Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 84 (Memilikimu)


__ADS_3

Acara pemakaman sore itu berjalan sebagaimana mestinya, tangis haru menyelimuti rasa sedih pada hati setiap orang yang merasa di tinggalkan.


Suara isak tangis yang keluar seakan menggambarkan rasa kesedihan yang di tinggalkan oleh orang yang tersayang. Gundukan tanah dengan bunga berwarna warni terlihat indah, menghiasi makam Vanessa.


Putri tidak henti-hentinya menghapus air mata yang turun membasahi pipinya, “Semoga kamu tenang di sana ya Nes, maafin gue gak bisa jadi sahabat yang baik buat lo,” lirih Putri sebelum meninggalkan area pemakaman.


“Saya gak tau akan secepat ini kamu pergi meninggalkan kami, kamu murid satu-satunya yang saya miliki. Semoga kamu bahagia di sisi tuhan,” batin Niko.


“Teh, naha di buru-buru pergi atuh. Ade masih butuh teteh sebagai ibu kedua ade, ade gak punya ibu lagi yang bakal masak enak buat ade. Ade pengen di masakin teteh lagi, maafin ade sering bikin teteh kesel, cape, repot sama permintaan ade yang banyak maunya. Ade sayang teteh, teteh yang tenang di sana yah ade akan selalu doain teteh,” ucap Riko di hatinya, dia menghapus air matanya. Kehilangan seorang ibu adalah hal yang berat baginya, tetapi kehilangan seorang kaka sekaligus ibu hal yang paling sulit baginya untuk mencoba mengikhlaskannya.


Papa duduk tepat di samping nisan Vanessa, “Teh maafin papa gak bisa perjuangin hidup teteh, Maaf kalau papa ngecewain teteh. Selama ini papa Cuma bisa menyusahkan teteh, teteh harus ngerus kerjaan rumah dan jagain ade selama papa kerja. Maafin papa yang belum bisa ngebahagian teteh,” papa menangis tergugu, dadanya sesak oleh rasa penyesalan yang mendalam karena tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk putrinya.


 Papa menepuk pundak Nathan yang sedang menundukan kepalanya menatap nisan istrinya, “Papa pulang duluan ya a, aa harus ikhlas biarin teteh tenang di sana,” ucap papa sebelum meninggalkan area pemakaman.

__ADS_1


Flashback


Nathan menangis dalam diam di samping Vanessa sambil mencium tangan istrinya, “Aku gak bisa biarin kamu pergi sayang,” lirih Nathan.


Papa berjalan mendekati menantunya, “Aa,” panggil papa. Papa hanya bisa menghela nafasnya melihat punggung Nathan yang bergertar, hatinya semakin sakit melihat menantunya menangis dalam diam.


“Kita akhiri semuanya a. kesian teteh … ini udah satu bulan teteh di dunia tanpa kesadaran, teteh pasti ngerasain sakit. Teteh gak bisa pergi kealam selanjutnya kalau kita terus mengurungnya di sini tanpa kepastian. Bukan Cuma aa yang sakit, teteh dan papa juga sama sakit. Papa gak bisa liat kondisi teteh seperti ini terus, papa juga gak bisa liat aa terus-terusan terpuruk seperti ini … aa menunggu keajaiban tuhan? Bagaimana kalau ternyata ini memang takdir yang tuhan gariskan untuk teteh. Papa mohon ikhlaskan teteh a biarkan teteh tenang,” ucap papa Vanessa. Berat sebenarnya menguatkan menantunya sementara dirinya sendiri pun tidak ikhlas jika harus kehilangan putri kesayangannya, tapi bagaimana lagi papa merasa sudah cukup satu bulan menunggu kondisi anaknya yang tidak mengalami perubahan. Kalau saja masih memiliki harta berlimah papa pasti bakal bawa Vanessa ke luar negri meskipun kemungkinan hidupnya hanya lima persen. Bukan tidak ingin memanfaatkan harta menantunya tapi papa merasa tidak enak hati pada keluarga Nathan yang terus menerus membantu membayar pengobatan Vanessa. Papa tidak ingin melihat Nathan lebih kecewa lagi jika harus kehilangan Vanessa.


“Kalau nanti kamu pergi aku ikut yah,” ucap Nathan di sela tangisnya.


Vanessa memejamkan matanya, hatinya sakit melihat Nathan menangis apalagi ucapan yang keluar dari mulutnya terdengar prustasi, “Jangan sayang,” ucap Vanessa sambil terisak.


Entah kenapa ucapan penyanyi di café tadi muncul di benaknya, “Apa aku harus mengikhlaskan kamu pergi?” tanya Nathan.

__ADS_1


Vanessa tidak tau harus berbuat apa, dia tidak ingin pergi dari Nathan tetapi keadaannya pun sekarang tidak ada gunanya Nathan tidak bisa melihatnya, “Lalu untuk apa aku di sini tuhan, kalau kau mau ambil nyawaku ambil jangan menggantungnya seperti ini,” ucap Vanessa.


Vanessa berjalan mendekati Nathan, di usapnya rambut pria yang dia cintai, “Kamu berhak bahagia sayang, biarkan aku pergi … aku ikhlas.”


Nathan memandangi wajah Vanessa, entah kenapa hatinya seperti mendengar ucapan Vanessa yang menyuruhnya untuk mengikhlaskan kepergiannya. “Aku tidak akan pernah bisa kehilanganmu, tapi jika kamu merasakan sakit seperti apa yang papa katakana … aku akan membiarkanmu pergi.” Nathan menghapus air matanya dia berjalan menuju mertuanya.


“Aku ikhlas pa,” ucap Nathan dengan satu butir bening yang keluar dari pelupuk matanya.


“Sebentar lagi aku akan memilikimu seutuhnya,” ucap mahluk yang berdiri di samping Vanessa dengan senyum sinisnya.


***


Abang Nathan yang sabar yah, author juga gak tega, readrs juga gak pingin Vanessa pergi, tapi outline sudah menetapkan dan berkehendak author gak bisa apa-apa

__ADS_1


__ADS_2