Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 58 (Green Tea)


__ADS_3

Setelah Nathan pulang Vanessa beranjak naik ke tangga untuk pergi kekamarnya namun panggilan papanya membuat langkahnya terhenti, “Kenapa Pa?”


“Sini sebentar papa mau bicara,” ucap papanya sambil mematikan televisi.


Vanessa mengurungkan niatnya dan kembali duduk lesehan di karpet, di liriknya Riko yang sedang sibuk mengerjakan tugasnya di laptop, “Mau bicara apa pa?”


“Nathan itu pacar kamu?”


Vanessa menggelengkan kepalanya, “Bukan baru kenal sebulan lebih.”


“Dewasa gitu keliatannya, umurnya berapa?”


“Engga tau Pah,” jawab Vanessa sambil menggelengkan kepalanya.


“Eh, maenya umurna ge tenyaho, (Masa umurnya aja gak tau)” ucap Papanya Vanessa tidak percaya.


“Atuh ari si papa ngapain nanya-nanya soal umur, emang nya teteh teh seumuran si ade kalau kenalan nanya umur, Ulang tahun nya kapan, jeung linggihna di mana. (Buat apa pah nanyain soal usia, kaka bukan anak kecil lagi seperti ade kalau kenalan nanyain usia, ulang tahunya kapan, dan tinggalnya di mana)”


“Bogoh teu ka si aa Nathan? (Cinta/suka engga ke Kaka Nathan)” Papanya lagi-lagi melontarkan pertanyaan yang membuat Vanessa pusing, dia bingung harus jawab apa.


Melihat anaknya yang diam saja Papanya angkat bicara, “Lamun cicing wae mah berarti bogoh, (kalau diem aja berarti cinta).”


Vanessa cemberut, “Si papa mah ah.”


“Lamun bogoh mah titah ngelamar atuh, (Kalau suka suruh ngelamar)”


“Isin atuh Pa, maenya ngomong gitu, (Malu Pa, kalau ngomong gitu)"


“Ajak orang tuanya ke sini, biar saling kenal,” papanya Vanessa mengusap pundak nya Vanessa.


“Ngaco ah papa mah,(Ada-ada aja Papa ih)” Vanessa berdiri dan berjalan dengan cepat menaiki tangga.


“Cie yang udah bisa move on,”teriak Riko yang ingin meledek kakanya.


“Kerjain laporannya jangan minta bantuan teteh,”teriak Vanessa sebelum masuk ke kamarnya.


Vanessa masuk ke kamarnya, mengambil gitar miliknya dan duduk di atas tempat tidurnya sambil memetik senar gitar. Tiba-tiba pikiran Vanessa jadi teringat Nathan, “Dia menginap atau langsung pulang ke Jakarta yah?” pertanyaan itu muncul di benaknya.


Di ambil ponselnya dari saku celana dan mencoba mengirim pesan pada Natha, “Kamu langsung pulang ?”


Tidak lama Nathan membalas pesannya, “Tidak, aku menginap semalam di bandung.”


Vanessa memilih untuk tidak membalas pesan Nathan karena tujuannya hanya ingin memastikan Nathan pulang ke Jakarta atau tidak. Setelah merasa bosan memainkan gitarnya Vanessa berjalan menuju rak buku miliknya yang ada di sudut kamar. Dia hanya menatap buku koleksinya yang berjajar rapi di sana tanpa ada niat untuk membacanya, dia hanya menghela nafas dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ponselnya berbunyi tanda pesan dari Nathan,“Selamat malam, mimpikan aku yah.”


Senyum Vanessa mengembang membaca pesan dari Nathan, tapi dia malas membalas pesannya karena matanya sudah mulai mengantuk. Dengan cepat Vanessa terlelap karena lelah, bahkan bunyi ponselnya yang menandakan telpon masuk tidak berhasil membangunkannya.


***


Pagi itu Vanessa terbangun dan mematikan alaram ponselnya, dia beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berjalan ke dapur. Dilihatnya papanya yang sedang menggoreng ayam, “Sini sama teteh,” ucap Vanessa dan mengambil alih pekerjaan papanya.


“Yaudah atuh papa mau siap-siap dulu ya teh.”


“Papa mau kemana emangnya?” tanya Vanessa.

__ADS_1


“Ada kerjaan, kayanya bakal pulang malem. Nanti kalau mau malam mingguan sama si aa jangan terlalu malam yah pulangnya,” ucap Papanya mengingatkan.


“Iya pah,” jawab Vanessa dan mengangkat ayam goreng yang sudah matang, lalu memasukan kembali potongan ayam yang belum di goreng.


Setelah selesai menggoreng ayam Vanessa ke ruang tamu sekaligus ruang keluarga, rumahnya memang tidak terlalu besar, di lantai satu hanya ada ruangan depan, dapur berserta meja makan untuk empat orang, satu kamar mandi dan satu kamar milik papanya. Sementara di Lantai dua hanya terdapat dua kamar milik Vanessa dan adiknya serta satu gudang tempat penyimpanan barang.


“Papa berangkat dulu yah,” ucap Papanya berpamitan.


Vanessa memeluk papanya, “Papa hati-hati yah.”


Papanya Vanessa menganggukan kepalanya sambil tersenyum dan berjalan keluar. Vanessa memperhatikan papanya yang masuk ke mobil dan meninggalkan pekarangan rumah. “Setelah ini aku harus berkerja, supaya Vanessa tidak menyusahkan papa lagi,” gumam Vanessa.


Setelah sarapan Vanessa hanya duduk-duduk di ruang tengah dengan gitar yang sedang di mainkannya, sambil melihat tutorial utub, sudah lama dia tidak bermain gitar. Setelah bosan Vanessa menyalakan televisi dan asik mengganti-ganti chanel tv.


“Teteh naha ih jeung ayam goreng dei, eweh nu lain?” tanya Riko sambil cemberut dan duduk di samping Vanessa.


(Teteh kenapa sama ayam goreng lagi, gak ada yang lain)


Vanessa menggelengkan kepalanya, “Mau sama apa emangnya?”


“Ayam na tong di goreng wae atuh bosen ade teh, tiap hari makan goreng ayam!”


(Ayamnya jangan di goreng terus bosan ade tuh, tiap hari makan ayam goreng)


“Gak bersyukur kamu mah ah,” Vanessa mengambil ayam goreng di piring adiknya dan memakannya.


“Teteh maahhh,” ucap Riko kesal sambil menyimpan piringnya ke hadapan Vanessa.


Vanessa langsung memakan ayam dengan nasi, tanpa memperdulikan adiknya yang sudah mendelik kesal.


“Eh iya lupa, sana beli nasi padang … nih,” Vanessa memberikan uang lima puluh ribu pada adiknya.


Riko dengan wajah bahagianya menjadi kesal mendengar ucapan kakanya, “Itu uang jajan kamu.”


Vanessa tersenyum mendengar helaan nafas milik adiknya, dia berjalan ke dapur untuk cuci tangan dan melanjutkan makannya.


***


Pukul dua siang Vanessa sedang menonton acara tv yang membosankan matanya dari tadi sudah ingin terpejam namun mendengar suara ketukan di pintunya membuat Vanessa harus bangkit, “Aduh siapa sih ganggu siang-siang gini.”


Wajah mengantuknya berubah menjadi segar setelah melihat pria tampan yang sedang berdiri di depan pintu.


“Selamat siang,” ucap Nathan sambil tersenyum.


“Ngapain ke sini?” tanya Vanessa dengan nada ketus, padahal dia sedang menyembunyikan rasa bahagianya melihat Nathan main ke rumahnya lagi.


“Mau nganterin paket buat Nona Nathan,” ucap Nathan seraya mengangkat dua gelas berisi minuman.


“Eh,” Vanessa menatap sinis pada Nathan. “Di sini gak ada nona Nathan,” jawab Vanessa.


Nathan mencubit hidung Vanessa,” Ini ada di depan ku.”


Vanessa berusaha melepaskan tangan Nathan dari hidungnya, “Lepas ah sakit.”

__ADS_1


Nathan melepaskan cubitannya, “Aku gak di tawari masuk?” tanya Nathan.


Vanessa membuka pintunya lebar-lebar, “Yuk masuk,” ajak Vanessa.


“Papa ada?” tanya Nathan setelah duduk di samping Vanessa.


Vanessa menggelengkan kepalanya, “Gak ada,” jawab Vanessa sambil mematikan televisi.


“Adik kamu?” tanya Nathan lagi.


“Ada lagi di kamar, ngerjain tugas kayanya … ngapain ke sini siang-siang? Kalau mau malam mingguan itu nanti malem.”


Nathan mengeluarkan dua gelas minuman yang dia beli dari depan dan memberikannya pada Vanessa, “Aku mah gak pingin malam mingguan,” jawab Nathan sambil meminum minuman miliknya.


“Oh,” jawab Vanessa singkat.


“Enak juga yah minuman pinggiran gini, green tea nya memang tidak sepekat di kafe tapi enak juga,” nathan mengomentari minumannya.


Vanessa hanya mangut-mangut saja menikmati minuman segar yang di bawa Nathan, terasa sangat melegakan tenggorokannya.


“Besok aku harus pulang ke Jakarta,” ucap Nathan sambil menatap Vanessa.


Vanessa menyimpan minumannya dan menatap Nathan, “Ya pulang aja, emangnya mau ngapain di sini?” tanya Vanessa.


“Kamu mau lanjut S2 di mana?” tanya Nathan tanpa menjawab pertanyaan Vanessa.


“Aku mau kerja aja, cukup gelar SA aja buat cari kerjaan.”


“Kalau jadi karyawan aku mau?” tanya Nathan hati-hati takut menyinggung Vanessa.


“Aku mah gak mau pacaran sama bos sendiri, nanti malah di musuhin karyawan kamu yang lain lagi.”


Nathan tersenyum mendengar kata pacar yang Vanessa maksud, “Emangnya kita pacaran?” tanya Nathan menggoda Vanessa.


Vanessa diam membeku mendengar pertanyaan Nathan, “Bukannya kamu bilang cinta sama aku?”


“Kapan?” tanya Nathan pura-pura lupa.


“Eh masa gak inget waktu di pulau x, dua kali loh,” ucap Vanessa dengan penuh keyakinan.


“Aku gak ingat tuh,” jawab Nathan.


“Isssh,” desis Vanessa dan mengarahkan tubuhnya membelakangi Nathan.


Nathan tersenyum melihat Vanessa yang marah padanya, di peluknya Vanessa dari belakang, “Perasaan ini gak pernah berubah, aku mencintai kamu,” ucap Nathan tepat di telinga Vanessa.


***


Hallo readers semuanya ☺️


Seneng gak liat Nathan sama Vanessa kembali bersama?


Author dapet peringatan dari pihak Noveltoon untuk tidak memasukan foto artis ke dalam cerita jadi untuk kalian yang ingin visualnya nanti aja yah di akhir. Gambarannya Nathan Park Hae Jin dan untuk Vanessa author pilih teteh Isyana Sarasvati, asli dari bandung ini mah.

__ADS_1


Jangan lupa dukung author terus ya biar makin semangat updatenya


Love U all ❤️


__ADS_2