
Vanessa mengerjapkan matanya mengedarkan pandangannya. mencoba bangkit dari posisi tidurnya.
Menatap setiap penjuru kamar hotelnya, Vanessa berdiri berjalan ke arah pintu transparan di hadapannya. senyum Vanessa mengembang merasakan semilir angin yang menerpa tubuhnya.
Dia cukup lama berdiri di sana, merasakan pegal di kakinya. Vanessa memilih duduk dan membuka seluruh isi tasnya. menyimpan nya pada lemari yang tersedia di kamar itu.
Waktu berlalu begitu cepat, Vanessa melirik jam yang menggantung di dinding kamar penginapannya, "Puku 5 sore," Vanessa bergegas mandi dan keluar dari penginapan menuju pantai.
Langit sore itu nampak indah, Vanessa menikmati moments yang baru dia rasakan. untuk pertama kalinya melihat langit biru berwarna ke emasan dari senja sore itu.
Senyumnya mengembang saat merasakan seseorang memeluknya, hatinya berdetak lebih kencang dari biasanya, "Kenapa dia selalu memeluku seperti ini?" pertanyaan itu muncul di benak Vanessa.
"Rambut mu bau," ejek Nathan seraya melepaskan pelukannya.
"Bau bagaimana tadi pagi kan aku habis keramas, kalau-kalau kamu lupa tadi kamu sendiri yang membantuku mengerikan rambut."
Terdengar jelas ucapan kesal Vanessa, yang semakin membuat Nathan senang melihat wajah kesalnya.
__ADS_1
"Sudah sana pergi jangan menggangguku, aku sedang menikmati liburanku!" ucap Vanessa kesal, melihat Nathan yang masih diam di sampingnya membuat Vanessa ingin memeluk Nathan.
Entah keberanian dari mana Vanessa tanpa rasa canggung memeluk Nathan. Membenamkan wajahnya di dada bidang Nathan.
Tidak terdengar suara detak jantung Nathan membuat wajah Vanessa nampak terkejut.
Melihat Vanessa yang tiba-tiba melepaskan pelukannya dengan wajah terkejutnya membuat rasa penasaran Nathan, "Kamu kenapa?" tanya Nathan.
"Ka-kamu sudah mati? a-a-aku tidak mendengar suara detak jantungmu."
Nathan tertawa mendengar ucapan Vanessa yang terlihat gugup, "Kamu ini bodoh atau apa jelas-jelas aku arwah, mana mungkin aku punya detak jantung."
Vanessa menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sedikitpun, merasa bodoh karena pikirannya sendiri, "Kenapa aku tidak ingat, memalukan sekali," batin Vanessa resah.
Vanessa tidak merasa risih dengan Nathan yang selalu memeluknya, meskipun dia harus mencoba menormalkan detak jantungnya setiap Nathan memeluknya tiba-tiba.
"Oh iya, kapan kita mulai ke lokasi pembunuhan?" tanya Vanessa setengah berbisik, dia takut ada orang yang mendengarnya.
"Besok pagi kita berangkat," jawab Nathan tanpa melepaskan pelukannya.
"Kenapa tidak malam ini saja?"
__ADS_1
"Memangnya kamu berani jalan di tengah hutan sendirian?" tanya Nathan sambil menatap mata Vanessa.
Nathan tertawa kecil melihat wajah ketakutan Vanessa.
Vanessa bergidik ngeri membayangkan ucapan Nathan, "Badan ku lelah, sepertinya besok pagi saja," ujar Vanessa memberi mengubah raut wajahnya agar terlihat kelelahan.
"Alasan," cibir Nathan.
Vanessa diam tidak menyangkal ucapan Nathan, karena dia rasa percuma berdebat dengan Nathan jelas-jelas ucapan Nathan benar, Vanessa memang hanya beralasan.
"Makan sana!" perintah Nathan.
"Aku belum lapar," ujar Vanessa.
Nathan membelai pipi Vanessa, "Tapi perut mu perlu di isi, kamu belum makan dari siang."
Melihat sikap lembut Nathan membuat hati Vanessa meleleh dengan perhatian yang Nathan berikan kepadanya.
"Tapi temani yah," pinta Vanessa dengan wajah memohon.
Nathan merangkul bahu Vanessa, berjalan beriringan untuk sampai di penginapan.
__ADS_1
Vanessa dan Nathan duduk di salah satu meja yang di sediakan penginapan. Nampak langit mulai gelap, bintang bertaburan menghiasi indahnya malam itu, menambah kesan romantis untuk dua insan di bawah sana yang sedang menikmati makan malam mereka.