
“A-aku.”
Belum sempat Nathan melanjutkan ucapannya terdengar suara Agung berteriak, “Kita sudah sampai.”
“Jelaskan,” rengek Vanessa, tanpa memperdulikan ucapan Agung.
“Nanti Aku jelaskan,” ucap Nathan sambil mengecup pipi Vanessa sebentar.
Vanessa meraba pipinya yang barusan di kecup Nathan, “Aah kenapa Nathan jadi so sweet gini,” batin Vanessa dengan pipinya yang bersemu merah.
Kenapa kak Vanessa malah diam saja, “Ayo kak!,” ajak Agung setengah berteriak.
Vanessa melirik Agung yang barusan meneriakinya, “Iya ayo,” sahut Vanessa, dan berjalan mendekati Agung lalu menggendong tas besarnya.
Mereka berjalan beriringan sampai di darat, “Kaka sudah pesan penginapan?” tanya Agung.
Vanessa menganggukan kepalanya, “Sudah.”
“Oke kalau begitu kami pamit duluan ya kak soalnya takut Tuan menunggu,” Pamit Agung dengan Pak Budi.
Vanessa tersenyum kearah mereka, “Terimakasih atas tumpangannya,” ucap Vanessa ramah.
__ADS_1
Vanessa merogoh ponselnya yang ada di tas kecil miliknya, membuka aplikasi petunjuk jalan.
“Ngapain masih berdiri di sini?” tanya Nathan melihat Vanessa yang malah diam membuka ponselnya.
“Ini aku kan gak tau jalan menuju penginapan,” ucap Vanessa masih fokus pada ponselnya tanpa melihat Nathan sedikit pun.
“Kan ada aku,” Nathan meraih dagu Vanessa agar menatapnya.
Vanessa tersenyum menampakan deretan gigi putihnya, “Aku lupa,” ujar Vanessa.
Nathan meraih tangan Vanessa, menuntunya agar mengikutinya berjalan.
Nathan menaikan satu alisnya melihat tingkah Vanessa yang senyum-senyum sendiri seperti orang tidak waras sambil menatap tangannya, “Astaga,” ucap Nathan terkejut sambil melepaskan pegangan tangannya.
Vanessa memasang wajah terkejutnya saat tiba-tiba Nathan melepaskan tangganya dengan cepat, “Kenapa?” tanya Vanessa bingung melihat Nathan yang terlihat membersihkan tangannya pada Air di pantai itu.
“Aku lupa tangan mu kotor,” sindir Nathan dan kembali membersihkan tangannya.
Vanessa mendekati Nathan dan ikut berjongkok di samping Nathan, menunjukan kedua tangannya pada Nathan, “Mana ini bersih,” ucap Vanessa kesal.
“Tanganmu kotor, karena sudah berani mengambil uang puluhan juta di rumah orang lain.”
__ADS_1
Vanessa menatap Nathan tajam dan meninggalkan Nathan sendirian di pinggir pantai, Vanessa sungguh kesal pada sindiran Nathan, “Jelas-jelas dia yang menyuruhnya, kenapa jadi aku yang di salahkan,” ucap Vanessa menggerutu.
Tidak jauh dari tempatnya Vanessa melihat sebuah penginapan yang terlihat dari bibir pantai. Vanessa berjalan memasuki penginapan dan bertemu dengan penjaga di sana.
“Selamat siang Nona, Ada yang bisa di bantu?” sapa resepsionis dengan senyum ramahnya.
Vanessa memperhatikan wanita di depannya yang terlihat muda, Vanessa memlihat name tag yang di gunakan perempuan itu ternyata namanya Ayu, mungkin umurnya baru 17 tahun, “Sesulit apa sih perekonomian di sini, kok banyak sekali anak muda yang bekerja di pulau ini,” batin Vanessa.
“Nona,” panggil Ayu kemabali karena tidak mendapat respon dari Vanessa.
Vanessa tersadar dari lamunanya, “Ini saya sudah booking kamar atas nama Vanessa Anjelina.”
Ayu nampak mengecek layar komputer di depannya, “Sebentar Nona biar saya cek dulu.”
Vanessa memperhatikan Ayu yang mengambil kunci dari salah satu laci di mejanya, “Mari Nona saya antar,” Ayu berjalan lebih dulu dan Vanessa mengikutinya dari belakang.
Sampai di kamar nomor 87, Ayu membuka kuncinya dan mempersilahkan Vanessa masuk, “Jika ada perlu apa-apa, Nona cukup menekan nomor 1 di telpon dan langsung tersambung pada meja resepsionis.”
Vanessa mengangguk mengerti, “Kalau begitu saya permisi nona,” ucap Ayu ramah dan menutup pintu kamar Vanessa.
Melihat pintunya yang tertutup Vanessa merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur, “Cape juga ternyata,” keluh Vanessa.
__ADS_1