
Nathan menyatukan kening mereka, hembusan nafas Vanessa membuatnya kehilangan arah. Apalagi bibir berwarna merah muda karena lipstik yang di pakai Vanessa membuatnya tidak tahan untuk tidak menyentuh bibir seksi calon istrinya itu.
Melihat Vanessa yang malah menatapnya membuat Nathan berani untuk menempelkan bibirnya. Nathan merasakan tubuh Vanessa yang tekejut tapi tidak memberi penolakan saat Nathan ******* bibirnya pelan. “Kesempatan tidak datang dua kali,” pikirnya. Nathan langsung mode on ******* bibir Vanessa dengan rakus, wanitanya ini memang tidak pandai berciuman Vanessa hanya ******* bibir Nathan jika ada kesempatan.
***
Pagi itu seperti biasa Vanessa masuk keruangan, “Kenapa kamu pakai masker?” tanya Pak Eko.
“Ini pak lagi alergi sama debu,” ucap vanessa beralasan dan dengan cepat berjalan ke kubikelnya.
Vanessa mengeluarkan cermin miliknya lalu menurunkan maskernya, bibirnya masih bengkak akibat ciuman panasnya dengan Nathan. Kalau boleh vanessa ingin di kosan saja, malu keluar dengan bibir seperti ini untung dia memiliki persediaan masker di kosannya.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekati kubikelnya dengan cepat Vanessa membenarkan maskernya. Ternyata Niko yang ke kubikelnya, “Ada apa Pak?”
“Kamu ikut keruangan saya,” perintah Niko.
Vanessa menganggukan kepalanya dan mengikuti Niko yang berjalan keruangannya. “Tolong print laporan yang kamu kirim.”
“Ngapain si bapak nyuruh ke ruangannya kalau Cuma minta print laporannya kemarin gak ada kerjaan,” batin Vanessa kesal. Saat hendak keluar dari ruangan Niko memanggilnya, “Ngapain kamu keluar?”
“Saya kan mau print pak,” ucap Vanessa masih memegang gagang pintu.
“Kamu kan bisa print di sini,” tunjuk Niko pada meja kerjanya.
__ADS_1
Tanpa mejawab Vanessa langsung duduk di meja kerja Niko, dan membuka email untuk print hasil laporannya. Terdengar suara mesin print memenuhi ruangan Niko, Vanessa memperhatikan kertas yang keluar dari printer.
“Saya tidak suka melihat pegawai saya memakai masker,” ucap Niko santai dengan melipat kedua tangannya di dada.
“Apaan sih si bapak ini,” batin Vanessa. Antara malu bercampur kesal Vanessa sudah tidak perduli dengan maskernya toh ini di ruangan Niko nanti dia akan memakainya lagi.
Melihat bibir Vanessa bengkak, membuat Niko ingin tertawa melihat kelakuan adiknya.
“Bapak gak usah nahan ketawa gitu ... ketawa aja gak usah di tahan,” ketus Vanessa.
Mendengar kekehan Niko membuat Vanessa terkejut bukan main, “Se receh itu selera humor bapak ... bapak tidak usah so ngetawain saya ini juga kelakuan adik bapa.” Vanessa tidak terima di tertawakan seperti itu oleh Niko, menurutnya Niko sangat menyebalkan karena sengaja mengerjainya untuk membuka masker.
Niko menghentikan tawanya lalu mengambil hasil print laporannya lalu berjalan keluar ruangannya meninggalkan Vanessa sendiri di sana.
Air matanya turun begitu saja Vanessa menyimpan kedua tangannya di atas meja lalu menelungkupkan wajahnya, dia sungguh malu dan kesal melihat Niko yang puas menertawakannya. “Kalau setiap ciuman dengan Nathan berakhir seperti ini aku tidak mau lagi, papaaaaa,” akirnya tangis vanessa pecah. “Vanessa maluuu,” ucap Vanessa di tengah tangisannya.
“Pak Niko nya sedang keluar Pak,” ucap Vanessa memberitahu.
“Saya tidak mencari Pak Niko, saya ke sini mencari calon istri bos saya,” ujar sekertaris Nathan.
“Ada apa?”
“Nona di minta tuan untuk keruangannya,” Vanessa menganggukan kepalanya dan berjalan mendahului sekertaris Nathan.
__ADS_1
Sesampainya di ruangan sekertaris Nathan membukakan pintu untuk Vanessa. Dia berjalan masuk dan melihat Nathan yang sedang duduk di sofa, Nathan menepuk sofa memberikan kode agar vanessa duduk di sebelahnya.
Vanessa mengikuti perintah Nathan untuk duduk di sampingnya, matanya langsung bertemu karena Nathan sedang menatap Vanessa. Nathan mengelus kepala Vanessa, “Kamu kenapa menangis?” tanya Nathan dengan suara lembut.
Vanessa rasanya ingin menangis kembali mendengar pertanyaan Nathan. Vanessa memilih diam tidak menjawab ucapan Nathan, dia tidak ingin pertahanannya runtuh di hadapan Nathan dia tidak ingin terlihat cengeng.
Nathan membuka masker Vanessa, dia terkejut melihat bibir Vanessa yang bengkak, “Sepertinya semalam aku terlalu bernafsu,” ucap Nathan di hatinya. Dia meraba bibir Vanessa pelan, “Sakit?” tanya Nathan.
Vanessa menganggukan kepalanya, di lihatnya Nathan yang membuka paper bag dan membuka salep yang dia ambil dari paper bag. Dengan perlahan Nathan mengoleskan salep yang di beli sekertarisnya.
Vanessa menahan rasa nyeri di bibirnya saat Nathan mengoleskan salepnya dengan perlahan. Vanessa senang dengan perhatian yang diberikan Nathan, dia memperhatikan Nathan yang sedang serius mengoleskan salep ke bibirnya.
Nathan menatap bibir Vanessa yang bengkak dan terlihat mengkilap akibat salep yang di oleskannya.
Melihat Nathan yang mendekatkan wajahnya membuat Vanessa sedikit was-was dia takut kejadian semalam terjadi lagi. Padahal bibirnya masih bengkak dan baru saja salep itu di oleskan ke bibirnya masa sudah di cium lagi oleh Nathan. Vanessa mendorong Nathan agar menjauh darinya, “Bibir aku aja belum sembuh, masa kamu mau cium aku lagi,” lirih Vanessa.
Mendengar Vanessa yang memberikan penolakan membuat Nathan salah tingkah, “Astaga kenapa aku tidak bisa mengontrol nafsuku setiap melihat bibirnya,” ucap Nathan di dalam hatinya.
***
Tahan dulu dong Nathan kan kesian Vanessanya
Untuk yang pengen baca part Niko dan Putri sebentar ya author lagi garap
__ADS_1
Jangan lupa dukung author terus yah, biar makin semangat upnya
Love u all 😘