
Satu minggu berlalu, keadaan Vanessa masih sama dia koma dan belum sadarkan diri. Seperti hari sebelum-sebelumnya Nathan hanya duduk menggengam tangan Vanessa. Wajah istrinya masih sama, pucat pasi, “Kamu kapan bangun sayang?” ucap Nathan lirih.
Niko berjalan menghampiri adiknya, “Lo makan dulu biar gue yang jagain istrilo,” ucap Niko sambil menepuk pundak adiknya.
“Kalau Vanessa sadar langsung telpon gue yah,” pinta Nathan sebelum beranjak dan mencium kening istrinya.
Niko hanya menganggukan kepalanya, kata itu yang selalu di ucapkan Nathan setiap dia akan pergi meninggalkan istrinya. Niko merasa prihatin pada adiknya, Niko bukan tidak tau jika Nathan meneteskan air matanya saat merasa marah pada dirinya karena kecererobohannya Vanessa koma akibat benturan di kepalanya.
Nathan keluar dengan langkah berat meninggalkan istrinya, ada rasa khawatir yang menyelimuti hatinya. Tetapi perutnya belum di isi sama sekali dan matahari sudah berada di atas, Nathan memang sudah biasa melewatkan sarapannya jika Niko belum datang untuk menjaga Vanessa. Dia tidak tega meninggalkan Vanessa sendirian.
Mertuanya hanya bisa satu minggu sekali menjenguk Vanessa karena pekerjaan, papanya Vanessa tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ada Riko yang membutuhkan biaya untuk membayar sekolahnya. Sementara mami setiap hari ke sini untuk menjaga Vanessa saat Nathan istirahat atau mengambil pakaiannya. Dia sudah tidak memperdulikan pekerjaannya lagi, Nathan Cuma ingin fokus menjaga Vanessa.
Setelah sampai di kantin rumah sakit Nathan memsan menu makanan dan memilih tempat di pojokan. Selama dia makan Nathan merasakan ada seseorang yang memperhatikannya. Wanita yang terhalang dua meja di depannya tertangkap basah sedang memperhatikannya. Nathan mencoba mengacuhkannya dan tidak memperdulikan wanita itu, dia fokus menghabiskan makannanya agar bisa pergi dari sana.
__ADS_1
Wanita yang duduk sendirian melihat sesuatu yang menarik perhatiaannya, yaitu pria dingin yang terlihat fokus pada makanannya. Namun yang lebih menarik baginya adalah sepasang mahluk yang berada di antara pria itu. yang pertama adalah mahluk memiliki perawakan seperti laki-laki memancarkan cahaya berwarna merah dan yang kedua adalah seorang wanita yang tampak memiliki luka di kepalanya. Wanita itu seperti ingin berinteraksi dari pria itu, wanita itu seperti berusaha menggenggam tangan pria yang sedang fokus pada makanannya. Wanita itu seperti berusaha memegang sendok yang ada di piring, seperti ingin memberikan tanda bahwa ada dia di sampingnya, “Mereka siapa?” pikir wanita yang dari tadi memperhatikan Nathan.
Setelah menyelesaikan makanannya Nathan buru-buru pergi dari sana, dia merasa sangat risih pada wanita yang terus memperhatikannya tanpa rasa malu.
Nathan kembali ke ruangan Vanessa,di lihatnya Niko yang sedang fokus pada layar ponselnya. “Gue udah selesai, abang boleh ke kantor lagi,” ujar Nathan sambil kembali duduk di kursi samping tempat tidur Vanessa.
Niko memasukan ponselnya ke saku kemejanya, “Lo kapan masuk lagi ke kantor, gue udah puyeng mikirin kerjaan lo yang numpuk,” jawab Niko.
“Nanti ya bang kalau keadaan Vanessa membaik,” ucap Nathan sambil memperhatikan wajah Vanessa.
Nathan menatap wajah Vanessa, “Sayang ruh mu sekarang dimana? Aku gak bisa lihat kamu,” ucap Nathan sambil mencium tangan Vanessa.
Nathan tidak bisa melihat ruh Vanessa yang meneteskan air matanya, “Aku di sini,” lirih Vanessa.
__ADS_1
“Harusnya kita membatalkan pernikahan ini dari awal, aku gak bisa kehilanganmu sayang,” ungkap Nathan. Ada sesuatu yang mendesak di sudut matanya, ingin keluar tapi Nathan mencoba menahannya.
Rasa penyesalan itu muncul di kala melihat kondisi istrinya yang terbaring lemah, selang infuse di tangannya serta selang oksigen di hidungna menambah rasa bersalah di hati Nathan, “Kenapa sekarang aku yang ceroboh mendorongmu dengan sangat kuat hingga mengakibatkan kepalamu terbentur, aku tidak becus menjagamu, maafkan aku.” Pertahanan Nathan runtuh, air matanya mengalir begitu saja di pipinya.
Vanessa yang melihat itu membuatnya ikut merasakan sakit yang di rasakan oleh suaminya, “Ini bukan salahmu sayang, mahluk itu yang sengaja ingin membunuhku dia pandai sekali dalam mencari celah,” ucap Vanessa sambil berusaha memeluk tubuh suaminya yang tidak bisa dia sentuh.
“Harusnya aku tetap pada pendirianku untuk membatalkan pernikahan ini, tapi aku tidak bisa melihat mu menangis karena merasa sakit hati dengan sikap kekanak-kanakan ku … tapi dengan keadaanmu sekarang aku tidak bisa berbuat apa-apa, sayang tolong berikan petunjuk keberadaanmu? Supaya aku bisa membantumu untuk kembali ke ragamu dan kita bisa bersama-sama lagi,” ucap Nathan dia tidak henti-hentinya mencium punggung tangan Vanessa.
Melihat Nathan menangis membuat Vanessa tidak tega pada suaminya yang terus menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga Vanessa. “Aku bahagia bisa menikah denganmu sayang, meski harus berakhir seperti ini,” jawab Vanessa. Tubuhnya terasa lemas, dia terduduk tepat di bawah kaki Nathan. Dia menangis mengeluarkan rasa sakit di hatinya, dia tidak bisa masuk kembali ke raganya.
***
Nanti siang author up lagi ya, pagi ini keburu bangun si kecilnya 😅
__ADS_1
sampai jumpa di bab selanjutnya, jangan lupa dukung author terus yah ❤️