Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 34 (Setitik Cahaya)


__ADS_3

Nathan berusaha menarik Vanessa ke tepi sungai namun selalu gagal, arus sungai itu semakin lama semakin mereda dan akhirnya Nathan bisa membawa Vanessa ketepian sungai. Nathan merebahkan tubuh Vanessa mencoba menekan-nekan dada Vanessa. Namun Vanessa tidak sadar juga, Nathan melihat ke sekeliling namun yang dia lihat hanya kegelapan, “Bagaimana ini?” tanya Nathan.


Berkali-kali Nathan melihat Vanessa yang masih tidak sadarkan diri, rasa ketakutan Vanessa akan pergi untuk selamanya membuat Nathan prustasi. Dia tidak tau apa yang harus Nathan lakukan ini di tengah hutan. 


Nathan pergi meninggalkan Vanessa untuk mencari bantuan, hanya itu satu-satunya harapan. Dia mencium kening Vanessa, “Tunggu aku, kamu pasti kuat,” ucap Nathan dengan satu tetes air mata yang turun di pipinya.


Nathan melihat setitik cahaya di tengah kegelapan, dia mencoba mendekati cahaya itu. Namun cahaya itu malah menjauh, “Aku harus mengejarnya,” Nathan berlari sekuat tenaganya. Dia melihat cahaya itu berasal dari obor yang di bawa oleh seseorang, “Bagaimana cara aku memberi kode pada orang itu, untuk menunjukan keberadaan Vanessa.” Nathan mencoba berpikir sambil terus berjalan mengikuti orang itu.


Orang yang membawa obor itu membalikan tubuhnya karena samar dia mendengar seperti ada yang berbicara belakangnya, “Lo,” ujar Agung sambil menunjuk Nathan.


Nathan senang bukan main karena ternyata orang itu adalah Agung, jadi dia tidak usah bersusah payah berinteraksi dengannya, Agung bisa melihat Nathan dengan jelas dan berkomunikasi dengannya. Nathan menarik tangan Agung dengan cepat agar mengikutinya.


“Ada apa?” tanya Agung penasaran.


“Vanessa pingsan di tepi sungai,” jawab Nathan tanpa menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Agung dengan cepat berlari menuju sungai, dia melihat tubuh Vanessa basah kuyup, dengan cepat Agung menggendong Vanessa untuk sampai ke rumah majikannya. Sementara Nathan hanya bisa mengekor di belakangnya dengan wajah setengah emosi. Dia tidak rela Vanessa di sentuh orang lain, tapi apa yang bisa dia lakukan dengan keadaan seperti ini kecuali dia kembali hidup. “Aku harus jadi manusia seutuhnya,” ujar Nathan yakin. 


Dia ingin menolong Vanessa saat sepeti ini, dia tidak ingin hal ini terjadi lagi, namun jika dia masih menjadi arwah seperti ini dia tidak akan pernah bisa menjaga Vanessa dalam keadaan apapun yang mengancam keselamatan Vanessa.


 ***


Agung merebahkan tubuh Vanessa di salah satu kamar tamu di rumah majikannya. Dia berjalan meninggalkan Vanessa untuk ke kamar Kevin, Kevin anak pertama dari Tuan Pasusanto pemilik rumah. Kebetulan Kevin adalah seorang dokter.


Perlahan Agung mengetuk pintu kamar Kevin, “Tuan,” panggil Agung.


“Tuan … saya menemukan salah satu teman saya tidak sadarkan diri di tepi sungai,” ucap Agung dengan kepala menunduk.


“Sekarang teman mu di mana?” Kevin kembali bertanya.


“Saya bawa dia ke kamar tamu Tuan.”

__ADS_1


“Tunggu sebentar,” setelah mengucapkan kalimat itu Kevin kembali ke kamarnya membawa perlengkapan untuk memeriksa pasiennya.


Melihat tuannya keluar dari kamar Agung mempersilahkan Tuannya untuk berjalan lebih dulu dan Agung mengekor di belakangnya.


Kevin menaikan satu alisnya melihat baju Vanessa yang terlihat berubah warna karena tanah, “Dia terbawa arus sungai?” 


Agung melirik sebentar pada Nathan, melihat anggukan kepala Nathan dengan cepat dia menjawab pertanyaan Tuannya, “Sepertinya iya Tuan, saya menemukannya dengan keadaan sudah seperti itu.”


Kevin mencoba meraba denyut nadi di tangan Vanessa, lalu mengarahkan stetoskopnya pada dada Vanessa, “Dia tidak apa-apa, suruh bi Darmi membersihkan tubuhnya.”


“Baik tuan.”


Nathan bernafas lega setelah mendengar ucapan Kevin, dia menemani Vanessa di sana saat Agung dan Kevin keluar. Tidak lama perempuan paru baya masuk dengan handuk dan baju di tangannya, Nathan memilih keluar saat Vanessa akan di bersihkan tubuhnya. Dia tidak mungkin berani melihat tubuh polos milik Vanessa.


Nathan duduk di sofa ruang tamu, menatap foto keluarga yang di cetak besar dengan bingkai mewah. Matanya menangkap sosok pria yang tersenyum menatap ke arah kamera. Nathan merasa tidak asing dengan sorot mata pria paruh baya itu, dia sepertinya pernah melihat kedua bola mata itu, “Di mana yah?” tanya Nathan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2