
“Sebentar ya Kak saya pamit dulu sama Ibu saya,” Vanessa melihat Agung yang masuk ke dalam pintu di tempat makan itu.
Tidak lama Agung keluar dengan perempuan tadi yang menyajikan makanan Vanessa. Vanessa memperhatikan Agung yang menggedong tas cukup besar, “Saya pergi dulu ya Bu,” pamit Agung.
Vanessa berdiri mengeluarkan uang untuk membayar makannya, dan berjalan beriringan dengan Agung di tepi pantai.
Vanessa menatap takjub pada deretan perahu yang tersusun rapi disana, "Ayo naik," ajak Agung.
Vanessa melihat Agung yang naik ke salah satu perahu di sana, mendengar ajakan Agung Vanessa mendekati perahu, menerima uluran tangan Agung untuk membantunya naik ke atas perahu.
Hati Nathan memanas melihat tangan Vanessa dan Agung berpegang, sejatinya Nathan adalah orang pencemburu.
"Lepas!" ucap Nathan dingin.
Vanessa mengalihkan perhatian nya pada Nathan yang tiba-tiba berucap dengan nada dinginnya, "Ada apa sih dengan Nathan, tidak biasanya dia seperti ini," gumam Vanessa di dalam hatinya.
Vanessa menarik tangannya dan melepaskan tas yang sedang di gendong nya.
"Simpan di sini aja kak," ujar Agung menunjuk salah satu kursi.
Vanessa mengikutiku ucapan Agung menyimpan tas nya di sana.
"Kenalkan kak ini pak Budi."
__ADS_1
Vanessa tersenyum ramah pada pria paruh baya yang di kenalkan oleh Agung.
"Vanessa," ucap Vanessa ramah.
Pak Budi tersenyum ramah pada Vanessa, "Sendirian?"
"Iya Pak, saya sendirian," ucap Vanessa.
"Ini Pak, Vanessa ada kerjaan," Agung mencoba menjelaskan pada Pak Budi.
"Iya betul Pak saya ada kerjaan," jawab Vanessa.
"Semoga betah di pulau itu ya," Vanessa hanya menanggapi ucapan Pak Budi dengan senyuman.
Vanessa berbincang dengan Agung, Agung menceritakan kisah hidupnya yang putus sekolah karena tidak ada biaya, memilih bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya, apalagi setelah Bapaknya meninggal Agung yang anak pertama harus membantu membiayai kedua adiknya yang masih bersekolah. Agung bekerja di salah satu vila di pulau itu, dia sudah bekerja di sana selama 4 tahun.
"Ikut saya mbak," ujar Agung mengajak Vanessa.
Vanessa melihat Agung yang duduk di depan perahu, memandang laut biru di depannya.
Vanessa mendekati Agung dan berdiri di sampingnya, merasakan terpaan Angin yang cukup kencang pada tubuhnya.
Nathan tersenyum melihat rambut Vanessa berterbangan kesana-kemari karena terpaan angin, memeluk tubuh Vanessa dari belakang.
__ADS_1
Vanessa tersenyum melihat tangan Nathan yang melingkar di pinggangnya.
"Aku kedalam dulu ya ka, silahkan menikmati keindahan laut," Agung tersenyuman pada Vanessa dan berjalan meninggalkan Vanessa.
"Apa Lo bakal ngelakuin hal yang sama, kalau Agung bisa liat Lo?" tanya Vanessa.
"Dia bisa melihat ku, makanya dia pergi saat aku memelukmu," Vanessa malah tersenyum mendengar ucapan Nathan yang merubah panggilannya menjadi 'aku kamu'.
"Apa Agung seorang indigo?" tanya Vanessa penasaran.
"Sepertinya iya," jawab Nathan santai dan mengecup pipi Vanessa.
"Kamu tau gak?" tanya Vanessa.
"Tau apa?" Nathan yang tidak mengerti mencoba balik bertanya.
"Ini perjalanan yang paling aku sukai, apalagi ada kamu," kali ini Vanessa mencoba menggombal.
Nathan malah tertawa mendengar ucapan receh Vanessa, "Berlebihan!" rasanya Nathan enggan untuk melepaskan pelukannya, dia tidak ingin moment ini berakhir lebih cepat.
Perasaan Vanessa tidak karuan, rasanya dia seperti jatuh cinta untuk yang kedua kalinya setelah kepergian Agio, mantan kekasih Vanessa saat di bangku sekolah.
Agung terus memperhatikan Vanessa yang sedang berpelukan dengan mahluk tak kasat mata, "Seperti apa hubungan mereka?" tanya Agung di dalam hatinya.
Agung rasa Vanessa memiliki hubungan khusus dengan pria itu, awalnya Agung tertarik melihat Vanessa yang turun dari taxi dengan mahluk tak kasat mata terus mengikutinya, Agung semakin penasaran melihat Vanessa yang berinteraksi dengan mahluk itu, makanya Agung mencoba memberanikan diri untuk duduk di hadapan Vanessa.
__ADS_1