Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 85 (Terlambat)


__ADS_3

Semua orang sudah beranjak dari pemakaman Vanessa, tetapi Nathan masih di sana seorang diri. Dia masih tidak rela meninggalkan istrinya sendirian di bawah sana.


Nathan masih ingat saat Vanessa datang ke rumah kosong itu sendirian, wanita itu terlihat terpesona padanya. Semua orang menjauhinya setelah kejadian pemerkosaan yang tidak di sengajanya. Nathan hanya sendirian, bahkan setelah pembunuhan yang di lakukan Pasusanto pun tidak ada satu pun temannya yang datang menjenguk. Tetapi istrinya itu malah ingin berteman di saat kondisinya sebagai arwah.


Di sela tangisnya Nathan tersenyum kala mengingat Vanessa yang memanggilnya dengan sebutan arwah penasaran. Dia hanya ingin tau siapa pembunuhnya yang sebenarnya, lagi-lagi wanitanya itu hampir celaka demi mendapatkan maaf dari Anatasya agar Nathan bisa kembali ke raganya, “Seharusnya kamu membatalkan pernikahan kita, karena bersamaku hanya akan merenggut nyawamu,” Lirih Nathan.


Air matanya semakin deras mengalir, dia teringat dengan wajah istrinya yang selalu tersenyum padanya. Nathan merindukan Vanessa yang selalu berusaha tampil cantik saat akan bertemu dengannya. “Senyuman dan bibir itu yang pasti sangat aku rindukan, aku tidak bisa kehilanganmu sayang.” Namun yang harus dia lihat adalah bibir pucat milik istrinya, wajah yang tampak tenang di akhir hidupnya.


Flashback


Semua peralatan yang menempel di tubuh Vanessa sudah di lepas semua, Nathan meminta waktu satu jam sebelum Vanessa di bawa ke ruang jenazah. Nathan menunggu ke ajaiban tuhan, dia menaruh harapan besar pada istrinya agar bisa hidup kembali seperti dirinya. Detik berganti menit , menit berganti jam namun istinya itu diam tidak bergerak sama sekali.


Suster kembali untuk membawa Vanessa, karena sudah satu jam mereka menunggu pria yang masih terdiam memandangi wajah istrinya. “Maaf pak kita harus membawa ibu Vanessa ke ruang jenazah,” ucap suster sambil menutupi wajah Vanessa.

__ADS_1


Nathan menutup mulutnya, rasa marah dan sedih bercampur di hatinya. Dia merasa marah karena istrinya tidak bangun juga, dan itu artinya Vanessa sudah pergi untuk selama-lamanya.


Mami yang melihat Nathan terpukul dengan cepat memeluk anaknya, mami berusaha menahan air matanya agar terlihat kuat di depan Nathan. Tetapi dia tidak bisa melihat keadaan anaknya yang sangat kacau karena Vanessa pergi.


“Jangan sus jangan,” ucap Nathan sambil meronta agar mami melepaskan pelukannya. Nathan tidak rela istrinya di bawa pergi oleh suster.


“Sudah sayang biarkan Vanessa pergi, Vanessa tidak akan pernah suka melihat kamu seperti ini. Biarkan dia pergi nak setidaknya kamu sudah berjuang satu bulan ini untuk menunggunya,” ucap Mami berusaha menenangkan anaknya.


Flashback off


Nathan menghapus air matanya saat mendengar seorang wanita yang memanggilnya, “Aa,” Nathan menengok ke asal suara. Keningnya berkerut dia tidak mengenal wanita itu, wanita yang memakai baju serba putih, tangan kanannya membawa bucket bunga, “Siapa dia?” pertanyaan itu muncul di benak Nathan.


“Kita belum pernah ketemu yah a, saya Ayu sahabat sekaligus saudara Vanessa. Maaf saat pernikahan saya tidak bisa hadir, begitu juga saat Vanessa koma selama di rumah sakit saya tidak bisa menjenguk,” ucap Ayu sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


Nathan diam tidak berbicara, wanita yang bernama Ayu itu ikut berjongkok di makan Vanessa. Dia membelai nisannya dengan perlahan, “Maafin aku Nes, aku terlambat datang nemui kamu. Bos pikasebelen itu nahan cuti aku terus … kamu kenapa gak dateng ke aku waktu koma?”


Nathan terus memperhatikan wanita itu yang berbicara pada makam Vanessa. “Aku telat yah kamu udah pergi dari dunia, padahal aku pingin ngobrol dulu sama kamu.” Putri menghapus air mata yang terus menerus membasahi pipinya.


Wanita bernama Ayu itu cukup lama menangis di makan Vanessa, Nathan memperhatikan dia yang berdoa untuk istrinya. Setelah doanya selesai Ayu menatap Nathan, “A … ini sudah takdir aa harus ikhlas biarkan Vanessa pergi dengan tenang a. Jangan terus menangisi kepergiannya, Vanessa pasti sedih kalau liat aa terus seperti ini.” Ayu menatap langit sore itu yang tampah cerah, di sela kesedihannya dia mencoba tersenyum, “Vanessa sudah bahagia di atas sana,” ucap Ayu.


Nathan diam, dia tidak berbicara sepata katapun, bahkan saat wanita itu pamit Nathan hanya menganggukan kepalanya. Setelah kepergian wanita itu Nathan kembali sendirian di makam istrinya, Nathan menatap bucket bunga yang di bawa Ayu. “Mungkin ini memang takdir yang harus kita tempuh, biarkan hati ini terus mencintaimu dengan caraku,” ucap Nathan sambil tersenyum dan bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan makam Vanessa.


_Berakhir_


Gak rela cerita ini harus berakhir, sini peluk author dong … sayang banget sama kalian author tu 🤗


Author pingin kalian kasih komentar dong tentang pesan dan kesan selama kalian membaca cerita ini, sebagai bentuk dukungan untuk author agar semakin semangat dalam berkarya.

__ADS_1


__ADS_2