
Setelah dari ruangan Nathan Vanessa kembali ke kubikelnya, senyumnya tidak pernah pudar setelah bertemu dengan Nathan. Rasanya terlalu campur aduk, dia senang karena Nathan melamarnya, sekaligus bingung dia tidak pernah membayangkan pernikahan yang akan di jalaninnya. Kalau memikirkan acara pernikahannya memang mudah, hanya duduk di pelaminan dengan gaun pengantin. Tapi kelanjutannya Vanessa tidak tau.
Selama ini vanessa merasa salah karena terlalu menyukai novel horor, sementara dengan genre lain tidak pernah dia baca apalagi genre romantis. Vanessa mengambil ponselnya dan berselancar di aplikasi baca Novel online, memasukan beberapa buku bergenre romantis ke dalam raknya.
Vanessa mencoba membaca cerita tentang pernikahan, awalnya dia biasa saja namun lama-lama menjadi tertarik apalagi konflik yang baru ia ketahui mengenai pernikahan. Detik berganti menit, menit berganti berganti jam Vanessa masih asik dengan ponselnya. Dia ketagihan membaca novel online di ponselnya.
“Kerja bukan main hp terus.” Suara laki-laki itu menghilangkan fokus Vanessa.
“Ada apa sih Pak Eko?” tanya Vanessa pada pria yang berdiri di samping kubikelnya. Pak Eko ini adalah pria yang pertama kali Vanessa temui di kantor ini, pria yang mengantarkannya ke ruangan Niko waktu itu. Umurnya tidak muda juga tidak tua seumuran sama Pak Niko menurut perkiraannya, padahal sendirinya tidak tau umur Niko dan Nathan berapa. Memang sih ada di internet tapi vanessa belum mendapatkan bukti jelasnya.
“Mentang-mentang bubos seenaknya main ponsel di jam kerja.”
Pak Eko mengetahui hubungan Vanessa dan Nathan gara-gara Niko yang asal bicara saat menyuruh vanessa untuk menemui Nathan. Saat itu Vanessa bertanya karena saat itu waktu jam kerja bukan sedang istirahat dan tidak biasa Nathan memanggilnya saat jam kerja, “Untuk apa Tuan Nathan memanggil saya Pak?” jawaban Niko sangat simpel, “Rindu kali.” Namun jawaban itu membuat Pak Eko menjulukinya bubos dan semua pekerja di bagian keuangan tau tentang hubungannya dengan Nathan.
__ADS_1
Mendengar suara pak Eko yang ketus membuat mood Vanessa hancur, “Aku pakai ponsel bukan untuk main-main pak, ini lagi nanya data penjualan tiket hari ini,” ucap Vanessa beralasan, dia tidak mau kena semprot Pak Eko. Baru dua hari masuk Vanessa sudah kena semprot Pak Eko gara-gara salah memasukan data, waktu itu Vanessa hanya menunduk takut karena pegawai baru setelah tau sikap sedikit menyebalkannya membuat Vanessa harus cari cara untuk mengelak.
“Ini ada titipan,” ketus Pak Eko sambil menyimpan paper bag di meja vanessa lalu berjalan meninggalkan kubikel Vanessa.
Vanessa membuka paper bag yang di berikan pak Eko, berisi gaun berwarna biru muda serta ada kertas kecil di dalamnya, “Jam tujuh malam aku jemput,” begitu isi pesan singkat dari Nathan. Senyum Vanessa mengembang membayangkan dia memakai gaun pemberian Nathan, seperti novel yang barusan dia baca. Di novel itu menggambarkan restauran dengan gaya tropikal sangat menyejukan, beberapa lilin di atas meja dan juga lagu romantis yang mengalun menemani makan malam mereka, “Aduh aku udah gak sabar,” ucap Vanessa sambil memeluk gaun pemberian Nathan.
“Kira-kira Nathan memilih tempat makan seperti apa yah?” vanessa mencoba mencari beberapa referensi tempat makan romantis. Dari beberapa tempat yang di tampilkan google vanessa paling suka tempat makan malam romantis di pantai gitu, tapi ini kan ibu kota belum tentu juga Nathan tau keinginannya. Setelah puas bermain ponsel Vanessa kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.
Dia sudah mematikan komputernya dan sudah bersiap untuk pulang, tidak lupa paper bag permberian Nathan Vanessa bawa juga. Baru saja hendak membuka pintu keluar suara Niko menginterupsinya.
“Mau kemana kamu?”
Vanessa membalikan tubuhnya, terlihat Niko yang berdiri di depan pintu ruangannya, “Saya mau pulang Pak,” jawab Vanessa.
__ADS_1
“Mana revisi pekerjaanmu?”
Vanessa mengingat-ingat pekerjaan yang di berikan Niko, “Astaga ... harus bilang apa ini,” batin Vanessa.
Melihat Vanessa yang diam saja Niko tau perempuan itu melupakan pekerjaannya, “Saya sudah bilang hari ini harus selesai karena besok saya harus mempresentasikannya ... saya tidak mau tau harus beres hari ini juga,” ucap Niko dan kembali masuk ke ruangannya dengan amarah yang memuncak karena dia harus lembur akibat kelalaian Vanessa. Kalau saja dia tidak ingat dengan permintaan Nathan agar tidak memarahi Vanessa terlalu keras, mungkin ruangan kosong itu akan penuh dengan suara teriakkan Niko yang sedang memarahi Vanessa.
Tubuh vanessa lemas seketika mendengar ucapaan Niko, “Astaga tuhan cobaan apalagi ini,” gumam Vanessa sambil tanpa semangat menuju kubikelnya.
***
Kalau ada acara penting cepat-cepat selesaikan pekerjaan kalian jangan kaya Vanessa malah keasikan baca novel hingga tugasnya terlupakan.
Hihi kesian yang nungguin makan malam romantisnya malah kecewa, Vanessa sih ah mengacaukan harinya sendiri
__ADS_1