing aja satu porsi,” jawab Vanessa.


“Kambing nya dua porsi, ayam satu porsi sama sapi satu porsi,” Nathan menyebutkan pesananya.


“Mau tambah nasi atau lontong?” tanya bapak penjualnya.


“Lontong aja, kamu mau juga?” tanya Nathan.


Vanessa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, “Ini mah kaya makan sama sundel bolong pesen sate banyak amat,” batin Vanessa.


“Kamu kenapa senyum-senyum gitu?” tanya Nathan.


Vanessa dan Nathan duduk di pojokan supaya tidak terlalu tercium asap pembakaran sate.


“Ah gak papa, kamu sanggup emang ngabisin sate sebanyak itu?”


“Kenapa memangnya?” Nathan malah balik bertanya.


Di perhatikannya wajah Nathan yang sedikit pucat membuat Vanessa merasa khawatir, “Bibir kamu pucat gitu, masih sakit?” 


Nathan mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya dan menatap Vanessa dengan senyum di bibirnya, “Sedikit … harusnya aku masih di rawat.”


Vanessa menatap Nathan kesal, “Kalau masih sakit kenapa malah pulang?”


“Aku udah gak sabar buat ketemu kamu,” jawab Nathan sambil mencubit pipi Vanessa.


“Tapi kan kesehatan kamu lebih penting,” Vanessa menatap Nathan tajam.


Nathan menutup muka Vanessa dengan telapak tangannya, “Tolong itu mata di jaga takut lompat,” ucap Nathan dan melepaskan tanggannya.


“Ah aku mau pulang aja,” ucap Vanessa dan beridiri dari duduknya.


Nathan meraih tangan Vanessa, “Jangan kan kita udah pesen satenya, tanggung aku juga laper,” ucap Nathan dengan nada memohon.


Vanessa mengalah dan duduk kembali di tempatnya, dia mendiamkan Nathan dan malah sibuk dengan ponselnya. Dia kesal pada Nathan, pria itu selalu saja membuatnya serba salah. Vanessa memang senang bertemu dengan Nathan, tapi melihat bibir pria itu membuat Vanessa takut terjadi sesuatu pada pria yang di cintainya.


Melihat Vanessa yang diam saja sibuk memainkan ponselnya Nathan meraih tangan Vanessa dan menggenggamnya, “Hey,” panggil Nathan.

__ADS_1


Vanessa menghela nafasnya, dia hanya diam saat bersitatap dengan Nathan.


“Aku gak papa,” ucap Nathan meyakinkan Vanessa, dan memberikan senyum terbaik miliknya.


“Tap-“ ucapan Vanessa berhenti saat Nathan mencium tangan Vanessa yang sedang di genggamnya. Ini untuk pertama kalinya Vanessa merasakan sesorang mencium tanggannya. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, pipinya terasa memanas. Vanessa senang bukan main sampai-sampai wajah kesalnya berubah menjadi malu-malu.


Nathan terkekeh melihat perubahan Vanessa yang sangat cepat, “Jangan di bahas lagi ya, aku beneran gak papa.”


Vanessa menundukan kepalanya, “Iya.”


Pesanan Nathan sudah datang dan tersaji di atas meja, Vanessa memperhatikan Nathan yang langsung menyantap pesanannya.


“Enak ya,” ucap Nathan dengan mulut penuh karena memasukan dua tusuk sate sekaligus.


Vanessa tersenyum senang melihat tingkah Nathan, “Kalau mau bicara itu di telan dulu.”


Nathan menelan makanan yang memenuhi mulutnya, “Maaf … Efek empat bulan makanan-makanan rumah sakit jadi gini,” ujar Nathan. 


“Memangnya tidak enak yah makanan rumah sakit?” tanya Vanessa penasaran.


“Enak, Cuma kebanyakan sayuran dan buah-buahan … aku bosan.”


Setelah mengabiskan makanannya Vanessa memperhatikan Nathan yang masih sibuk memakan sate miliknya hingga belepotan. Vanessa memberikan kotak tisu pada Nathan, Nathan yang tidak mengerti menaikan satu alisnya karena mulutnya masih penuh.


“Itu mulut mu penuh bumbu kacangnya, bersihkan!”


Nathan mendekatkan wajahnya pada Vanessa, “Bersihkan dong biar romantis, kaya drama-drama gitu,” pinta Nathan.


Vanessa mengambil tisu dan mendorong mulut Nathan agar menjauh darinya, “Tuh bersihkan sendiri, ini dunia nyata bukan drama,” ketus Vanessa.


Nathan tersenyum melihat reaksi yang di tunjukan Vanessa, “Ini yang membuat aku jatuh cinta,” ucap Nathan di dalam hatinya.


Setelah makanannya habis Vanessa dan Nathan kembali pulang, mobilnya berhenti di gerbang kosan. Ternyata ada Niko yang sedang berdiri di sana. Vanessa turun dari mobil di ikuti Nathan, “Aku pulang dulu ya,” pamit Nathan.


“Iya hati-hati.”


Nathan melemparkan kuci mobil nya pada Niko, dengan sigap Niko menangkapnya.


“Kok jadi gue yang nyetir,” Protes Niko.


“Gue kan masih sakit, gak boleh terlalu lelah,” jawab Nathan santai dan duduk di kursi samping kemudi.


Vanessa hanya diam menyimak tingkah lelaki kembar di hadapannya.


“Alasan, tadi saja bisa nyetir sendiri,” cibir Niko.


Nathan membuka kaca mobilnya, “Buruan keuru malem gak usah pake acara ngedumel segala,” teriak Nathan dari dalam mobil.

__ADS_1


Niko tersenyum pada Vanessa, “Kalau begitu saya pamit.”


Vanessa menganggukan kepalanya dan tersenyum pada Niko, “Iya pak, hati-hati di jalan.”


__ADS_2