Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 57 (Ikan Asin Jambal Roti)


__ADS_3

Buat readers yang di bab sebelumnya tidak mengerti bahasa sunda bisa di baca ulang, karena sudah author berikan translateya.


Selamat membaca❤️


****


Vanessa menatap Papanya yang berdiri di ambang pintu, “Eh Papa udah pulang.”


“Teteh kesini sama cowok ini?” Papanya Vanessa berjalan mendekat.


Nathan berdiri dan berjabat tangan dengan Papanya Vanessa, “Nathan,” ucapnya memperkenalkan diri.


Papanya Vanessa hanya menganggukan kepalanya pada Nathan, “Teh ini Papa beli ayam cuci yah sekalian masak buat makan nanti.”


“Iya Pa,” jawab Vanessa dan mengambil kantung kresek yang di berikan papanya.


“Aa siapanya Vanessa, pacarnya?”


Nathan hanya tersenyum menanggapi ucapan papanya Vanessa.


“Udah gede masa masih pacaran kaya anak SMP aja, yang serius atuh,” sindir papanya Vanessa.


“Iya Pa saya mau serius sama Vanessa,” jawab Nathan.


“Sana teteh masak ayamnya, ini mah urusan laki-laki,” papanya Vanessa mengusir anaknya yang terlihat penasaran dengan percakapannya.


Vanessa mamajukan bibirnya kesal, “Iya ini juga mau.”


Nathan hanya tersenyum melihat Vanessa yang cemberut dan meninggalkan ruang tamu.


“Ngobrolin apa ya mereka?” pertanyaan itu muncul di benak Vanessa saat mencuci ayamnya. Meskipun keingintahuannya tidak tertuntaskan Vanessa lebih memilih fokus memasak.


Vanessa memblender bumbu untuk memasak opor ayam, Kalau dulu tangannya pasti sakit karena harus mengulek bumbu ibunya paling tidak suka rasa masakannya berbeda hanya karena bumbunya tidak di ulek, “Sekarang bagaimana kabar ibu yah?”


Vanessa hanya menghela nafasnya sebentar, di ambilnya wajan dan memasukan minyak untuk menumis bumbu. Vanessa mengalihkan perhatiannya karena suara Nathan yang memanggilnya, “Kenapa?” tanya Vanessa.


Nathan hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan duduk di meja makan, “Pintar masak juga ternyata, kenapa di Jakarta suka beli makanan dari pada memasak sendiri?”


Vanessa memasukan beberapa potong ayam ke wajan dan mengaduknya bersama bumbu lalu di beri air santan, dia melirik Nathan sebentar, “Males, di sana gak di sediakan tempat masak juga.”


“Kenapa ke sini? Bukannya lagi ngobrol sama papa?” tanya Vanessa.


“Papa mau bersih-bersih katanya, aku di suruh ke sini katanya supaya bisa bobogohan.”


Vanessa hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan. “Memang bobogohan itu apa artinya?” tanya Nathan.


“Bobogohan itu artinya pacaran,” jawab Vanessa sambil mencuci beras, karena tadi dia lihat nasi di penanak nasi habis.


“Mau aku bantuin?”


“Memang bisa?” tanya Vanessa sambil tersenyum meledek.

__ADS_1


“Enggak sih, tapi aku mau coba siapa tau bisa jadi acara memasak yang romantic kaya drama di tv,” Nathan menaikan satu alisnya menggoda Vanessa.


“Tolong ya a, di kurangin nonton dramanya,” sindir Vanessa.


“Bukannya perempuan suka drama yah?”


Vanessa memberikan empat siung bawang putih ke hadapan Nathan serta pisau dan talenan, “Ini di kupas terus di iris yah,” pinta Vanessa. Dia ingin melihat seberapa jauh pengetahuannya tentang memasak.


“Ini mah kecil,” ucap Nathan. Dia langsung mengupas bawang dan mengirisnya, “Ini udah,” ujar Nathan.


Vanessa menghampiri Nathan dan tersenyum puas melihat hasil karya tangan Nathan, “Bagus, belajar dari mana?” tanya Vanessa.


“Enggak pernah belajar Cuma sering liat aja kalau mami lagi nonton acara masak,” ucap Nathan. Dia menghampiri Vanessa yang sedang menumis bawang yang di potongnya.


“Mau masak nasi kenapa pake bawang, santan dan apa itu daun kering namanya?” tanya Nathan saat melihat Vanessa memasukan tumis bawang tadi ke dalam penanak nasi lalu menuangkan santan dan beberapa daun kering.


“Mau bikin nasi uduk sederhana, Papa paling suka makan nasi uduk dan daun kering itu namanya daun salam” jawab Vanessa, sambil menyalakan penanak nasinya setelah memasukan air.


“Nih bantuin potongin tempe yah,” pinta Vanessa.


“Gak ada tepung gitu?” tanya Nathan.


Vanessa mengrenyit, “Tepung buat apa?”


“Buat main lempar-lemparan, biar romantis gitu,” Nathan tersenyum pada Vanessa.


“Romantis engga berantakan iya, nanti siapa yang bersihin dapurnya? kalau di film gitu kan enak ada bagian bersih-bersih pemeran utamanya gak usah ngurus kekacauan yang mereka buat,” komentar Vanessa.


“Bukannya gak suka lebih tepatnya gak pernah nonton sih, aku lebih suka baca novel horor,” jawab Vanessa sambil menggoreng tahu.


Tidak sampai satu jam semua masakan sudah tertata rapi di atas meja, nathan menatap semua masakan Vanessa yang terlihat menggiurkan.


“Teteh nanti bantuin ade lagi yah,” ucap Riko yang tiba-tiba muncul di dapur.


“Hmm … panggilin papa gih, mau makan sekarang tidak?”


“Ade mah mau,” jawab Riko polos dan menggambil goreng tahu.


“Teteh mah nyuruh nanya Papa bukan nanya kamu,” Vanessa mendorong tubuh adiknya agar bergerak cepat.


“Cicing atuh ah berat (Diem berat),” ucap Riko kesal berusaha melepaskan tangan Vanessa yang mendorong bahu adiknya.


Vanessa hanya tersenyum menanggapi kekesalan adiknya, “Adik kamu kelas berapa?” tanya Nathan.


“SMK kelas tiga sekarang, bentar lagi lulus,” jawab Vanessa dan duduk di meja makan.


“Adik kamu kayanya gak suka sama aku, aku yang ganteng gini Cuma di lirik doang sama dia,” ujar Nathan.


“Haha iya ganteng-ganteng, dia mah emang gitu orang nya emang diem, kurang bersosialisasi apalagi kalau sama orang baru di anggap angin doang sama dia mah.”


“Gak bakal laku cowo dingin kaya gitu mah.”

__ADS_1


“Eh kata siapa gak laku, pacarnya aja tiga,” Vanessa mengacungkan ketiga jarinya.


Nathan melongo tidak percaya, “Masa, aku aja yang seganteng ini dingin gitu dari dulu gak laku-laku,” ungkap Nathan.


“Itu mah kamu nya aja kurang berkarisma hahaha, makanya jomlo terus,” Vanessa puas tertawa karena berhasil meledek Nathan.


Merasa tidak terima di ledek jomlo terus oleh Vanessa Nathan mengeluarkan kata-kata maha dasyatnya, “Gak papa jomlo terus, yang penting sebentar lagi menikah.” Lihat muka Vanessa yang diam tanpa ekspresi mendengar ucapannya membuat Nathan ingin ketawa, tapi dia menahannya.


Keheningan itu di akhiri oleh suara Papi yang ikut duduk di meja makan, “Hayu atuh urang ririungan.(Mari makan bersama)"


“Ayo makan,” ucap Vanessa saat melihat Nathan yang terlihat kebingungan.


“Aduh a maaf lupa ada orang ibu kota yang gak ngerti bahasa sunda,” ucap papanya Vanessa ramah.


Nathan melirik adiknya Vanessa yang diam saja tidak berkomentar, “Iya gak papa om.”


“Haha si papa di panggil om-om,” tawa garing Riko mendapat tatapan tajam dari kaka dan papanya.


Nathan hanya tersenyum melihat adiknya Vanessa menggerutu kesal mendapat tatapan dari kaka dan papanya.


“Nathan cobain gera ini mah, ngeunah pisan asin na juragan, (Nathan silahkan di coba, ini ikan asin juragan’juragan adalah sebutan orang paling kaya di kampung’)”


“Papa ih masa Nathan di suruh makan ikan asin,” protes Vanessa.


“Asin juragan?” tanya Nathan.


“Iya cobain enak pisan,” ucap Papanya Vanessa menyodorkan mangkuk berisi ikan asin pada Nathan.


“Ih papa yang bener atuh ngasih tau teh, itu mah ikan asin jambal roti bukan ikan asin juragan,” ucap Vanessa menjelaskan.


Nathan mengambil satu potong, “Kenapa di sebut ikan asin juragan om?”


“Mahal soalna hargana (Harganya sangat mahal), dulu mah yang makan ikan asin itu teh Cuma orang kaya aja … sok cobain gera enak sama nasi hangat,” papanya Vanessa juga mengambil dua potong ikan asin.


Selama acara makan lebih banyak papa nya Vanessa yang bercerita tentang menu yang di masak Vanessa, Nathan hanya menanggapi dengan senyuman atau memberikan pertanyaan saat tidak mengerti ucapan papanya Vanessa yang bahasanya bercampur antara bahasa Indonesia dan bahasa sunda jelas membuat otak Nathan harus berpikir keras.


Setelah acara makan selesai semua duduk di karpet termasuk Nathan. Papanya Vanessa melirik jam dinding sudah pukul tujuh malam, “Punten a ini mah yah bukan maksudnya ngusir (Maaf ka tidak bermaksud untuk mengusir/menyuruh pergi), tapi gak baik kalau laki-laki bertamu di rumah perempuan sampai malam,” ucap Papanya Vanessa.


“Iya gak Papa om, kalau begitu saya pamit terima kasih makan malamnya,” ucap Nathan.


“Iya A, lamun hoyong apel dei mah enjing we nya. (Iya ka, kalau mau malam mingguan lagi di lanjut besok saja)” Nathan hanya tersenyum menanggapi ucapan Papanya Vanessa yang tidak dia mengerti.


Sementara Vanessa menahan tawanya melihat Nathan yang terlihat kebingungan di buat oleh papanya.


***


Kali ini mah full ya translatenya jadi gak bikin kalian pusing 😁


Author mau berterimakasih pada readers semuanya yang sudah dukung author liwat Vote, seneng banget ada di rangking 500 hihi 😘


Makasih juga berkat doa kalian laptop author gak error lagi, gak perlu pinjem keyboard tetangga semoga bisa up dua bab lagi yah 💪

__ADS_1


Sampai jumpa di bab selanjutnya, jangan lupa dukung author terus yah ❤️😘


__ADS_2