
selamat malam semuanya 😍
maaf kan author ya hari ini cuma bisa up satu bab aja.
mudah-mudahan besok santai bisa up lebih dari 1 bab.
selamat membaca 😘
***
“Di habiskan ya Kak sarapannya, kalau butuh apa-apa saya ada di belakang,” ucap Agung.
“Makasih,” Vanessa tersenyum pada Agung, melihat punggung Agung menghilang di balik pintu.
Vanessa meraih nampan yang ada di sampingnya, bubur di atas nampan terlihat menggugah selera Vanessa. Kebetulan dia lapar sekali karena belum menemukan makanan berat dari sore. Dengan lahap Vanessa memakan sarapannya.
Nathan memperhatikan Vanessa yang sedang menikmati sarapan paginya. “Kenapa?” tanya Vanessa yang merasa di perhatikan oleh Nathan. Namun Nathan hanya menggelengkan kepalanya dia belum siap untuk kehilangan pujaan hatinya.
Vanessa menghabiskan sarapannya dan membawa nampan itu keluar dari kamarnya. Vanessa di suguhkan ruang tamu yang luas dan mewah saat keluar dari kamarnya. Foto keluarga yang terpajang di sana menarik perhatian Vanessa, dia memperhatikan perempuan yang tampak cantik dengan dres merah muda yang di kenakannya. Tersenyum manis ke arah kamera, dan perempuan itu memiliki lesung pipi, “Cantik,” puji Vanessa.
Pria yang terlihat muda berdiri di samping Anatasya, rambut nya hitam rapi memiliki rahang yang tegas, senyumnya pun terlihat mempesona, perempuan mana pun pasti akan menyukai pria itu termasuk Vanessa. Namun keberadaan Nathan di sampingnya membuat Vanessa tersenyum, “Bisa-bisanya aku memuja pria lain, padahal di samping ku ada pria yang baru saja menyatakan cinta padaku …. Tapikan Nathan arwah kalau sampai pacaran berarti pacarku arwah gentayangan,” Vanessa terkekeh menyadari kebodohan dirinya.
“Kondisimu bagaimana?” tanya Vanessa teringat dengan Nathan yang masih koma.
“Tidak ada perubahan,” jawab Nathan dengan wajah datarnya.
__ADS_1
“Padahal belum lama kita saling menyatakan cinta, kenapa sikapnya sekarang begini?” pertanyaan itu muncul di benak Vanessa melihat sikap Nathan yang berubah-ubah.
Vanessa memperhatikan pria paruh baya di foto itu, “Mereka mirip sekali dengan Papanya,” batin Vanessa memperhatikan dengan seksama foto keluarga tersebut, “Tapi kok gak ada Ibunya yah?” Vanessa bertanya pada dirinya sendiri, “Ah tapi itu bukan urusanku,” ujar Vanessa acuh dan berjalan ke belakang untuk mencari Agung.
Langkah Vanessa terhenti seketika saat melihat Pria paruh baya tadi sedang menyuapi anaknya dengan telaten yang sedang di kursi roda. Dia terus memperhatikan gerak-gerik keduanya terlihat Papa Anatasya sangat menyayangi anaknya, bahkan Vanessa melihat Papa Anatasya membersihkan sudut bibir anaknya dengan lembut. Dia terharu melihat kasih sayang yang di berikan Pria paruh baya itu pada anaknya, ada rasa iri di hatinya Vanessa tidak pernah mendapat perhatian se intens itu dari Papanya.
Vanessa melanjutkan langkahnya sampai ke halaman belakang, melihat Agung yang sedang memotong rumput menggunakan mesin yang ia dorong. Masih dengan nampan di tangannya Vanessa menghampiri Agung, “Agung,” panggil panessa.
Agung menghentikan kegiatannya melirik pada seseorang yang memanggilnya. Ternyata Kak Vanessa yang memanggilnya, dia menghentikan aktivitasnya dan berjalan mendekati Vanessa, “Ada perlu apa kak?” tanya Agung.
“Ini di simpan di mana ya?” tanya Vanessa menunjukan nampan di tangannya.
Agung mengambil alih nampan itu dan berjalan masuk ke dalam dengan Vanessa yang mengekor di belakangnya, tidak jauh dari sana Agung membuka salah satu pintu di sana. Ternyata itu ruang makan lengkap dengan dapur di dalamnya.
“Ini vitamin, Tuan Kevin bilang untuk memulihkan badan kaka,” Agung meninggalkan Vanessa untuk mengambil Air.
Vanessa menerima satu gelas air yang di berikan Agung dan meminum satu butir vitamin. Rasa pahit dan bau dari obat itu membuat Vanessa ingin memuntahkannya kembali, namun dia coba untuk menahannya. “Tuan Kevin itu siapa?”
“Tuan Kevin itu anak pertama dari Tuan Pasusanto Wijaya, Tuan Kevin bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di ibu kota,dan kemarin yang memeriksa keadaan kaka Tuan Kevin sendiri,” Agung memberi tau Vanessa tentang majikannya.
“Aku ingin mengucapkan terimakasih padanya boleh?”
“Nanti saya sampaikan, soalnya pagi tadi Tuan Kevin sudah berangkat.”
Vanessa mencari sosok Nathan di ruangan itu tapi tidak ada. Vanessa jadi teringat Anatasya, “Aku boleh tanya sesuatu gak?”
__ADS_1
Agung menganggukan kepalanya sebagai jawaban, “Silahkan ka.”
“Tadi aku liat nona Anatasya itu duduk di kursi roda di suapi oleh Tuanmu, memangnya sakit apa?”
Vanessa melihat Agung yang terdiam sejenak, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.
“Nona Anatasya itu tidak sakit, hanya saja ….”
Vanessa menunggu ucapan Agung yang menggantung, jujur saja Vanessa penasaran sekali dengan nona Anatasya.
“Emm … sejak kejadian buruk yang menimpanya sikapnya berubah total. Nona itu orangnya baik, asik, cerewet namun sepertinya kejadian buruk itu menganggu mentalnya, nona menjadi orang yang pendiam tidak pernah berbicara dengan siapapun. Nona hanya duduk di kursi roda menatap jendela yang mengarah ke taman.”
Vanessa menangkap raut wajah sedih yang di tunjukan Agung saat menceritakan Anatasya. “Aku turun prihatin pada nona Anatasya atas kejadian buruk yang menimpanya.”
Agung berusaha tersenyum menanggapi ucapan Vanessa.
“Agung kayanya aku mau pamit pulang sekarang,” Vanessa teringat pada tujuannya ke pulau ini, dia harus mencari pembunuh Nathan secepatnya.
“Memangnya kaka sudah merasa baikan ?”
“Aku baik-baik aja kok,” ucap Vanessa yakin.
“Yaudah kalau gitu pamit dulu sama Tuan Pasusanto ya kak,” ujar Agung.
Vanessa menganggukan kepalanya dan berjalan mengikuti Agung. Mereka melewati kamar Anatasya, Vanessa melihat Nathan berdiri di depan kursi roda Anatasya, “Nathan sedang apa?” pertanyaan itu muncul di benak Vanessa yang melihat raut wajah penuh penyesalan milik Nathan.
__ADS_1