Cinta Beda Dunia

Cinta Beda Dunia
Bab 51 (Mirip Bukan Berarti Sama)


__ADS_3

4 bulan berlalu begitu cepat, Vanessa sudah tidak mendapatkan kiriman bunga atau sejenisnya lagi. Acara wisudnya sudah di selenggarakan kemarin, Pagi itu papanya sedang menikmati sarapan bubur yang Vanessa beli dari depan.


Sarapannya sudah habis Vanessa memainkan ponselnya, “Kamu beneran Teh  gak akan ikut pulang dulu ke bandung?” tanya Papanya.


Vanessa melirik papanya yang meminum kopi hitam, “Enggak Pah, nanti aja pulangnya kalau urusan kuliah udah beres.”


“Kamu mah kaya gak kangen sama keluarga, waktu kuliah jarang pulang. Udah lulus juga gak mau pulang,” ucap Papanya dengan nada sedih.


“Bukan gak mau pulang Pah tapi ….” Vanessa menghentikan ucapannya karena ponselnya bergetar tanda pesan masuk, “Eh ngapain Pak Niko kirim pesan. Kan akunya juga udah lulus gak usah bimbingan lagi?”


 Vanessa membuka pesan yang di kirim oleh dosennya, “Saya mau ke temu kamu di Kafé dekat kampus jam empat sore. Saya tunggu!” Vanessa mengrenyitkan dahinya setelah membaca isi pesannya.


“Eh kamu mah yah di ajak ngobrol the malah main hp, jawab atuh tapi kenapa tadi.” Ucapan Papanya membuat Vanessa mengalihkan perhatiannya dari ponsel.


“Besok Vanessa pulang,” jawab Vanessa sambil tersenyum pada Papanya.


“Beneran? Itu si Riko adik kamu nanyain terus.”


Vanessa mengrenyitkan dahinya, “Tumben ngapain nanyain aku pulang?”


“Katanya mau minta bantuan bikin laporan prakerin,” jawab Papanya sambil memakai jaket.


“Eh kirain kangen beneran, ternyata ada maksud terselubung,” ucap Vanessa kesal.


“Ya gak papa atuh teh, bantuin adik sendiri.”


“Iya bilang besok teteh pulang langsung di bantuin,” ucap Vanessa mengalah.


“Teh cowo yang kemarin salaman sama Papah siapa … pacar teteh?”


Vanessa mengingat-ingat cowok yang bersalaman dengan Papanya, “Oh, si Dion?” tanya Vanessa.


“Iya Dion, beneran pacar teteh meni curi-curi pandang wae ka teteh.”


Vanessa tersenyum melihat Papanya yang terlihat kesal, Papanya itu memang tidak suka jika ada laki-laki yang mendekatinya, “Bukan Pah, itu mah Cuma temen aja.” 


“Ya syukur atuh kalau Cuma teman mah,” jawab Papanya dengan mengambil tas gendong.


“Papa yakin mau pulang sekarang? Ini masih pagi Pah.”


“Sekarang aja takut macet kalau siang.”


Vanessa memperhatikan Papanya yang sudah rapi dengan menggunakan jaket dan sepatu.


“Yaudah hayu atuh teteh anter ke depan.”


Vanessa membawakan helm milik papanya, dan berjalan di belakang papanya, “Papa hati-hati yah,” ucap Vanessa sambil mencium punggung tangan Papanya.

__ADS_1


“Kamu jaga diri di sini, jangan terbawa pergaulan bebas ibu kota.”


“Iya Pah,” jawab Vanessa.


“Awas we kalau pulang-pulang berbadan dua,” ucap Papanya sambil menatap Vanessa serius.


“Si Papa ngomongnya kemana aja ih, gak suka teteh mah ah,” ucap Vanessa kesal.


“Bener ya besok pulang Papa tunggu.”


“Iya besok teteh pulang,” jawab Vanessa.


“Jaga diri yah. Kalau nanti gak punya ongkos buat pulang telpon Papa,” ucap Papanya sambil menyalakan motornya.


Vanessa hanya menganggukan kepalanya, melihat motor Papanya yang mulai melaju meninggalkan halaman kosannya.


 ***


Sore itu Vanessa sudah siap untuk bertemu dosennya, seperti biasa dia berjalan kaki untuk sampe ke kafé di dekat kampus. Saat memasuki kafe Vanessa mengedarkan pandangannya mencari Niko. Nampaknya  Niko belum datang, dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, “Baru lewat lima menit, bentar lagi juga datang kayanya.”


 Selama di bing-bing oleh Niko Vanessa sudah tau kebiasaan dosen galaknya itu. Pria itu tidak akan pernah datang terlambat sesuai jam yang di janjikan, paling telat sepuluh menit dosennya itu selalu on time.


Vanessa memilih duduk di meja yang dekat jendela. Bosan menunggu Vanessa memilih memainkan ponselnya. Tidak lama terdengar suara kursi di depannya bergeser, Vanessa mengangkat kepalanya untuk melihat dosennya yang datang.


Tubuhnya menegang seketika melihat Pria yang duduk di depannya, di telitinya setiap inci dari wajah dosennya. “Bapak ngapain pake cukur alis segala?” tanya Vanessa marah.


“Lepas Pak!” Vanessa menarik tangannya dan berjalan meninggalkan Niko yang masih mematung di tempatnya.


Vanessa berjalan dengan tergesa meninggalkan café itu, dengan perasaan marah. Dia tidak menyangka dosennya itu akan berpenampilan persis seperti Nathan. Dia kira kedekatannya dengan dosennya itu hanya sebagai mahasiswi dan dosennya, Vanessa tidak suka melihat Niko yang berpenampilan seperti Nathan untuk pertama kalinya.


Flashback


Vanessa dan Niko sudah mulai dekat, seperti pada teman sebayanya tidak seperti dosen dan mahasiswi.  Vanessa mulai merasa nyaman saat dosennya itu tidak pernah ketus ataupun marah-marah lagi padanya. 


Sabtu sore seperti biasa Vanessa melakukan bingbingan skripsinya. Skripsinya hampir selesai karena satu minggu lagi sidang akan di mulai. Vanessa memperhatikan Niko yang sedang fokus membaca skripsi miliknya.


“Udah bagus sih, tapi kurang memuaskan bagian penutupnya. Nanti kamu perbaiki, kirim lewat email saja perbaikannya.”


“Baik Pak,” jawab Vanessa.


“Ngomong-ngomong Nathan itu siapa?”


Vanessa mengrenyitkan dahinya merasa heran pada dosennya, ini untuk pertama kalinya pria itu menanyakan soal Nathan, “Kenapa memangnya Pak?” Vanessa malah balik bertanya.


“Saya penasaran saja, kenapa kamu memeluk saya tiba-tiba waktu itu dan mengira saya Nathan,” ujar Niko dengan santai meminum green tea pesanannya.


Vanessa tersenyum malu, “Haduh bapak ko jadi bahas itu.”

__ADS_1


“Jawab saja, sampai sekarang saya masih penasaran.”


Vanessa diam sejenak, dia bingung harus mulai dari mana menceritakannya. Soalnya dosenya tidak mungkin menerima cerita yang tidak masuk akal di telinga orang yang tidak percaya dengan hal diluar nalarnya.


“Haduh gimana ya Pak,” ujar Vanessa.


“Ceritakan saja, saya ingin tau,” Niko tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


“Nathan itu bukan manusia Pak,” Vanessa mulai membuka suaranya setelah lama terdiam.


“Saya menyebutnya arwah penasaran awalnya … dia meminta saya untuk membantunya menemukan seseorang yah telah membunuhnya.”


Niko menaikan satu alisnya mendengar ucapan Vanessa, namun dia diam mencoba menyimak tanpa berkomentar.


“Tapi ternyata dia belum mati, katanya dia koma … setelah saya menemukan orang yang membunuhnya tiba-tiba arwahnya hilang … saya coba datang kerumahnya, namun yang saya liat banyak papan bunga yang memenuhi pekarangan rumahnya.” Vanessa mencoba tersenyum menutupi kesedihannya.


“Sepertinya kamu mencintai pria itu?” tanya Niko.


Vanessa menyeka air matanya yang jatuh, “Banyak yang kami lalui bersama Pak,” jawab Vanessa singkat.


“Mirip sekali memang dengan saya?”


Vanessa mencoba mengingat-ingat wajah Nathan, “Sekilas mirip pak, Cuma kalau di teliti berbeda … Nathan itu rambut depannya ke arah kiri kalau bapak ke kanan. Hidungnya lebih mancung punya Nathan pak … terus alis Nathan itu rapi tidak berantakan seperti punya bapak.”


Niko hanya tersenyum mendengar perbedaan yang Vanessa berikan tentang dirinya dan Nathan, “Anak ini masih ingat ternyata,” batin Niko.


“Udah ah pak, jangan bahas soal Nathan lagi,” ujar Vanessa.


“Kenapa memangnya?” 


“Saya takut di hantui lagi sama dia, apalagi dia sudah beneran meninggal. Saya takut dia datang lagi hehe,” Vanessa terkekeh karena ucapan yang asal keluar dari mulutnya.


“Bukannya bagus, kalian bisa merangkai kisah asmara kalian lagi?”


“Udah ah pak, dia udah tenang di alamnya jangan di ganggu.” Vanessa mengambil stabilo di dalam tasnya, “Tandai ya Pak, yang harus saya perbaiki.”


Flashback off


 ***


Ada niat apa yah sampai-sampai Niko pingin terlihat mirip Nathan?


Selamat pagi semuanya ☺️


Jangan lupa dukung author ya lewat vote, like dan komentar.


Sampai jumpa di bab selanjutnya❤️

__ADS_1


__ADS_2