
Pagi itu Vanessa sudah siap untuk pergi ke kampus, dia sedang berselancar di sosmed, tiba-tiba ada notif dari teman sekelasnya.
Bela : Nes lo di panggil dosen tampan loh, siang ini dia tunggu lo jam satu siang di ruangannya.
Vanessa mengrenyitkan dahinya, siapa dosen yang mencarinya padahal sudah jelaskan dia ambil cuti, “Ah tidak ada salahnya sekalian nyari Nathan,” pikirnya.
“Nes,” teriak Putri dari luar sambil mengetuk pintu.
Vanessa mengambil tasnya dan membuka pintu, “Ayo,” ucap Vanessa semangat dan berjalan. Namun tubuhnya berhenti seketika melihat sosok di sudut lorong.
“Kenapa?” tanya Putri melihat Vanessa yang malah diam saja.
“Put ini gue liat mahluk di sudut lorong,” ucap Vanessa gemetar.
Putri menggenggam tangan Vanessa, “Kalau lo takut merem aja, biar gue yang tuntun. Nih pakai kacamata gue,” Putri menyodorkan kaca mata hitam yang sudah di siapkanya.
“Ogah ah gue gak mau di sangka orang buta pake begituan,” ketus Vanessa.
“Emang lo gak malu kalau merem gak jelas gitu, terus gue tuntun sepanjang jalan seenggaknya kan kalau pakai ini terlihat gaya dikit hihi.”
“Yaudah sini,” ucap Vanessa pasrah, pada akhirnya dia memakai kaca mata hitam milik Putri.
__ADS_1
“Tuntun gue yang bener, awas sampe jatoh!” ucap Vanessa memperingatkan.
“Iya enggak bakal jatoh, nanti gue pelan-pelan nuntunnya,” ujar Putri meyakinkan Vanessa.
Vanessa dan Putri berjalan pelan-pelan banyak pasang mata yang memperhatikan tingkah aneh mereka. Rasanya Putri ingin naik taxi online saja, malu di liatin banyak orang gini mana masih jauh jaraknya untuk sampai kampus. Tapi sayang uangnya habis untuk naik taxi online kemarin dan bayar jasa Pak Andi.
Putri yang melamun tidak melihat ada lubang di jalan Vanessa, dia hanya bisa memejamkan matanya saat Vanessa teriak kesakitan.
Vanessa membuka matanya merasakan kakinya sakit, “Untung aja gak kena minuman coklat di depan,” lirih Vanessa. Dia berpikir siapa yang membuang minuman coklat sebanyak ini di tengah jalan, dia membuka kaca matanya. Vanessa tercekat tumpahan yang dia kira minuman coklatnya itu ternyata darah segar, “Aaaa darah,” ucap Vanessa langsung berdiri dan berlari.
“Mana darah?” tanya Putri. Dia melihat Vanessa yang lari dan tiba-tiba berhenti seketika. Putri khawatir saat melihat Vanessa berlutut sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.
Putri menyentuh bahu Vanessa, “Lo liat apa lagi Nes?” tanya Putri dengan nada khawatir.
Putri membantu Vanessa berdiri, “Lo tenangin diri lo yah, gue pesen taxi online dulu. Tapi gak papa lo yang bayar duit gue tinggal dua puluh ribu lagi soalnya.”
“Iya gak papa, pesen aja,” ucap vanessa pelan. Rasanya tenaganya habis terkuras karena jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya akibat rasa takut yang berlebihan.
Di dalam mobil Vanessa hanya menunduk memandangi kakinya, dia menghela nafasnya perlahan, “Sesulit ini untuk ketemu Nathan. Rasanya gue pingin nyerah aja Put,” lirih Vanessa.
“Lo sabar dulu, tenangin diri lo. Bentar lagi kita lewatin rumah kosong, lo liat dulu siapa tau ada Nathan di sana ... liat dulu Nes.”
__ADS_1
Vanessa memberanikan diri melihat ke jendela, rumah kosong itu tampak ramai Vanessa mencoba menghiraukan tatapan sinis dari mereka, dia berusaha mencari Nathan tapi tidak ada bahkan sampai mobil menjauh dari rumah itu Vanessa tidak menemukan Nathan sama sekali, “Gak ada Put,” ucap Vanessa sedih.
“Yaudah berarti tinggal kita cari di kampus, nanti di sana lo harus kuatin diri lo meski liat yang aneh-aneh atau hal yang mengerikan lo gak perlu takut ada tangan gue yang bisa lo remas-remas.” Putri mencoba menenangkan Vanessa.
“Eh btw tangan lo sakit gak dari semalem gue remas-remas terus, sorry ya,” Vanessa masih fokus melihat ke arah kakinya dia tidak berani melihat ke arah lain. Begitu banyak mahluk yang dia lihat setelah membuka mata batin nya. Rasanya dia ingin menyerah tetapi ini sudah setengah jalan, Vanessa berharap pengorbanannya ini tidak akan sia-sia.
Vanessa dan Putri turun di depan kampus, setelah memberikan uangnya pada supir Vanessa menundukan kepalanya. Dia berusaha mengatur nafasnya, “Gue pasti bisa! Tenang Vanessa mereka tidak akan menganggu lo kalau lo gak ganggu mereka,” ucap Vanessa meyakinkan dirinya sesuai ucapan Pak Andi tadi malam.
Vanessa manarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan di tatapnya gerbang kampus yang menjulang tinggi. Vanessa mencoba mengabaikan sosok-sosok yang di lihatnnya, dengan langkah yakinnya Vanessa berjalan mendahului Putri untuk masuk ke kampus.
Putri tersenyum melihat Vanessa yang berjalan dengan langkah beraninya memasuki kampus, dia berlari mendekati Vanessa dan mensejajarkan langkahnya dengan Vanessa. Meskipun masih terlihat raut wajah ketakutan yang nampak di wajah pucat Vanessa, tapi sahabatnya berusaha menepis rasa takutnya.
Langkah Putri terhenti saat melihat Vanessa yang menghentikan langkahnya dan memeluk pria yang berada di hadapan Vanessa.
“Aku merindukanmu Nathan,” ucap Vanessa penuh rasa haru bersamaan dengan meluncurnya air mata yang tidak bisa dia bendung lagi.
“Apa Nathan? ... ini kok gue jadi bisa liat hantu Nathan juga. Eh tapikan mata batin gue gak di buka, tapi kok gue bisa liat Nathan ya?” berbagai pertanyaan muncul di benak Putri saat melihat Vanessa memeluk erat pria yang dia panggil Nathan.
***
Eh Nathan udah muncul, ini Putri yang bisa liat Nathan atau Nathan nya udah sembuh yah ?
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komentarnya ya teman-teman. Maafkan author jika tidak bisa membuat kalian tegang dan merasa ketakutan, author kurang berbakat di bidang cerita horor kayaknya.
Sampai jumpa di bab selanjutnya ❤️