Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 80 (Rel Kreta)


__ADS_3

Pagi itu Vanessa tebangun, dengan pipi memerah kejadian bergulatnya sebagai pemeran utama begitu lancar karena dukungan suaminya. Semalam Nathan melakukannya dengan sangat lembut, apalagi saat Vanessa meringis kesakitan suaminya itu sangat tau cara menenangkannya. Sepertinya Nathan memang menyiapkan ini semua agar malam pertamanya berjalan dengan semestinya.


Melihat Nathan yang masih tidur kesempatan Vanessa untuk segera membersihkan tubuhnya, saat hendak bangkit ada tangan yang menahan pinggangnya, “Mau kemana?” tanya Nathan dengan suara serak khas bangun tidurnya.


“Sayang lepas aku mau mandi,” ucap Vanessa dengan nada memohon.


Nathan menggelengkan kepalanya, dia menarik tubuh Vanessa agar mendekat kepadanya, “Ronde duanya kan belum,” bisik Nathan tepat di telinga Vanessa.


Vanessa rasanya ingin lari dari sana dia ingin jadi mahluk halus saja supaya suaminya itu tidak bisa menemukannya.


 ***


Vanessa diam dengan wajah kesalnya setelah mandi, bagian bawahnya masih terasa sakit akibat ulah Nathan. Setelah selesai berpakaian Nathan menghampiri istrinya yang sedang cemberut, “Sakit banget yah?” tanya Nathan.


Vanessa diam tidak menjawab ucapan Nathan, dia masih ingin marah pada suaminya karena meminta ronde dua. “Yaudah kalau gitu kita sarapan di kamar saja,” ujar Nathan.


Vanessa akhirnya membuka suara, “Tapi aku mau sarapan bubur yang ada di pinggir hotel.”

__ADS_1


“Yang di deket rel kereta itu?” tanya Nathan memastikan.


“Iya waktu aku ke sini sama mami penuh banget di sana itu banyak yang beli kayanya enak, aku mau coba,” ucap Vanessa sambil menampilkan puppy eyes miliknya.


Awalnya Nathan ragu, tapi melihat Vanessa yang mengeluarkan senjatanya membuat Nathan tidak tega untuk menolak keinginan istrinya.


Sepasang suami istri yang tampak serasi beriringan bejalan keluar hotel. Vanessa tau wanita-wanita yang memandang suaminya dengan penuh memuja, dia sebetulnya tidak ingin memamerkan wajah milik suaminya. Nasib punya suami tampan banyak di nikmati kaum hawa, tapi tidak papa yang penting pria di sampinya ini sekarang adalah miliknya.


Tempat penjual bubur itu berada di samping rel kereta api, Vanessa memperhatikan motor yang berjalan perlahan melewati rel kereta yang jalannya tampak tidak rata. Nathan sedang mengantri untuk memesan bubur, sementara Vanessa duduk di kursi yang di sediakan. Palang pintu mulai turun di iringi bunyi keras pertanda kereta akan lewat. Vanessa diam memperhatikan rek kereta, tubuhnya menengang melihat mahluk itu mucul tepat di sebrang rel kereta. Vanessa mencoba mengedipkan matanya namun tidak bisa, dia mencoba memalingkan wajahnya agar tidak melihat mahluk itu tapi tubuhnya tidak bisa di gerakan. Vanessa mencoba mengambil nafas menenangkan dirinya, dia mencoba berteriak memanggil Nathan tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya sedikitpun. 


Mahluk itu kembali menghipnotis tubuhnya, Vanessa mencoba melawan namun tubuhnya tetap mengikuti perintah mahluk itu untuk mendekat ke rel kereta, bunyi tanda kereta akan melintas membuat Vanessa rasanya ingin menangis, “Apa ini akhir dari segalanya,” pikirnya.


Tepat di rel Vanessa mendengar bunyi kreta yang semakin mendekat ke arahnya, dia ingin memejamkan matanya tapi tidak bisa. Dia merasakan tubuhnya di dorong oleh seseorang sebelum kesadarannya hilang.


Nathan mengatur nafasnya dia tidak memperdulikan bunyi bising dari kreta yang melewat tepat di depannya. Setelah kreta itu melewat Nathan mendekati Vanessa yang tidak sadarkan diri, dengan cepat Nathan memeluk tubuh Vanessa. Nathan merasakan sesuatu yang basah di tangannya, ternyata itu darah Vanessa, “Tolong panggilkan ambulan cepat,” teriak Nathan pada orang-orang yang berkerumun melihat keadaan Vanessa.


 ***

__ADS_1


Nathan mondar mandir di depan UGD menunggu dokter yang memeriksa Vanessa, dia terus mengepalkan tanggannya. Kalau tidak ingat sedang berada di rumah sakit dia ingin memukul sesuatu atau membanting barang yang ada di depannya, meluapkan rasa kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga istrinya sesuai janjinya.


Mami yang melihat anaknya tidak diam, dia mencoba mengusap lengan anaknya, “Kamu tenang kita berdoa saja, Vanessa pasti akan baik-baik saja,” ucap Mami.


Dokter keluar setelah satu jam, “Saya harus berbicara serius dengan keluarganya,” ucap dokter.


“Saya suaminya dok,” jawab Nathan


Kebetulan papanya Vanessa dan adiknya sudah pulang ke bandung pagi tadi, dan sedang dalam perjalanan kembali ke ibu kota setelah mendengar kabar buruk dari Niko.


“Mari ikut saya,” ucap Dokter. Nathan mengikuti dokter ke ruangannya.


“Kalau di lihat dari luar lukanya memang tidak terlalu parah, tetapi benturan keras itu merusak bagian sarafnya.”


Tubuh Nathan lemas mendengar ucapan dokter, Nathan menyalahkan dirinya sendiri yang mendorong Vanessa dengan sangat kuat, “Kenapa aku malah mendorongnya tadi kenapa tidaka ku tarik Vanessa,” batinnya dengan satu bulir air mata jatuh melewati pipinya.


 ***

__ADS_1


Besok yah author updatenya ini bab terakhir untuk hari ini, author mau istirshat dulu 🙏


Love u all, sampai jumpa besok ❤️


__ADS_2