
“Gak tau, madam Cuma bilang ‘ini ada titipan buat Vanessa’ gitu katanya.”
Vanessa mengambil bucket bunga di tangan Putri, ada kartu yang terselip di bunga itu Vanessa mencoba membukanya. Dia mengrenyitkan dahi melihat tulisan di kartu itu “I Love You?”
“Ternyata temen gue laku juga,” ungkap Putri meledek Vanessa.
Vanessa memukul lengan Putri dengan bunga di tangannya, “Laku ? emangnya gue barang!”
“Eh serius itu dari siapa?” tanya Putri masih penasaran.
“Gak tau gak ada nama pengirimnya juga,” Vanessa mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Tubuhnya sudah sangat lengket apalagi semalam dia tidak mandi.
Vanessa keluar melihat Putri yang asik berfoto ria dengan bunga miliknya, “Kebanyakan halu lo, nanti gak laku lagi,” sindir Vanessa.
“Yaelah lo mah sirik aja!” Putri mengakhiri sesi fotonya, melirik Vanessa yang sedang mengeringkan rambut dengan wajah sedih.
“Lo dapet bunga mukanya bukan gembira malah kayak pengen mewek gitu, kenapa?”
Vanessa mencoba tersenyum pada Putri, “Eh sarapan yuk!” Vanessa mencoba mengalihkan topic, dia tidak ingin menangis di pagi hari.
“Boleh tapi jangan bubur lagi yah, kemarin udah soalnya.”
Tuhkan gambang banget buat ngalihin fokus si Putri kalau soal makanan, “Sarapan soto enak kayanya, seger kuahnya pasti.”
“Boleh tuh … tapi lo yang teraktir ya,” Putri menunjukan deretan gigi putih miliknya.
“Mingkem lo, gak usah pamer gigi!” Vanessa beranjak dari duduknya mengambil tas kecil miliknya.
***
Air liurnya memenuhi rongga mulut Vanessa saat soto Madura di hadapannya terlihat menggugah selera makannya, dia mengambil jeruk nipisnya di peras ke atas nasi dan beralih pada mangkuk yang berisi telur, suir ayam, bihun dan sayur. Kuah yang masuk ke tenggorokannya terasa gurih dan hangat, “Udah lama gue gak makan soto enak banget.”
“Gue lebih enak … di bayarin hihi.”
Vanessa mendelik ke arah Putri, “Otak lo isinya geratisan mulu!”
__ADS_1
“Ya gak papa, yang penting isi dompet gue utuh,” Putri kembali melanjutkan makannya.
Vanessa berdiri dari duduknya, berjalan menuju gerobak, “Pak satu porsi lagi ya sotonya, tapi gak pake nasi,” pesan Vanessa.
“Tunggu sebentar ya,” ucap penjual soto sambil tersenyum ramah.
Vanessa kembali dengan satu mangkuk soto di tangannya dan kembali duduk di samping Putri.
“Lo gak salah itu!” Putri menunjuk mangkuk Vanessa yang baru dia bawa, sambil melirik mangkuk satunya yang masih tersisa setengahnya.
“Gue butuh tenaga buat jawab semua pertanyaan lo,” ucap Vanessa santai dan kembali menikmati soto miliknya.
“Ah berasa di ingatkan, jadi gimana?” Putri menyuapkan soto sambil menunggu jawaban Vanessa.
“Gimana apanya?”
“Gimana hubungan lo sama Nathan, udah ngapain aja liburan berdua di sana … jangan bilang kalian,” Putri menyatukan jari telunjuk kedua tangannya sambil di gerakan berpisah dan menyatu sabagai isayarat kelanjutan ucapannya.
Vanessa tersedak kuah sotonya karena pertanyaan Putri, “Ni anak tau dari mana,” batin Vanessa.
“Tuh kan pipi lo merah, kalian serius ciuman?” tanya Putri penasaran, “Gimana rasanya ciuman sama arwah?”
Vanessa melirik kesal pada Putri yang menaik-naikan satu alis untuk menggodanya, “Satu-satu kalau tanya, gue pusing mau jawabnya juga,” ketus Vanessa.
“Enak gak ciuman sama Nathan?” tanya Putri sambil terkekeh.
“Isi otak lo gak bener semua kayanya!”
“Yaelah ngelak buruan jawab!” Putri menarik mangkuk yang sedang Vanessa aduk-aduk kuahnya, “Buruan!”
Vanessa menghela nafasnya dan menatap Putri kesal, “Ya gitu.”
“Gue gak butuh jawaban ‘ya gitu’,” ucap Putri penuh penekanan saat mengulang ucapan Vanessa.
Putri menahan tawanya saat melihat Vanessa sepertinya sedang mambayangkan ciumannya dengan Nathan, “Nyebelin banget muka lo haha” tawa Putri pecah.
Vanessa mengusap mukanya saat mendengar tawa Putri, “Sialan lo yah!” Vanessa menimpuk Putri dengan kerupuk yang ada di depannya.
__ADS_1
Di sela tawanya Putri masih belum puas meledek Vanessa, “Harusnya gue liat muka lo pas lagi ciuman sama Nathan. Hiburan banget kayanya buat gue liat muka oncom lo.”
Vanessa kesal karena Putri terus menertawakannya, dia beranjak dari duduknya dan membayar soto mereka.
Putri menghentikan tawanya saat melihat Vanessa yang berjalan meninggalkannya,“Eh Nes tunggu gue!”
Putri berusaha mensejajarkan langkahnya, di liriknya wajah Vanessa yang datar tanpa ekspresi, “Maaf Nes gue khilaf tadi, lo beneran jatuh cinta ya sama Nathan?”
Vanessa terus melangkah tanpa menjawab pertanyaan Putri dia masih sangat kesal padanya.
“Lo udah nemuin orang yang bunuh Nathan, sekarang Nathan di mana?” tanya Putri penasaran. Terdengar helaan nafas dari Vanessa, “Ini mah ada yang gak beres,” batin Putri.
Selama perjalan pulang Vanessa mendiamkan Putri, perasaannya campur aduk seperti ada sesuatu yang hilang di hatinya. Sesampainya di kosan Vanessa memilih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan matanya.
Putri duduk di meja belajar Vanessa dia diam melihat Vanessa yang memejamkan matanya.
“Nathan belum mati dia koma,” ucap Vanessa tanpa membuka matanya.
“Misi gue selesai untuk menemukan pelakunya, kayanya dia udah kembali ke raganya.”
Terdengar helaan nafas dari mulut Vanessa, di liat dari gelagat sahabatnya, Putri tau Vanessa sedang tidak baik-baik saja.
“Terus yang ngirim bucket bunga itu dia?” tanya Putri, dia tidak bisa menutupi rasa penasarannya.
“Gue gak tau, soalnya Nathan bilang kemungkinan sembuhnya Cuma 10 persen.” Vanessa membuka matanya lalu bangkit di ambilnya bucket bunga tadi.
“Ya siapa tau, dia udah sadar terus inget lo,” ucap Putri berusaha menghibur.
“Iya kalau Nathan yang kasih, kalau ternyata orang lain yang ngirim gimana?”
“Oh iya gue lupa, sahabat gue ini kan banyak penggemarnya,” ledek Putri.
“Penggemar apaan, ngaco lo!”
***
Belum terungkap juga ternyata pengirim bunganya 😔
__ADS_1
Selamat menikmati akhir pekannya 🤗
Jangan lupa vote, like, dan komentarnya ya readers 😘