Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 37 (Menyerah)


__ADS_3

Agung dan Vanessa berjalan menuju ruang tamu tampak Tuan Pasusanto sedang memandangi foto yang terpajang di sana.


“Tuan,” panggil Agung seraya menunduk hormat.


Vanessa tersenyum ramah saat Pasusanto menatapnya, “Tuan saya sangat berterimakasih atas jasa Tuan yang mau menolong saya,” ucap Vanessa.


“Berterimakasih lah pada Agung karena dia yang sudah menolongmu,” ujar Pasusanto.


Vanessa belum pernah menemukan Pria kaya yang rendah hati seperti tuan Pasusanto, “Tuan Pasusanto baik sekali,” ucap Vanessa didalam hatinya. Vanessa melirik Agung, “Termakasih Agung.”


Agung menganggukan kepalanya dan  tersenyum pada Vanessa.


“Antarkan dia sampai penginapan dengan keadaan selamat!”


Vanessa sangat tidak percaya pada sikap tuan Pasusanto yang sangat baik hati, padahal Vanessa bukan siapa-siapa namun dia di perlakukan dengan sangat baik oleh Pria itu.


“Baik tuan,” jawab Agung.


“Terimakasih Tuan atas kebaikan hati ada,” Vanessa menunduk hormat.


Pasusanto tersenyum mendengar ucapan Vanessa, dia sangat merindukan Anatasya yang dulu, mungkin dia akan seperti Vanessa bisa beraktivitas seperti biasanya. Rasanya dia ingin memastikan Vanessa baik-baik saja. Dia tidak ingin hal buruk yang menimpa anaknya terjadi juga pada Vanessa.

__ADS_1


 ***


Vanessa turun dari mobil, “Terimakasih Agung,” ucap Vanessa sambil tersenyum pada Agung. Menatap mobil yang di kendarai Agung mulai menjauh dari penglihatannya.


Dengan tubuh lemasnya Vanessa berjalan menuju penginapannya. Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap paper bag yang di berikan Agung, yang berisi barang-barang miliknya. “Untung saja tas itu tidak hilang terbawa arus,” gumam Vanessa. 


“Nathan kemana sih,” ucap Vanessa kesal karena tidak melihat Nathan, terakhir kali dia lihat Nathan di kamar Anatasya.


Vanessa memijat kakinya yang terasa pegal, mungkin karena Vanessa tidak biasa berjalan dengan jarak jauh. Senyum Vanessa mengembang saat melihat Nathan menghampirinya dan memijat kaki Vanessa perlahan.


“Lebih baik kita pulang,” ucap Nathan tampa melihat ke arah Vanessa.


“Semuanya percuma Vanessa, kita tidak menemukan butki apa-apa di sini,” ucap Nathan.


Vanessa menampakan wajah kesalnya, dia sangat marah pada Nathan. “Percuma katamu,” Vanessa mengulang kembali ucapan Nathan yang menusuk hatinya.


“Iya semuanya percuma!” ucap Nathan dingin.


“Tidak Nathan kita masih bisa berusaha menemukan pelakunya.”


“Kita akhiri semua ini sekarang, kamu tidak berhak ikut campur mengenai keputusanku,” Nathan sangat kesal mendengar Vanessa yang tetap bersikuku pada pendiriannya.

__ADS_1


Vanessa tidak bisa menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya, rasanya hatinya sakit mendengar ucapan dan sikap Nathan yang dingin kepadanya. Dia beranjak dari tempat tidur mengemasi barang-barang miliknya.


Lagi-lagi air matanya turun begitu saja mengingat ucapan Nathan yang menunjukan bahwa Vanessa tidak ada artinya di hidup Nathan. Padahal dia ingat sekali ungkapan cinta Nathan padanya.


Vanessa telah mengurus semua kepulangannya pada Ayu dan membayar biaya penginapannya. Dia berjalan menuju pinggiran pantai dengan tas besar yang digendongnya. Vanessa meletakan tas besarnya di samping kirinya. Dia menatap deruan ombak kecil yang ada didepannya, Vanessa duduk di atas pasir tanpa menggunakan alas apapun. Memeluk lutunya dan air matanya pun turun begitu saja. Di susul butiran air mata yang lain seolah saling berkejaran.


Ingatannya kembali pada perdebatannya dengan Nathan, dia sungguh tidak menyangka Nathan akan menyerah semudah ini padahal Vanessa masih ingin berjuang untuk kesembuhan pujaan hatinya. Tapi apa yang di berikan Nathan padanya hanyalah rasa sakit. Bahkan Vanessa hampir kehilangan nyawanya demi mencari pelaku yang menusuk Nathan. Semuanya Vanessa lakukan karena dia ingin Nathan kembali hidup dan bisa bersamanya. Seandainya Nathan tidak bisa hidup kembali Vanessa merasa tenang karena telah membantu Nathan, Pria yang dia cintai.


Nathan duduk di samping Vanessa, mendengar isakan tangis yang keluar dari mulut Vanessa sangat menyayat hatinya, “Dasar pria bodoh,” umpat Nathan di dalam hatinya.  Harusnya dia tidak bololeh menyakiti hati perempuan yang di cintainya.


Lama Nathan terdiam dia bingung, “Apa harus aku mengatakan semuanya pada Vanessa, tapi ….” Nathan sebenarnya takut kehilangan Vanessa, dia tidak ingin kehilangan Vanessa. Dia takut Vanessa pergi meninggalkannya.


 ***


Halo semuanya, selamat beraktifitas ☺️


Kira-kira apa yang di sembunyikan Nathan dari Vanessa?


Coba tebak ya di kolom komentar 😘


Bab selanjutnya akan author update malam hari ya.

__ADS_1


__ADS_2