
Maaf ya author up nya telat, soalnya sekalian dua bab biar gak nanggung.
author saranin baca nya sambil dengerin lagu seventen kemarin ☺️
selamat membaca, bab selanjutnya author up besok yah. love u all ❤️
***
Nathan berjalan keluar rumah sakit, dia mengedarkan pandangan mencari tempat untuk melepaskan rasa penatnya. Café yang ada di depan rumah sakit menarik perhatiannya, Nathan memasuki café tersebut yang tidak terlalu rampai pengunjung. Dia memesan beberapa makanan camilan dan kopi hitam.
Meskipun berada di tempat ramai, Nathan masih merasa sendirian. Dia merindukan keberadaan Vanessa. Di tempat itu Nathan hanya diam memandangi makanannya. Suara merdu mengalun di telinganya, menemani sore harinya yang kelam. Café itu sepertinya mengadakan live music khusus untuk pengunjungnya.
Kemarin engkau masih ada di sini
Bersamaku menikmati rasa ini
Berharap semua takan pernah berakhir
Bersamamu … bersamamu
Nathan teringat kejadian Vanessa yang bersikuku untuk melaksanakan pernikahan ini, “Tuhan yang menentukan takdir jodoh, hidup dan mati seseorang, bukan kamu dan bukan mimpi kamu.” wajah kesalnya membuat Nathan merindukan istrinya, “Apa ini takdir pernikahan kita, aku harus kehilanganmu sayang,” ucap Nathan di dalam hatinya.
Kemarin dunia terlihat sangat indah
Dan denganmu merasakan ini semua
__ADS_1
Melewati hitam putih hidup ini
Bersamamu … bersamamu
Mendengar lagu yang di bawakan perempuan itu membawanya pada bayangan Vanessa yang memberengut kesal karena bibirnya bengkak akibat ciumannya. Nathan tersenyum mengingat kejadian di kantornya itu, tetapi tidak lama wajahnya kembali murung, ciuman panas di hotel sebelum bergulat ternyata adalah ciuman terakhir untuk Nathan sebelum Vanessa kecelakaan.
Kini sendiri di sini
Mencarimu tak tau di mana
Semoga tenang kau di sana
Selamanya
Aku selalu mengingatmu
Doakanmu setiap malamku
Semoga tenang kau di sana
Selamanya
“Kalau boleh aku ingin kamu sadar sayang, aku di sini menunggu kamu,” ucap Nathan sambil menghapus air matanya.
“Lagu ini khusus aku nyanyikan untuk kedua orang tua ku yang telah kembali pada sang pencipta. Bukan hal mudah untuk mengikhlaskan kepergian orang yang kita cintai, tetapi kita bisa mencintainya dan memberikan kasih sayang kita lewat doa yang kita kirimkan untuk orang yang kita cinta. Meskipun kita tidak akan pernah bisa lihat orang yang kita cintai bisa bersama lagi, namun jangan pernah kehilangan semangat untuk menjalani hari-hari berharga yang kita miliki,” ucap penyanyi tersebut mengakhiri penampilannya.
__ADS_1
Nathan mengela nafasnya, dia sudah tidak berselera makan, dia ingin kembali menemui istrinya. Ternyata papa Vanessa sedang menunggunya di depan ruang rawat Vanessa, “Kenapa Pa?” tanya Nathan melihat wajah Papa Vanessa yang terlihat sedih.
“Dokter meminta kita keruangannya,” jawab Papa Vanessa.
Nathan dan papanya Vanessa berjalan ke ruangan dokter yang merawat Vanessa. Nathan mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan dokter, setelah mendapatkan ijin dari dokter mereka masuk.
Nathan dan papa duduk di hadapan dokter, dokter Vanessa menatap Nathan dan papa secara bergantian.
“Sebelumnya saya minta maaf pak, saya sudah tidak sanggup menangani putri dan istri bapak.” Dokter menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya, “Seperti yang sudah saya bicarakan sebelumnya, benturan itu merusak saraf yang ada di otak ibu Vanessa. Saya sudah berusaha semampu saya lewat oprasi yang di jalani ibu Vanessa, tetapi sudah dua minggu dan ibu Vanessa tidak sadar dari komanya. Kalau boleh saya terus terang sebenarnya ibu Vanessa hidup karena bantuan alat medis pak.”
“Lalu lanngkah apa yang harus kita ambil dok?” tanya Nathan.
“Saya sudah berkoordinasi dengan dokter luar negri satu minggu yang lalu. Namun mereka menunggu peningkatan kondisi ibu Vanessa, kalau masih tetap sama meskipun ibu Vanessa melakukan pengobatan di luar negri kemungkinan hidupnya hanya lima persen pak.”
Untuk kedua kalinya Nathan mendengar kemungkinan hidup seseorang yang di ucapkan dokter, jika dulu dia memiliki kesempatan sepuluh persen tetapi sekarang dokter menyatakan kesembuhan istrinya hanya lima persen, nathan hanya diam tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi, nafasnya terasa sesak mendengar ucapan dokter.
“Langkah apa yang harus kami ambil dok?” tanya papa karena melihat menantunya yang diam mematung.
“Saya rasa bapak harus mengikhlaskan putri bapak, dia akan sangat tersiksa karena terombang ambing seperti ini.”
Nathan menggelengkan kepalanya, “Tidak dok,” ucap Nathan dan pergi dari ruangan dokter.
“Saya akan coba bicarakan dengan menantu saya dok, terimakasih sarannya,” ucap Papa.
Papa duduk di kursi yang tersedia di ruang tunggu tepat di depan ruangan dokter. Ini pilihan sulit baginya, selama ini Nathan yang membayar semua pengobatan biaya rumh sakit Vanessa, papa tidak bisa membantu banyak. Tidak ada orang tua yang ikhlas di tinggalkan pergi oleh anaknya, meskipun anaknya sudah dewasa. “Papa harus apa teh, papa gak mungkin membebani keluarga Nathan terus menerus. Bukan papa tidak ingin teteh sembuh, tetapi dokter sudah menyerah dan di lanjutkan pun kemungkinan teteh hidup hanya sedikit. Kalau papa masih memiliki harta papa akan memperjuangkan teteh untuk tetap hidup. Tapi papa tidak bisa berbuat apa-apa sekarang teh … papa udah gak punya apa-apa,” ucap papa di dalam hatinya.
__ADS_1