Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 55 (Pulang Kampung)


__ADS_3

Halo semuanya ☺️


Kebetulan dapet pinjeman keyboard nih jadi bisa up.


Author minta saran dari kalian dong untuk visualnya kalian pingin siapa ? sebutkan namanya di kolom komentar ya, author tunggu.


Jangan lupa dukung author ya ❤️😘


Selamat membaca ☺️


 ***


Malam itu Vanessa memasuki area kosan dengan perassan senang yang tampak dari bibirnya yang tampak tersenyum. Putri yang sedang menunggu Vanessa di depan kosan bersiap menggoda temannya, “Gimana udah peluk ciumnya?”


Senyum Vanessa langsung memudar di gantikan bibir cemberutnya, “Lo mah apaan sih!”


“Jadi udah belum?” tanya Putri kembali.


“Gue gak ciuman,” jawab Vanessa santai dan masuk ke kamarnya.


Putri mengekor dari belakang, “Oh berarti pelukan? … atau jangan-jangan kalian anu,” ucap Putri dan menutup mulutnya.


Vanessa melemparkan bantal pada tubuh Putri, “Sembarangan aja kalo ngomong,” ketus Vanessa.


“Hehehe kirain,” Putri hanya menampilkan deretan gigi putihnya.


“Ya kali bisa-bisa gue dicoret dari kartu keluarga sama Papa,” ucap Vanessa.


“Ya kan nanti bikin kartu keluarga sama Nathan,” lagi-lagi Putri menggoda Vanessa.


Vanessa melemparkan tatapan tajamnya, dia kesal pada Putri yang terus menggodanya.


“Jadi gak mau Nikah sama Nathan? … kalau gak mau buat gue aja, gue siap punya dua suami.”


“Jangan! gue juga mau,” ucap Vanessa cepat.


Putri langsung tertawa terbahak-bahak melihat Vanessa yang mengakui keinginannya, “Haha makanya jangan so jual mahal.”


“Ah udah sana pergi, berisik lo ah.” Vanessa mendorong Putri agar keluar dari kamarnya.


“Btw gue cocok gak sama Pak Niko?”


“Cocok-cocok, udah ah sana pergi,” Vanessa masih ingin mengusir Putri.

__ADS_1


“Nanti bantuin gue deket sama pa Niko ya please,” ucap Putri memohon.


“Iya,” jawab Vanessa singkat dan menutup pintu kamarnya.


Vanessa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia menutup matanya. Namun kali ini tidak ada bayangan Nathan lagi, Vanessa membuka matanya dan tersenyum mengingat pertemuan dengan Nathan tadi, “Tadi muka gue kaya gimana yah pas liat Nathan dan Pak Niko ada di depan pintu,” Vanessa menutup muka dengan kedua tangannya, “Astaga pasti cengo banget muka gue”


 ***


Vanessa terbangun dari tidurnya, dilihat jam ding-ding yang menggantung di kamarnya menunjukan pukul empat pagi. Terdengar notifikasi di ponselnya, tenyata adiknya Riko mengirim pesan sepagi ini hanya untuk menanyakan kepulangannya, “Astaga gue lupa hari ini kan gue janji mau pulang.”


Dengan tergesa Vanessa membereskan beberapa barang miliknya, dia tidak ingin terlalu siang sampai di Bandung. Jam enam pagi Vanessa sudah siap untuk berangkat, Vanessa hanya membawa tas gendong.


Mendengar pintunya di ketuk Putri membuka pintu dan menatap Vanessa yang sudah tampak rapih menggunakan jaket dan sepatu dan yang menarik perhatiannya adalah tas yang di gendong Vanessa, “Mau kemana lo?” tanya Putri dengan suara khas bangun tidur.


“Perawan baru bangun ih,” sindir Vanessa.


“Ya gak papa ini di ibukota bukan di kampung, tidak berlaku aturan seperti itu,” jawab Putri santai.


“Gue titip kunci kosan yah … mau pulang dulu ke Bandung,” ucap Vanessa sambil menyerahkan kunci kamarnya.


Putri mengucek matanya dan menerima kunci yang di berikan Vanessa, “Lo hati-hati di jalan yah.”


“Hmmm,” Vanessa hanya menjawab dengan deheman.


“Iya nanti gue kasih oleh-olehnya Pak Niko,” ketus Vanessa. “Udah ah gue berangkat dulu,” Vanessa melangkahkan kakinya meninggalkan kosan dan berjalan ke terminal.


 ***


Pukul sepuluh siang Vanessa sampai di bandung, rumahnya tidak terlalu jauh dari terminal . Vanessa memilih berjalan kaki. Sesampainya halaman rumah Vanessa memperhatikan motor yang di pakai Papanya kemarin dan mobil yang terparkir di rumahnya, “Ada satu taun gue gak pulang, kangen juga,” gumam Vanessa.


Perlahan Vanessa membuka pintu rumahnya, “Papah, Riko, Vanessa pulang nih,” ucap Vanessa setengah berteriak. Namun ruang keluarganya terlihat kosong, Vanessa berjalan ke dapur, “Papa,” panggil Vanessa kembali.


“Ada apa teh?” 


Vanessa membalikan tubuhnya mendengar suara adiknya, “Papa mana?” tanya Vanessa.


“Lagi keluar,” jawab Riko.


“Tumben hari minggu ada di rumah biasanya juga keluyuran?” tanya Vanessa.


“Kan di suruh Papa tungguin rumah bisi teteh pulang nanti siapa yang buka pintu kalau teteh pulang.” Riko berjalan ke kamar mandi.


“Apaan teteh barusan buka pintu sendiri,” ketus Vanessa.

__ADS_1


“Kalau gak ada aku pintunya pasti di kunci dan teteh gak bakal bisa masuk,” jawab Riko setengah berteriak dari dalam kamar mandi.


Malas meladeni adiknya Vanessa lebih memilih berjalan ke lantai dua menuju kamarnya. Kamarnya masih tampak rapi, dan sama seperti dulu tidak ada yang berubah. Vanessa melepaskan tas dan jaket, di raihnya gitar miliknya. Baru memetik beberapa senar, tubuh adiknya muncul dari balik pintu. “Apa?”


“Katanya mau bantuin aku bikin laporan,” Riko merebut gitar yang di pegang Vanessa.


“Ya nanti atuh baru juga sampe, bukannya di sambut, di kasih minum sama cemilan ini mah malah di suruh ngerjain laporan,” ucap Vanessa ketus.


“Mepet atuh teteh nanti sore aku mau setor soalnya.”


Dengan malas Vanessa bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamarnya, “Teteh tunggu di bawah.”


Tidak lama Riko berjalan menghampiri Vanessa yang sedang selonjoran di karpet dengan camilan di tangannya. 


“Teteh sekalian ketikin ini yah, yang udah aku kasih stabilo,” ucap Riko dan menyerahkan laptop beserta beberapa buku.


“Apaan ini mah jadi teteh yang ngerjain,” protes Vanessa tidak terima di suruh-suruh oleh adiknya.


“Gak papa atuh teh, nanti aku sediain sajennya buat teteh yah,” Riko berusaha membujuk kakanya.


“Sajennya mau seblak, kue cubit, sama minum yang seger-seger, sama batagor yah,” merasa di atas angin Vanessa sekalian meminta semua keinginannya, kebetulan perutnya kelaparan karena hanya makan roti tadi pagi.


“Ah rugi atuh! Udah seblak aja sama minum yang seger,” ucap Riko.


“Kamu mah perhitungan sama kaka sendiri juga,” Vanessa menyalakan laptop milik adiknya.


“Habis atuh uang jajan aku ari teteh.”


“Pacar aja banyak, isi dompet tipis,” sindir Vanessa. Dia mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompetnya, “Harus kembalian ah, empat puluh lima ribu,” Vanessa menaikan satu alisnya mengikuti gaya Nathan saat menggodanya.


Riko mendorong tangan Vanessa yang menyodorkan uangnya,”Gak usah ah kalau lima ribu mah, percuma.”


“Oke terimakasih dede ku tersayang.”


Riko berjalan meninggalkan Vanessa tanpa menjawab ucapan yang sangat menyebalkan di telinganya.


Setelah melihat kepergian Riko ponsel yang di simpannya dekat laptop berbunyi. Di lihatnya oleh Vanessa ternyata ada pesan masuk dari nomor baru. “Kamu di mana?” Vanessa membaca isi pesannya. Dengan cepat Vanessa membalasnya, “Ini siapa?”


Tidak lama ada balasan dari nomor tersebut, “Nathan, kamu di mana aku di kosan?”


“Aku kira siapa, aku lagi di bandung?” jawab Vanessa.


Vanessa menatap layar ponselnya menunggu balasan dari Nathan, namun sampai layarnya berubah menjadi gelap pun, tidak ada bunyi notifikasi pesan masuk.

__ADS_1


__ADS_2