Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 39 (Berusaha)


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah milik Tuan Pasusanto karena jaraknya tidak terlalu jauh. Vanessa menatap gerbang di depannya, dia ingat tadi Agung sempat memberikan nomor ponselnya. Vanessa merogoh tas kecilnya dan mencoba menelpon Agung. 


Saat Agung menerima telponnya dengan cepat Vanessa berbicara, “Aku di depan pagar.”


“Sebentar ka.”


Vanessa melihat Agung berjalan mendekati pagar, dan mengeluarkan kuncinya untuk membuka gerbang.


“Ada apa kak?” tanya Agung seraya berjalan masuk beriringan dengan Vanessa.


“Aku harus bertemu Anatasya,” ucap Vanessa dengan langkah tergesa.


“Untuk apa kak?” ucap Agung seraya membuka pintu rumah.


“Ini penting!” Vanessa menghentikan langkahnya menatap Agung lekat.


“Aku mohon bantu aku,” Vanessa menangkupkan kedua tangannya di dada memohon pada Agung.


“Ta-tapi.” Agung diam dia Nampak berpikir.


“Tapi kenapa.”


“Tuan Pasusanto tidak suka ada orang yang menemui nona Anatasya.”


“Aku mohon, aku harus membuat Nathan kembali ke raganya.”

__ADS_1


“Dua puluh menit ya ka, Soalnya saya takut kalau kaka sampai ketahuan.” Agung sebenarnya bingung tapi Vanessa menyebut tentang Nathan, dia tau ada yang tidak beres dengan Pria itu. karena dia pernah menemukan foto Nathan ada di ruang kerja Tuannya.


“Makasih Agung,” ucap Vanessa dengan senyum gembiranya.


“Aku mohon lakukan dengan rapi, kebetulan Tuan sedang pergi.” 


Vanessa menganggukan kepalanya, dia dan Agung berjalan menuju kamar Anatasya. 


Agung membukakan pintu kamar milik nona Anatasya,”Aku tunggu di luar kak.”


Vanessa menganggukan kepalanya dan berjalan masuk ke kamar Anatasya. Dia melihat Anatasya yang duduk di atas tempat tidur dengan pandangan lurus ke depan. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu duduk di samping Anatasya.


“Nona Anatasya,” panggil Vanessa pelan. Dia mengikuti arah pandang Anatasya yang sedang menatap jendela.


“Kejadian malam itu ….”  Vanessa menghentikan ucapannya dia bingung harus berkata apa. 


“Aku sebagai wanita tidak akan pernah rela jika kesucianku di rengut paksa oleh orang yang tidak aku kenal sama sekali.”


Vanessa diam memikirkan ucapan yang akan dia lontarkan pada Anatasya. “Kita berhak bahagia … begitu juga dengan Nona. Masih panjang perjalanan yang harus kita nikmati semasa hidup kita.”


Nona Anatasya masih diam, tidak ada respon darinya mengenai ucpan yang keluar dari mulut Vanessa. Mungkin memang terlihat sia-sia tapi dia tidak ingin menyerah begitu saja.


“Kita boleh merasa terpuruk atas kejadian buruk yang menimpa, tapi waktu terus berputar. Tidak mungkin hanya diam, kita akan kehilangan waktu yang sangat berharga yang orang lain inginkan.”


Vanessa meneteskan air matanya, kala pikirannya mengingat pujaan hatinya semasa sekolah terkena penyakit kanker otak stadium akhir, “Bahkan anak remaja yang sudah dokter nyatakan umurnya hanya tinggal sebentar, masih mempunyai semangat hidup. Masih mempunyai harapan untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang Dokter, meskipun akhirnya dia harus pergi sebelum cita-citanya tercapai.”

__ADS_1


“Nona masih muda, dan cantik. Semua kelebihan itu anugrah yang harus kita syukuri, jangan sia-siakan waktu Nona dengan berdiam diri seperti ini.”


Agung mendengar suara klakson mobil Tuan Pasusanto, “Vanessa cepat!” ucap Agung . Dia berjalan menuju pintu gerbang untuk membuka kunci agar Tuannya bisa masuk.


Hatinya dag dig dug, namun dia berusaha untuk mengontrolnya dan tersenyum menyambut Tuannya.


“Apa Anatasya baik-baik saja?” tanya Pasusanto, pasalnya selama di perjalanan pikirannya di penuhi Anatasya.


Agung menganggukan kepalanya sebagai jawaban, “Aduh bagaimana ini,” batin Agung. Dia terus berjalan mengikuti tuannya sampai ke kamar Anatasya. Agung menghentikan langkahnya saat melihat pintu yang masih terbuka dan Vanessa masih ada di sana, “Astaga kaka, apa kau tidak mendengar ucapanku tadi,” agung meremas-remas jarinya. Melirik raut penuh amarah milik Tuannya.


“Apakah Nona tau, pria yang sudah memperkosa Nona sudah mendapat imbalan yang setimpal dari Ayah Nona. Saya ke sini ingin meminta bantuan Nona.”


Vanessaa menarik nafasnya perlahan, “Pria yang memperkosa Nona adalah Nathan teman saya … dia sedang koma di rumah sakit, sementara arwahnya tidak bisa kembali ke raganya, mungkin kesalahannya pada Nona terlalu besar …saya ke sini-“


Tiba-tiba Vanessa merasakan tangan besar yang menarik lengannya, menghempaskan tubuh Vanessa ke tembok. Tubuh Vanessa membeku melihat tatapan Tuan Pasusanto yang penuh amarah, menatap Vanessa tajam. Dia melupakan rasa sakit pada sikunya yang terbentur ke lantai untuk menopang tubuhnya.


“Berdiri kamu!” teriak Pasusanto seraya mendekati Vanessa.


Vanessa mengikuti perintah tuan Pasusanto, dia menarik nafas dalam-dalam saat Pasusanto mendekatinya. Dia tidak menyangka Tuan Pasusanto mencekik lehernya.


Agung yang berdiri di ambang pintu tidak bisa berbuat apa-apa dia tidak tau harus memihak siapa. Dia membutuhkan pekerjaan ini, tapi Vanessa dalam keadaan bahaya, “Bagaimana ini ya tuhan,” gumam Agung.


“Harusnya aku melenyapkan Pria itu tepat di hadapan ku, dan kamu….”


Vanessa kesulitan bernafas dia memegang tangan Pasusanto yang ada di lehernya mencoba melepaskan cekalan itu. Namun yang di dapatnya adalah tuan Pasusanto semakin erat mencekik leher Vanessa. Cekikan ini lebih parah dari pada cekikan wanita di rumah tua itu, tubuh Vanessa lemas dia sudah tidak bisa bernafas penglihatannya pun mulai buram.

__ADS_1


__ADS_2