
Anatasya menarik vanessa ke kamarnya, “Maafkan ucapan Ayahku.”
“Iya nona,” jawab vanessa dengan senyum mengembang dari bibirnya.
“Apa Nathan ada di sini?” tanya Anatasya tiba-tiba membuat Vanessa teringat dengan pria itu. Vanessa mencari keberadaan Nathan di ruangan itu tadi tidak ada, dia memanggil Nathan lewat hatinya, siapa tau muncul seperti kejadian saat di kosan waktu itu yang nathan tiba-tiba muncul karena Vanessa menyebut namanya.
Lima menit berlalu setelah Vanessa panggil namun nathan belum muncul juga, hati Vanessa gundah gulana karena Nathan tidak datang juga.
Melihat ekspresi yang di tunjukan Vanessa, Anatasya mencoba bertanya, “Kenapa, Nathannya ada?”
Vanessa menggelengkan kepalanya, “Nathan gak ada, biasanya dia selalu ada di dekat ku, bahkan saat aku tercekik tadi aku masih melihat dia.”
“Apa arwahnya sudah kembali ke raganya?” tanya Anatasya kembali.
Vanessa menepuk jidatnya, dia tidak ingat kalau Anatasya kan sudah memaafkan Nathan. Kemungkinann besarnya Nathan sudah bisa kembali ke tubuhnya, “Oh iya aku lupa.”
“Kamu gimana sih sama pacar sendiri juga,” ledek Anatasya.
Pipi Vanessa bersemu merah, “Nona apaan sih, aku gak pacaran sama Nathan,” ucap Vanessa.
“Masa gak pacaran tapi kok peluk-peluk terus ciuman lagi,” Anatasya tersenyum menggoda Vanessa.
Vanessa membulatkan matanya, “Nona tau dari mana?”
“Agung itu suka ke kamar, nyerocos aja segala dia certain meski aku gak respon. Dia cerita kalau ketemu kamu lagi sama arwah ciuman gitu di kapal … Agung sampe bilang gini ‘Nona itu mah romantis banget kayak manusia asli’ gitu katanya. Kadang ujian banget kalau dia nyeritain kejadiaan lucu, rasanya ekspresi depresi ku hampir hancur karena ulahnya.”
Vanessa jadi teringat kejadian di kapal itu, dia meraba bibirnya saat mengingat Nathan menciumnya.
__ADS_1
“Udah sana kamu pulang! Temui Nathan biar bisa ciuman lagi,” ucap Anatasya. Dia terkekeh melihat Vanessa yang menutup mukanya malu karena ketauan membayangkan yang aneh-aneh.
“Udah stop nona, jangan ledekin aku terus. Seriusan ini mah malu,” ucap Vanessa masih menutup mukanya.
Anatasya malah semakin tertawa terbahak-bahak, rasanya beban di hatinya hilang. Dia sudah bisa kembali normal seperti biasa.
***
Vanessa di antar Agung dan Anatasya sampai di pantai, “Makasih ya nona,” ucapnya seraya memeluk Anatasya.
“Iya sama-sama, nanti kalau Nathan masih belum sadar juga, kamu cium aja. Siapa tau dia langsung sadar karena sengatan cinta dari kamu.”
Vanessa melirik Agung yang pura-pura tidak mendengar ucapan Anatasya, mukanya lempeng aja tanpa dosa. Padahal dia di ledek begini karena ulahnya.
“Awas ya jangan lupa cium,” Anatasya menujuk bibirnya sendiri untuk menggoda Vanessa.
Anatsya malah tersenyum senang dia melambaikan tangannya saat perahu yang di tumpangi Vanessa mulai menjauh, “Hati-hati.”
Laut di depannya mengingatkan Vanessa akan kenangan beberapa hari lalu dengan Nathan di perahu ini, “Mungkin ini terdengar aneh, tapi aku mencintaimu Vanessa.” Ungkapan cinta yang singkat yang terjadi di atas perahu, hanya ungkapan perasaan tidak ada status kejelasan. Angin menerpa wajah Vanessa, dia bisa merasakan ciuman singkatnya dengan Nathan terasa seperti nyata. Dia membuka mata namun hanya lautan yang di lihatnya, satu tetes air mata meluncur di pipi Vanessa.
Pa Budi bukan tidak tau perasaan sedih milik Vanessa, namun dia hanya bisa diam dan fokus mengendalikan perahu.
“Baru beberapa jam kamu pergi, tapi aku sudah sangat merindukanmu,” lirih Vanessa. Dia menghapus air mata yang turun ke pipinya, “Kamu harus bahagia! karena sebentar lagi aku akan bertemu Nathan di dunia nyata,” Vanessa mencoba menyemangati dirinya sendiri.
***
Vanessa sampai di ibu kota pukul 8 malam, setelah membayar ongkos taxi online dia masuk ke kosan. Terdengar suara Putri yang memanggilnya, Vanessa memilih menghentikan langkah kakinya menunggu Putri menghampirinya.
__ADS_1
“Gimana? … cerita dong.” Puti sudah tidak sabar menunggu cerita Vanessa dan yang pasti dia ingin minta oleh-oleh.
“Aku gak beli apa-apa,” ucap Vanessa lesu. Dia sudah tau tipu muslihat sahabatnya itu, “Dikiranya aku liburan apa, aku hampir tewas di sana,” lirih Vanessa seraya berjalan meninggalkan sahabatnya.
Putri terkejut mendengar ungkapan Vanessa dia berjalan mengejar Vanessa, menghentikan langkahnya tepat di hadapan Vanessa dan memegang bahunya erat, “Astaga sahabat gue, tapi lo gak papakan?” tanya Putri cemas.
“Gue gak papa, besok gue certain,” ucap Vanessa lesu dan berjalan memasuki kamarnya meninggalkan Putri yang masih mematung di tempatnya.
Vanessa melepaskan tas yang di gendongnya, dia memilih naik ke tempat tidur untuk melepaskan penatnya. Namun bayangan Nathan terus menghantui isi kepalanya, dia Cuma bisa menghela nafasnya dan mengambil air minum dan meneguknya tanpa tersisa.
“Kenapa kepala gue isinya Nathan semua,” Vanessa memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
Tubuh lemasnya kembali dia seret ke tempat tidur, dia mengambil ponsel di tas kecil, “Ini hp masih nyala, untung yang punya masih hidup,” ucap Vanessa sambil terkekeh karena ucapannya sendiri, “Gak kebayang kalau gue beneran mati,” Vanessa bergidik ngeri membayangkannya.
Music yang menglaun dari ponselnya membuat tubuh lelahnya merasa rileks, Vanessa menutup matanya menikmati alunan pengantar tidurnya.
Vanessa merasa terganggu dengan suara ketukan di pintu kamarnya, “Nes … Vanessa ….” Namun dia coba bangkit dan membuka pintu kamarnya dengan mata yang masih setengah terbuka, “Apaan sih lo ganggu aja,” ucap Vanessa kesal.
“Ini liat lo dapet kiriman bunga.”
Vanessa mencoba membuka matanya melihat bucket bunga yang di pegang Putri, “Dari siapa?”
***
Waduh Vanessa dapet bucket bunga dari siapa yah kira-kira?
Kalau author mah gak perlu bucket bunga, pinginnya di kasih Vote, Like dan komentar, segitu aja udah bikin author seneng banget hehe.
__ADS_1
Ikuti terus kelanjutan ceritanya yah, sampai jumpa di bab selanjutnya 😘