
Udah author kasih nih double up 😁
Jangan lupa vote, like sama komentarnya ya
Niatnya ini bab buat besok pagi, tapi demi kalian author up sekarang. mudah-mudahan kekejar ya up buat besok.
terimakasih atas dukungan nya, author sayang kalian deh 😍❤️
***
Putri dan Vanessa sampai di alamat yang di kirim Ucup, “Beneran ini?” tanya Vanessa.
“Iya di sini kok, itu nomor rumahnya sama,” jawab Putri sembari menunjuk nomor rumah yang menggantung di pintu.
“Permisi,” ucap Vanessa seraya mengetuk pintu dengan perlahan.
Tidak lama pintu terbuka dan tampak pria paruh baya yang tersenyum pada mereka, “Mau cari siapa ya?”
“Ini Pak kita mau ketemu Bapak Andi yang bisa buka mata batin,” ujar Putri.
“Oh neng mau buka mata batin?” tanya Bapaknya.
“Eh bukan saya pak, ini teman saya,” Putri menunjuk Vanessa.
“Masuk dulu neng, tunggu sebentar ya.”
Vanessa melihat Pak Andi yang berlalu masuk ke dalam, dia meneliti isi rumah yang Nampak berantakan. Banyak buku-buku, serta keris dan pedang di atas meja. Banyak tempelan di dinding yang bertuliskan aksara sunda, tapi Vanessa tidak mengerti tulisannya karena dia memang tidak tertarik mempelajarinya meski dia asli orang sunda.
“Neng yang mau di buka mata batin nya yah?” tanya Andi pada Vanessa.
Vanessa mengangguk dan tersenyum ramah pada Pak Andi. Di lihatnya Pak Andi membawa satu gelas air putrih dan di berikannya pada Vanessa.
“Minum dulu neng.”
Vanessa hanya meminum beberapa teguk, “Tutup matanya neng!” Vanessa mengikuti perintah Pak Andi.
__ADS_1
Vanessa tidak merasakan apapun, hanya terdengar mulut Pak Andi yang komat kamit sedang membaca mantra.
“Di pengan tangan temannya neng,” ucap Pak Andi pada Putri.
Vanessa merasakan Putri yang menggenggam tangannya erat, “Ambil nafas dulu neng, habis itu buka perlahan matanya.” Vanessa kembali mengikuti komando Pak Andi. Saat membuka matanya perlahan Vanessa melihat sosok tinggi besar yang penuh dengan bulu di belakang Pak Andi. Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Vanessa, dia mencoba tenang dan mengambil nafas, namun sosok itu terus menatap Vanessa dengan ekspresi yang mengerikan.
Melihat reaksi terkejut Vanessa Pak Andi kembali menyuruhnya untuk meminum air yang di berikannya tadi.
Putri meringis merasakan genggaman tanggan Vanessa yang sangat erat di tangannya, “Haduh ini mah tanganku harus di urut habisnya,” ucap Putri di dalam hatinya.
Vanessa dengan tagan gemetar kembali meminum air yang di berikan Pak Andi, di lihatnya mahluk itu masih ada di belakang Pak Andi.
“Coba rileks aja neng, gak usah tegang gitu mereka tidak akan mengganggu selama neng tidak mengganggu mereka,” Ujar Pak Andi.
“Baik Pak,” ucap Vanessa dia melirik ke arah Putri dan mengajaknya pulang lewat sorot matanya.
Putri yang mengerti langsung mengambil amplop yang sudah dia sediakan untuk upah Pak Andi. “Kalau begitu saya pamit Pak, terimakasih,” ucap Putri sambil menyerahkan amplop.
Vanessa dengan cepat menarik Putri keluar dari rumah Pak Andi, tubuhnya sudah penuh dengan keringat dingin. Belum sampai ke ujung jalan Vanessa kembali melihat wanita dengan rambut panjang sampai mengenai kakinya, baju nya sangat kotor, dia bergidik ngeri. “Kenapa mereka selalu menatapku,” batin Vanessa, Vanessa merinding saat mendengar suara tawa mengerikan yang keluar dari wanita itu sambil melayang mendekat.
“Gue mau nutup mata aja, tuntun gue jalan yah,” pinta Vanessa sambil menutup matanya.
Putri mengerti kondisi Vanessa yang ketakutan. Di tuntunya Vanessa sampai ke luar dari gang, “Bentar yah kita pesen taxi online aja,” Usul Putri.
Vanessa hanya mengangguk pasrah bayangan tadi terus menghantui kepalanya, dia berusaha tenang dan menghilangkan pikiran itu.
Sampai di kosan Vanessa masih enggan membuka matanya, Putri sangat merasa bersalah melihat wajah Vanessa yang pucat pasi, di tuntunnya Vanessa ke kamar Putri yang lebih dekat. “Kita udah sampai di kamar gue, lo buka perlahan mata lo yah,” ucap Putri sambil mengajak Vanessa duduk di atas tempat tidurnya.
Sampai di kosan Vanessa membuka matanya, dia lupa membukanya perlahan saat di lihatnya sosok yang sedang duduk di meja belajar Putri, Vanessa terlonjak kaget wanita berbaju merah itu menatap Vanessa tajam sepertinya dia tidak suka karena Vanessa bisa melihatnnya. Tangannya kembali bergetar dia melirik Putri, “Kita ke kamar gue aja yu,” lirih Vanessa. Rasanya tenanganya habis padahal dia baru saja makan dengan Putri tapi dengan banyak sosok yang di lihatnnya membuat tubuh Vanessa lemas.
Putri menganggukan kepalanya dan berjalan ke luar kamar dengan Vanessa. Baru saja melangkah Putri melihat Vanessa yang lari terbirit-birit, “Astaga anak itu liat apa lagi,” Batin Putri.
“Lo liat apa?” tanya Putri penasaran.
Di lihatnya Vanessa yang sedang minum dengan tergesa-gesa, Vanessa minum hampir lima gelas, Putri khawatir dan menarik lengan Vanessa untuk mengikutinya duduk, “Lo atur nafas lo, ada gue di sini lo gak usah takut,” Putri kembali menggenggam tangan Vanessa.
__ADS_1
“Coba sekarang lo cerita!”
Vanessa mengambil nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, “Ini mah beneran Put lebih serem dari pada waktu kita di kerjain Nathan,” ucap Vanessa serius.
“Kaya gimana dong gue pingin tau?” tanya Putri antusias.
“Itu si Pak Andi … beuh body guardnya,” ucap Vanessa sambil bergidik ngeri.
“Mana body guard nya gak liat gue?”
“Tinggi … gede … item lagi sok bayangin, berdiri di belakangnya natep gue lagi!” Perintah Vanessa.
Putri malah cengengesan bukannya takut, Vanessa memukul lengan Putri pelan, “Lo bayangin apa malah cengengesan?” tanya Vanessa kesal.
“Aduh ini lagi gak fokus maaf-maaf,” ucap Putri sambil tersenyum kikuk, “Yang ada di otaknya itu tinggi besar dia malah bayangin anu yang dia tontonnya semalam.
“Aduh ini mah si Putri gak patut di contoh ya teman-teman, jangan coba-coba nonton anu gak baik!” Author Cuma bisa geleng-geleng kepala liat kelakuan ini anak, “Maafkan ya.”
“Eh ngomong-ngomong gue kok belum liat Nathan,” Vanessa mengedarkan padangannya mencari sosok Nathan.
“Serius lo belum liat Nathan?” tanya Putri.
Melihat anggukan kepala Vanessa Putri mencoba menyemangati Vanessa, “Besok kita ke kampus aja, siapa tau Nathan lagi di sana pacaran sama cewe penunggu toilet,” ucap Putri asal.
Vanessa memukul lengan Putri dengan tas kecil di sampingnya, “Jangan sembarangan ngomong lo!”
“Cieee cemburu cieeee,” ucap Putri dengan senyum mengembang menggoda Vanessa.
***
Hayo siapa yang udah gak sabar liat Nathan sama Vanessa lagi?
Acungkan tangan di kolom komentar ya.
Sampai jumpa di bab selanjutnya 😘
__ADS_1