Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 82 (Mbah Dukun)


__ADS_3

Sore itu Niko dan Putri datang untuk menjenguk, melihat keadaan adiknya yang tampak kacau membuat hatinya teriris. Rambut Nathan tampak acak-acakan, matanya terlihat lelah.


“Gimana pak keadaan Vanessa?” tanya Putri sambil mendekati Vanessa yang terbaring lemah.


Nathan mencoba menampakan senyumnya, “Masih sama, semoga besok dia sadar,” ucap Nathan mengutarakan harapannya.


Niko dan  Putri saling pandang, melihat Niko yang diam tanpa berniat bersuara akhirnya Putri mencoba berbicara pada Nathan. “Pak kan waktu bapak jadi koma Vanessa lihat bapak, kalau sekarang bapak bisa lihat Vanessa gak?” tanya Putri.


“Selama dua minggu saya di sini tidak pernah melihat keberadaan Vanessa atau mungkin saya yang tidak bisa melihatnya,” jawab Nathan sambil melihat tingkah Putri yang sedang berpikir.


“Aku di sini,” lirih Vanessa, namun tidak ada yang bisa mendengar suaranya.


“Saya bawa orang pintar pak, yang dulu pernah membuka mata batin Vanessa. Semoga saja dia bisa melihat keberadaan Vanessa,” ucap Putri dengan penuh harapan semoga Nathan menyetujuinya.


Nathan menganggukan kepalanya lalu melihat wajah Vanessa yang masih terlihat pucat, “Boleh bawa saja!”


“Panggil Pak Andinya pak,” ucap Putri pada Niko.


“Ko jadi nyuruh aku, kamu kan punya kaki bisa panggil sendiri,” acuh Niko.


Putri rasanya ingin menjambak rambut hitam yang terlihat rapi, Putri melayangkan tatapan permusuhan pada Pak Niko, “Untung ganteng, coba kalau kaya si ucup gue depak juga,” batin Putri kesal sambil berjalan keluar ruangan.


Vanessa merasakan mahluk itu memegang tangannya dengan erat hingga terasa sakit, “Lepas sakit, ngapain sih,” ketus Vanessa. Dia berusaha melepaskan cekalan di tangannya.

__ADS_1


Putri kembali dengan Pak Andi di sampingnya. Pak Andi berjalan mendekati Vanessa, dia menggengam tangan Vanessa. Awalnya Nathan ingin protes karena rasa tidak rela istrinya di sentuh oleh laki-laki lain, namun tatapan tajam milik Niko mengurungkan niatnya.


Pak Andi menatap Nathan, dia mencoba mencari keberadaan Vanessa di ruangan itu tetapi Pak Andi tidak menemukannya. “Seharusnya neng Vanessa ada di sini jika saya panggil ruhnya, tetapi,” Pak Andi sengaja menggantung ucapannya dan mencoba mengedarkan pandangannya lagi, “Tetapi neng Vanessa tidak muncul, neng Vanessa terlihat masih hidup karena alat bantu kedokteran sementara ruhnya sudah tidak ada di dunia den,” ucap Pak Andi menjelaskan pengetahuannya.


Vanessa mencoba mendekati pak Andi, “Aku di sini pak, di sini” ucap Vanessa prustasi karena Pak Andi seperti tidak meliatnya. “Lepaskan aku, aku mohon biarkan aku kembali kedunia ku,” ucap Vanessa pada mahluk yang masih memegang pergelangan tangganya.


Nathan diam tidak mengucapkan sepata katapun, ada rasa kecewa di hatinya mendengar ucapan Pak Andi yang menyatakan ruh Vanessa sudah tidak ada di dunia, “Kamu meninggalkan aku sendirian sayang?” tanya Nathan dengan suara berbisik.


“Aku di sini Nathan tolong aku,” ucap Vanessa dengan ari mata yang meluncur di pipinya. Vanessa membelai rambut Nathan dengan penuh kasih sayang. Semua ini bukan salah Nathan, tapi mahluk ini yang membawaku pada kematian. “Sebenarnya mau kamu apa?” tanya Vanessa dengan nada setengah berteriak.


“Kamu ikut keduniaku,” jawab mahluk itu.


Vanessa menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin pergi dengan mahluk jahat itu. sepertinya mahluk ini memang menginginkan Vanessa mati dan ikut bersamanya.


Putri mengikuti Pak Andi keluar, “Maksud bapak teman saya sudah meninggal gitu?” tanya Putri tidak percaya.


“Ruh nya sudah tidak ada di dunia neng, bapak gak bisa berbuat apa-apa,” jawab Pak Andi.


Rasanya tubuh Putri lemas dan akan ambruk ke lantai namun dengan cepat Niko menahannya. Putri memeluk tubuh Niko dengan erat, dia membenamkan wajahnya di dada bidang pa Niko. Air mata yang dia tahan turun begitu saja, dia masih tidak percaya kalau Vanessa benar-benar pergi untuk selama-lamanya.


“Neng dan bapak yang sabar ya semua yang ada di dunia ini milik pencipta, kita harus ikhlas dengan kepergian neng Vanessa biarkan dia tenang di alamnya,” ucap Pak Andi.


Niko menganggukan kepalanya sambil berusaha tersenyum dan membelai rambut Putri yang sedang menangis di dadanya.

__ADS_1


“Kalau begitu saya pamit ya aden, neng,” ucap Pak Andi undur diri.


“Terimakasih pa,” ucap Nathan.


Pak Andi terseyum dan meninggalkan Putri dan Niko yang masih berpelukan. Niko tau bagaimana perasaan Putri, karena dia juga pernah hampir kehilangan Nathan adiknya. Sebenarnya Niko ingin melepaskan pelukan Putri, dia merasa risih karena mendapat tatapan dari orang-orang yang melewati mereka.


Cukup lama Putri menangis, dia melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. “Cengeng banget sih, liat baju saya jadi basah gini,” keluh Niko dengan wajah tidak nyaman karena bajunya basah.


“Bapak bukannya menghibur saya malah mengeluh,” ketus Putri.


Pak Niko berjalan meninggalkan Putri, “Mau ke mana pak?” tanya Putri sambil mengejar Niko.


“Saya mau ambil baju ganti di mobil,” jawab Niko.


Setelah selesai menganti bajunya Niko dan Putri kembali masuk ke ruangan Vanessa. Niko menepuk pundak Nathan yang sedang menundukan kepalanya pada tempat tidur, Niko tau adiknya pasti sedang menangis. Dan betul dugaan Niko, dia melihat Nathan menghapus air matanya sebelum melihat kearahnya.


“Lo cari angin sana! Biar gue sama Putri yang jagain Vanessa,” ujar Niko.


Nathan menggelengkan kepalanya, dia tidak ada keinginan untuk pergi keluar.


“Lo bisa bener-bener gila kalo Cuma diem doang, udah sana cari angin yang banyak biar otak lo waras.”


Nathan menatap kesal pada kakanya yang asal bicara mengatainya tidak waras. Dia mendekati Vanessa dan mencium kening istrinya, “Aku keluar sebentar yah,” pamit Nathan pada Vanessa.

__ADS_1


Putri dan Niko bisa bernafas lega, setidaknya mereka tidak harus memaksa Nathan. Anak itu pasti sangat terpukul dengan ucapan Pak Andi barusan.


__ADS_2