
Vanessa mengerjapkan matanya, pipinya terasa panas saat mengingat ciuman panasnya dengan Nathan semalam. Vanessa tersenyum mengetahui fakta bahwa dirinya berciuman dengan arwah penasaran, “Astaga dulu gue sempet berpikir jadi kekasih nathan, meskipun kita udah berciuman, gue gak mungkin pacaran sama arwah Nathan,” pikir Vanessa.
“Udah ah halu mulu,” Vanessa bangkit dari tempat tidur dan berjalan kekamar mandi membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian Vanessa membuka pintu dan melihat Nathan yang berdiri menghadap jendela.
Nathan membalikan tubuhnya saat mendengar suara pintu yang terbuka, tersenyum kearah Vanessa, “Selamat pagi.”
“Selamat pagi kembali,” jawab Vanessa tersenyum manis pada Nathan, Vanessa berjalan menuju lemari dan mengambil pengering rambut.
Nathan memperhatikan Vanessa yang sedang mengeringkan rambutnya, rasanya Nathan ingin membantu Vanessa mengeringkan rambutnya, “Gue bisa nyentuh pengering rambutnya gak ya,” batin Nathan.
Nathan berjalan mendekati Vanessa, mencoba memegang tangan Vanessa yang sedang memegang pengering rambut, perlahan tangan Nathan turun dan berhenti di tangan Vanessa yang menggengam erat pengering rambut, dia menggerakan tangan Vanessa dan membantu Vanessa mengeringkan rambutnya.
Vanessa tersenyum melihat Nathan yang membantunya memegang pengering rambut, “Padahal aku bisa sendiri,” ujar Vanessa.
“Aku takut kamu lelah,” jawab Nathan asal dan tetap fokus mengeringkan rambut Vanessa.
“Lebay banget sih,” batin Vanessa, padahal di hatinya Vanessa merasa amat gembira melihat perhatian yang diberikan Nathan padanya.
“Udah,” Vanessa menyimpan pengering rambutnya ke tempat semula.
“Gak mau ngucapin terimakasih?” Nathan menaik-naikan satu alisnya.
__ADS_1
“Kenapa harus ngucapin terimakasih segala, gue gak minta lo bantu ko,” sindir Vanessa dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
“Sama-sama,” jawab Nathan sengaja memancing Vanessa.
Vanessa terkekeh mendengar ucapan konyol Nathan, “Segitu pengenya ya gue ngucapin terimakasih,” sindir Vanessa.
“Nes,” suara Putri yang memanggilnya di balik pintu.
Vanessa berjalan mendekati pintu dan membukanya, “Ini masih pagi, Put.”
“Hehe iya sih masih jam 7,” jawab Putri.
“Yaudah kita sarapan yuk,” ajak Vanessa.
Putri tersenyum menampilkan gigi putihnya, “Tapi lo yang teraktir yah.”
Putri tau vanesssa sedang menggodanya dengan menampakan wajah berpura-pura kesal padanya, “Lo kaya gak tau dompet gue aja.”
Sekarang Vanessa tersenyum mendengar jawaban sahabatnya, mengunci pintu lalu merangkul tangan Putri dan berjalan meninggalkan kosan.
“Sarapan bubur mang ucup aja ya.”
“Oke.”
__ADS_1
Sesampainya di depan kosan Vanessa dan Putri berjalan menghampiri gerobak bubur yang sering mangkal di sana.
“Mang bubur satu porsi yah, pake ati sama telor,” pesan Vanessa.
“Aku mah campur pokoknya Mang, mumpung geratisan,” Putri melirik Vanessa.
“Yaelah tuh wajah tanpa dosa banget,” sindir Vanessa.
***
Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka kembali ke kosan membawa perlengkapan Vanessa dan memesan taxi online untuk berangkat ke bandara.
Selama di perjalanan Vanessa dan Putri asik bergosip ria, “Yaelah cewe,” batin Nathan kesal mendengar ocehan perempuan yang duduk di belakang.
“Oh iya Nes, gue mau tanya?”
“Tanya apa?” Vanessa melirik Nathan yang duduk di kursi samping kemudi.
“Itu lo gak bakal kena masalah ngambil duit sebanyak itu?”
Melihat Nathan yang menggelengkan kepalanya Vanessa mengerti harus menjawab apa, “Aman ko ini uang tabungan Nathan,” jawab Vanessa berbohong, dia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya, apalagi ada sopir taxi yang mendengar pembicaraan mereka bisa gawat kalau Vanessa jujur.
“Banyak gak tabungan Nathan?” Vanessa menatap Putri kesal.
__ADS_1
“Nah kan, sifat keponya muncul,” sindir Vanessa.
“Gue kan Cuma pengen tau aja,” ujar Putri dengan bibir yang maju beberapa senti dari tempatnya.