Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 44 (Papan Bunga)


__ADS_3

Selamat pagi semuanya 😊


Semangat mengawali hari senin 💪


Jangan lupa vote, like dan komentarnya 🤭


Terima kasih untuk kalian yang selalu mendukung author 😘


***


“Lo bilangkan kemungkinan hidupnya Nathan Cuma sepuluh persen?” tanya Putri.


Vanessa menganngukan kepalanya sebagai jawaban.


“Yaudah kita jenguk Nathan aja, supaya pasti dia udah sadar apa belom. Bagus kan ide gue,” ucap Putri bangga karena otaknya mengeluarkan ide brilian.


 “Iya sih bagus idenya, tapi masalahnya gue gak tau Nathan di rawat di rumah sakit mana. Nah sekarang gimana?” tanya Vanessa pada Putri.


“Yah elo tuh gimana sih, ciuman aja diduluin persoalan rumah sakit Nathan aja gak tau.”


“Nahkan lo mulai lagi bahas cium-ciuman!” Vanessa menatap Putri kesal, sahabatnya itu bukan membantu malah bahas soal ciuman.


“Gue masih gak nyangka aja lo ciuman sama arwah,” Putri menutupi mulutnya untuk menahan tawa, agar Vanessa tidak marah karena ucapannya.


“Udah ah skip, gak usah bahas itu lagi!”


Vanessa melihat dompet yang tergeletak di meja, dia jadi ingat sisa uang Nathan yang ada di ATMnya, “Tapi gue tau dimana rumah Nathan,” ucap Vanessa antusias.


“Yaudah kita ke sana yuk, gue penasaran sama muka si Nathan,” Putri semangat empat puluh lima, setampan apa Nathan itu sampai-sampai membuat Vanessa jatuh cinta. Padahal Putri tau betul Vanessa tidak pernah pacaran setelah Anton pergi dari dunia. Anton itu adalah pacar Vanessa saat pertama kali memakai baju putih abu, sayangnya Anton memiliki penyakit kanker otak dan dia pergi tepat saat kelulusan. Putri masih ingat bagaimana Vanessa terpuruknya satu tahun menjalani hidup tanpa semangat. Semoga saja kali ini Nathan tidak akan membuat sahabatnya patah hati, Putri berharap Nathan bisa membahagiakan Vanessa.


 ***

__ADS_1


Vanessa dan Putri mampir ke toko buah terlebih dahulu, tidak mungkin menjenguk orang sakit tapi tidak membawa apa-apa. Dan mereka keluar dari toko dengan satu keranjang buah yang di pegang Vanessa.


“Ini apa yah namanya, ngejenguk orang sakit bawain buah, tapi buahnya di beli pakai uang orang yang sakit haha,” tawa Putri menarik perhatian orang-orang sekitar.


“Berisik lo ah, malu-malu in gue aja,” Vanessa menyenggol lengan Putri agar temannya diam. Bukan tidak ingin membayar pakai uangnya, tapi semua uang di ATMnya adalah milik Nathan, Papanya Vanessa belum transfer lagi uang bulanan, “Otak cerdas, ingatkan aku untuk minta jatah bulanan pada Papa,” ucapnya di dalam hati.


Mereka memilih berjalan dari toko buah tadi Karena jaraknya tidak terlalu jauh dari perumahan Nathan.


“Eh gue masih penasaran soal hubungan lo sama Nathan,” ucap Putri sambil melirik Vanessa yang berjalan dengan santai.


“Males ah, ujung-ujungnya lo malah ngeledek gue lagi,” ketus Vanessa.


“Ini mah seriusan janji gak akan ngeledek lagi … janji.” Putri mengacungkan kelingkingnya.


Vanessa menghela nafasnya, “Gue gak tau hubungan gue sama Nathan tuh bisa di katakana pacaran atau tidak.”


“Loh memangnya kenapa?” 


Putri memperhatikan wajah Vanessa yang sedikit kesal, “Jadi maksud lo, lo di gantung kayak jemuran bau apek?”


Vanessa mendelik pada Putri rasanya dia sedang kehilangan kesabaran untuk menghadapi sahabatnya itu, “Gak usah bawa-bawa bau apek!”


Putri menepuk bibirnya, “Aduh ini moncong gak bisa di ajak kompromi Nes, sorry ya,” ucap Putri tidak enak.


“Di jaga makanya!”


“Iya nanti gue pake kawat gigi aja, biar gak lari-lari gigi gue,” Putri menaikan satu alisnya.


“Ah gue lagi males ngomong sama lo, bikin emosi mulu!” ketus Vanessa.


“Eh jangan dong, lanjut ceritanya. Beneran kali ini mah serius gue dengerin gak akan di potong.” Putri kesal pada dirinya karena mulutnya tidak tau kondisi jelas-jelas Vanessa sedang dalam mood gak baik malah di ajak ribut lagi.

__ADS_1


“Gue emang gak tau sih gaya pacaran jaman sekarang, soalnya Nathan tuh prontal banget cium gue meluk-meluk juga, kita juga pernah tidur bareng.” Vanessa melihat Putri yang membulatkan matanya terkejut, “Gak usah mikir aneh-aneh, Cuma tidur sambil pelukan doang,” ketus Vanessa.


Putri menghela nafasnya, “Hampir aja jantung gue copot, kalau bayangin Vanessa hamil anak arwah,” ucap Putri di dalam hatinya, kalau langsung keluar dari mulunya mungkin keranjang buah yang di pegang Vanessa bisa-bisa melayang ke kepalanya.


“Kalau keliatan dari mukanya, usia Nathan berapa?” tanya Putri.


“Kayanya tiga puluhan deh.”


“Iya pantes atuh da udah dewasa, makanya gak ada acara nembak pacar-pacaran. Umur segitu mah udah mateng buat nikah, kalau kita mah bocil pasti nunggu di tembak bukan di lamar.”


Vanessa diam, dia memikirkan ucapan Putri.


“Kalau lo di lamar sama Nathan gimana, mau?” tanya Putri, dia memang ingin menggoda Vanessa namun dia usahan wajahnya datar supaya Vanessa tidak curiga.


Tiba-tiba pipi Vanessa memanas saat membayangkan Nathan yang sedang berdiri di hadapannya membawa kotak cin-cin bagaikan drama film-film yang pernah dia tonton.


Putri ingin sekali tertawa melihat ekspresi Vanessa, namun dia tahan karena takut membangunkan macan tertidur, “Nes … Vanessa,” panggil Putri.


Vanessa menyingkirkan pikirannya gak jelasnya saat Putri memanggilnya, “Gue gak tau Put,” ucap Vanessa menunjukan deretan giginya.


“Eh malah senyum peps*dent,” sindir Putri. “Gak usah malu-malu kucing sama gue mah, tinggal jawab iya mau.”


“Ah udah ah, gak usah bahas hal yang gak pasti.”


Mereka berjalan sambil mengobrol tidak terasa hampir sampai, Vanessa mengrenyitkan dahinya melihat deretan mobil yang terparkir di halaman rumah Nathan, bahkan sampai membludak sampai ada yang parkir di pinggir jalan, “Eh Put di rumah Nathan ada acara apa yah, rame gitu?” tanya Vanessa dia menghentikan langkah kakinya.


Putri mengikuti arah pandang Vanessa, “Eh iya Nes rame gitu, ayo buruan.”  Karena penasaran Putri menarik tangan Vanessa, dengan tergesa-gesa menghampiri rumah Nathan.


Vanessa dan Putri menghenitkan langkah kakinya tepat di depan gerbang rumah Nathan. Nafas Vanessa tercekat melihat bunga papan bertuliskan ‘Turut Berduka cita, atas meninggalnya Tn.  Nathan’. 


Putri memperhatikan wajah terkejut milik Vanessa, di lihatnya keranjang buah yang Vanessa pegang jatuh ke tanah dengan buah yang berserakan. Putri berdecak, “Jika tau akan seperti ini, aku tidak akan membawa Vanessa ke sini,” ucapnya di dalam hati. Putri melihat mata Vanessa yang bekaca-kaca, dia memegang bahu Vanessa berusaha menguatkan sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2